Pernyataan Sikap Forum Negarawan Muda Terkait Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

*Pernyataan Sikap Forum Negarawan Muda Terkait Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya*

“Betapa berat rasa di hati, ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan”
(Hasan Al-Banna)

Bumi manusia kembali menangis, kala nurani tak lagi terpanggil, kala logika tak lagi logis. Hari ini, ribuan nyawa telah terenggut dan jutaan nyawa menggigil takut. Para penguasa itu berkata bahwa mereka ilegal dan harus dibersihkan dari bumi Myanmar. Mereka menyebut kaum ilegal itu etnis Rohingya. Telah banyak informasi dan bukti nyata bahwa etnis Rohingya telah diperlakukan tak manusiawi. Sungguh, ini tak lagi tentang politik, ekonomi, apalagi agama semata, tapi ini tentang kemanusiaan.

Atas kejadian tersebut, kami, Forum Negarawan Muda menyatakan sikap:

1. Mengecam keras tindakan dari pihak-pihak yang terlibat dalam penyerangan, penindasan, dan pembantaian terhadap etnis Rohingya.
2. Mendesak Pemerintah dan Militer Myanmar untuk segera menghentikan penyerangan, penindasan, dan pembantaian terhadap etnis Rohingya.
3. Meminta Presiden Joko Widodo beserta jajaran pemerintahan Indonesia, Negara ASEAN, dan PBB untuk segera turun tangan mendesak Pemerintah Myanmar agar menghentikan tindakan kejahatan brutalnya terhadap etnis Rohingya.
4. Mengajak seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai elemen untuk turut mendoakan keselamatan etnis Rohingya serta memberikan bantuan baik secara moral dan materil kepada etnis Rohingya. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya balasan.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (Ali-Imran : 169)

Semoga Allah berikan kekuatan kepada saudara kita Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

___________________
Jakarta, 7 September 2017

Ketua Umum
Arif Suhendar

– Atas nama *Forum Negarawan Muda*

 

FNM11

Momentum Lahirnya Pahlawan Negeri

Oleh : Rizky Yudo Atmaja – STT Terpadu Nurul Fikri

Ketua PD FNM Jabodetabek 2016

Hari ini, hiruk-pikuk demokrasi mulai terdengar di segala sisi. Mendadak orang yang tidak pernah membicarakan politik menjadi pakar dan candu tersebut dengan mudah ditularkan ke orang lain. Mungkin karakter tersebut lahir atas dasar kebutuhan rakyat Indonesia saat ini, karena tidak sampai tiga bulan lagi akan diadakan pilkada serentak di tujuh provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota sebagaimana disampaikan KPU RI pada konferensi persnya sembilan bulan lalu[1]. Berdasarkan hasil data tersebut, sepertinya rahim demokrasi akan lebih cenderung melahirkan pola pikir yang solid untuk memilih calon pahlawan barunya di Provinsi Aceh, karena di sana akan diadakan pemilihan 21 kepala daerah.

Namun, hari ini saya tidak ingin membicarakan soal pilkada. Ada hal lain yang tidak kalah menarik perhatian saya saat ini, yaitu pemilihan raya untuk pergantian masa kepemimpinan organisasi mahasiswa di Indonesia. Hampir semua kampus sedang menjalankan proses tersebut dan mencari siapa tokoh mahasiswa di kampusnya yang memiliki naluri kepahlawanan dan akan melanjutkan estafet perjuangan seniornya. Apakah kampus yang hanya terdapat calon tunggal itu berarti seluruh mahasiswa (di angkatannya) tidak memiliki naluri kepahlawanan? Ataukah para calon yang tidak lolos verifikasi tidak layak menjadi pahlawan?

Memupuk Pohon Pahlawan

Bicara tentang naluri kepahlawanan, maka kita akan dipaksa untuk memperdalam insting kita sebagai manusia. Allah berfirman, tertulis pada Al Baqarah ayat 30, bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Khalifah dapat juga diartikan sebagai penerus perjuangan sebelumnya, yaitu penerus Rasulullah. Berdasarkan pemahaman tersebut, secara otomatis tanggung jawab dakwah Rasulullah juga akan sampai kepada kita. Minimal untuk bisa menumbuhkan naluri kepahlawanan dan bermanfaat untuk orang lain sebagaimana yang beliau miliki. Dalam hidup seorang pahlawan, tantangan adalah makanan yang sangat bergizi dan dikonsumsi setiap hari. Itu adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi, hal tersebut merupakan sebuah inner power yang insyaAllah akan berguna dalam kehidupan kita. Mengambil sedikit kutipan dari Anis Matta, bahwa tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.

Naluri kepahlawanan mungkin bisa diartikan dalam bentuk lain, seperti kepekaan sosial. Pada dasarnya naluri kepahlawanan berfungsi agar seorang manusia mampu bersikap sebagai pahlawan, yaitu menjadi manusia super yang bisa menyelesaikan masalah dan membantu orang banyak. Mari kaitkan sebentar dengan makna mahasiswa (yang katanya) sebagai Agent of Change. Sejak dibentuknya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, peristiwa Rengasdengklok, bahkan sampai runtuhnya Orde Baru, mahasiswa punya peran yang signifikan dalam setiap periode perubahan yang hadir di Indonesia. Lantas, apa yang bisa dilakukan mahasiswa saat ini jika sepercik naluri kepahlawanan tidak hadir dalam hati mereka? Melewatkan begitu saja proses pengawalan pilkada serentak hanya karena momentum regenerasi, sibuk membicarakan event internal kampus lalu lupa kontribusi ke masyarakat, atau bahkan asik nongkrong-nongkrong dan main game daripada menganalisa dan mendobrak perbaikan dari segala aspek yang merugikan masyarakat. Indonesia tidak sedang baik-baik saja, bung! Indonesia butuh lebih banyak pahlawan yang bisa melindungi rakyatnya.

Setelah naluri kepahlawanan tertanam kokoh di dalam diri kita, tugas berikutnya adalah menumbuhkan batang kepahlawanan tersebut. Lagi-lagi meminjam istilah Anis Matta dalam bukunya yang berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia”, beliau menganalogikan naluri itu sebagai akar pohon dan batangnya adalah keberanian. Keberanian ia sebut pula sebagai aspek ekspansif seorang pahlawan, dan pada aspek defensifnya seorang pahlawan memiliki kesabaran. Kedua hal inilah yang nantinya akan terus saling bersinggungan bersama elemen lain yang sering disebut risiko. Dalam beberapa kondisi, seorang pahlawan akan mendapatkan posisi dengan tekanan yang sangat perih. Itu adalah bukti dari pepatah kuno Belanda, Leiden is lijden, memimpin adalah menderita. Nabi Muhammad menjadikan bukti penderitaan tersebut sebagai motivasi sesuai dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” Dari sana bisa ditarik kesimpulan, sejatinya penderitaan itu hanya muncul di awal. Setelahnya, kita akan menerima sebuah kepuasan yang tak tergantikan. Kepuasan yang muncul adalah bayaran yang sepadan dengan pengorbanan seorang pahlawan tersebut. Kepuasan saat melihat senyum dari masyarakat yang tertolong berkat kerja keras kita sebagai seorang pahlawan. Memetik beberapa kalimat dari Syakib Arsalan, seorang penulis asal Suriah, beliau menyebutkan bahwa orang-orang barat lebih banyak berkorban daripada kaum muslimin karena mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum muslimin bagi agamanya. Saya rasa tidak perlu dipaparkan secara eksplisit bagaimana fakta di lapangan karena sudah menjadi rahasia umum. Inilah sebuah refleksi bagi kita, apakah kita sudah benar-benar menumbuhkan pohon kepahlawanan dalam hidup kita atau belum.

 

Kemanjaan Pahlawan Bukanlah Sebuah Kenistaan

Sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, paradigma yang dibangun sejak kecil tentang pahlawan adalah sesosok manusia yang pemberani dan selalu siap mengambil risiko. Memang tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Pada serial super hero fiksi yang diterbitkan oleh Marvel, digambarkan beberapa kali sosok Iron Man yang butuh hiburan atau memanjakan dirinya melalui kekayaan yang dia punya. Begitu pula Hawk Eye saat selesai bertugas bersama The Avengers dan pulang ke rumah untuk bermanja bersama istri dan anaknya. Hal tersebut bukan berarti mereka adalah pahlawan yang lemah dan mudah ditaklukan, tapi terdapat ruang kosong di dalam hatinya yang harus diisi. Gambaran di sana mencitrakan bahwa pahlawan juga butuh waktu untuk bermanja dengan hal-hal yang dia sukai setelah mempertaruhkan jiwa raganya.

Agar terlihat lebih nyata dan logis, kita berpindah ke sosok manusia yang nyata, Nabi Muhammad, pemuda yang menjadi panutan untuk seluruh umat Islam di dunia. Tampak jelas sisi kemanjaan beliau saat pertama kali mendapatkan wahyu yang secara tidak langsung meresmikan kerasulan beliau. Respon pertama yang didapatnya adalah gemetar, takut, dan berselimut dengan penuh kecemasan. Saat itulah Khadijah memanjakan dan kembali menguatkannya. Fakta lainnya, siapa yang akan menyangka sosok laki-laki spektakuler tersebut saat beristirahat di rumah selagi tidak ada panggilan jihad, ia berbaring di pangkuan Aisyah sembari disisiri rambutnya. Mesra dan sangat membuat iri. Tapi beliau pahlawan Islam, dan sah-sah saja. Bahkan sekelas Umar bin Khattab yang dikenal garang, keras, dan agresif juga sering bermanja dengan istrinya sesuai dengan kesaksiannya, “Jadilah engkau seperti bocah di depan istrimu.”

Kesimpulannya, seorang pahlawan yang bermanja ria itu bukanlah sebuah hal yang tabu. Asalkan tidak terlena dan hanya sebagai peristirahatan sementara untuk kembali berjuang demi rakyatnya. Kemanjaan di sini berbeda dengan sikap melankolis yang berlebihan. Sikap di mana terlalu mengedepankan egoisme emosi pribadi tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di muka publik. Meskipun atas nama cinta.

Akan Segera Lahir

Mudah saja, pahlawan akan lahir jika Allah menghendakinya. Sebuah rezim yang buruk ada karena kuasa-Nya, begitu pula kehadiran orang yang akan membenahinya. Akan tetapi, jika hal itu menjadikan alasan kita berdiam diri, maka itu kesalahan yang fatal. Peristiwa penghancuran Uni Soviet (Peradaban Timur) oleh Amerika Serikat (Peradaban Barat) tidak serta-merta terjadi begitu saja, prosesnya sangat panjang. Bahkan setelah musuh abadinya hancur, kini Amerika (sepertinya) memupuk musuh baru dengan peradaban lain, yaitu Peradaban Islam[2]. Tampaknya pada tahun 2016 eskalasinya sudah hampir memuncak dan akan segera dikibarkan bendera deklarasi perang dengan Islam dalam beberapa tahun ke depan. Semoga tidak benar-benar terjadi.

Begitu pula dengan peradaban pergerakan mahasiswa di Indonesia. Soekarno-Hatta memerdekakan Indonesia tidak dalam satu hari. Runtuhnya Orde Baru tidak sesimpel menduduki gedung DPR/MPR RI. Sebuah kesalahan besar jika kita lebih memilih diam dan menunggu ada orang lain yang lebih baik dari kita untuk ambil bagian dalam perjuangan ini. Justru seharusnya kitalah yang turun tangan dalam estafet perjuangan berikutnya. Kita tidak butuh menjadi ahli terlebih dahulu, hanya sedikit naluri kepahlawanan untuk mendobrak sebuah perubahan bagi masyarakat. Bersiaplah untuk terlahir kembali sebagai pahlawan negeri dan merawat Indonesia.

 

Depok, 23 November 2016

[1] http://pilkada.liputan6.com/read/2436435/ini-101-daerah-yang-gelar-pilkada-serentak-2017

[2] Gerges, Fawaz A. 2002. Amerika dan Politik Islam: Benturan Peradaban atau Benturan Kepentingan. Jakarta: AlvaBet

Pengumuman Hasil Seleksi Peserta School for Nation Leaders 2 – Jakarta

Selamat kepada 250 calon peserta terpilih pelatihan School for Nation Leaders 2 “Pemimpin Muda Prestatif Kontributif

Berikut ini adalah Hasil Seleksi Peserta School for Nation Leaders 2 :

FNM Sulawesi

No. Nama Lengkap Universitas
1 Hasrullah UIN Alauddin Makassar
2 Nurul Fadilla Utami Universitas Halu Oleo
3 Derick Christopher Universitas Halu Ole
4 Mutmainnah Sari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
5 Afdalis Universitas Hasanuddin
6 Adriani Universitas Negeri Makassar
7 Hasniar Anwar Universitas Hasanuddin
8 Muhammad Ikbal Universitas Negeri Makassar
9 Hasniar Anwar Universitas Hasanuddin
10 Arman Universitas Muhammadiyah Makassar
11 Ummu Khaerah Irsyam  UIN Alauddin Makassar
12 Zulfikar Islahqamat Universitas Hasanuddin
13 Akbar. M Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
14 Andi Nur Fitrah Universitas Hasanuddin
15 Muhammad Yunus Universitas Hasanuddin
16 Muhammad Syafaat Universitas Tadulako
17 Darmayanti Haedar Universitas Hasanuddin
18 Chairil Anwar  PPS UMI Makassar
19 Elika Niquisa Anggraini  UIN Alauddin Makassar
20 Indrawan Universitas Negeri Makassar
21 Bagus Wawan Setiawan Universitas Hasanuddin
22 Sulaiha Tahir Universitas Hasanuddin
23 Jamaluddin Gesrianto Universitas Negeri Makassar
24 Algha Sanjaya Universitas Negeri Makassar
25 Sarwinda Universitas Negeri Makassar
26 Irwansyah Universita Negeri Makassar
27 Tauhidah Bachtiar Universitas Negeri Makassar
28 Handiswan Universitas Negeri Makassar
29 Abd. Akbar  STMIK Dipanegara Makassar
30 Fadhil Syam
31 Muhammad Afdal Universitas Hasanuddin
32 Muhammad Arifai Universitas Hasanuddin
33 Widya Suryati Sukri Universitas Muhammadiyah Makassar
34 Hardianti Hafid Universitas Hasanuddin
35 Nuraima Rahma Universitas Negeri Makassar
36 Kami Sahrudin Universitas Tadulako

 

FNM Jakarta-Jawa Barat-Banten

No. Nama Lengkap Universitas
1 Arif Nurrahman Institut Teknologi Bandung
2 Mochamad Indra Safwatulloh Universitas Padjadjaran
3 Micky Andrea Yunus Universitas Pendidikan Indonesia
4 Muhammad Fadhil Institut Teknologi Bandung
5 Ayi Muttakin Institut Teknologi Bandung
6 Ahmad Wirantoaji Nugroho Institut Teknologi Bandung
7 Rio Feisal Ramadhan Universitas Padjadjaran
8 Andri Hapsoro Institut Teknologi Bandung
9 Dicky Sofian Prabowo Institut Teknologi Bandung
10 Muhammad Riyandi Firdaus Universitas Lambung Mangkurat
11 Dicky Budiman Universitas Pertahanan
12 Gerry Hermandes Institut Pertanian Bogor
13 Saifan Rizaldy Universitas Indonesia
14 Riza Wahyudi STT Terpadu Nurul Fikri
15 Muhammad Ihsan Maulana Universitas Pancasila
16 Reza Gunawan STKIP Garut
17 Yogga Mar Muhammad STKIP Garut
18 Garlanda Bellamy Mazalio Universitas Bakrie
19 Muhammad Miftah Surya University
20 Wawan Solihin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
21 Achmad Alfian Syah Universitas Paramadina
22 Frans Fernandes President University
23 Nur Muhammad Firmansyah Universitas Negeri Jakarta
24 Yordan Thezauza Universitas Sriwijaya
25 Dedi Alnando Universitas Riau
26 Muhammad Ayub Qonaa Mukti Politeknik Keuangan Negara STAN
27 Irvan Dias Sanjaya Universitas Gajah Mada
28 Aji Galih Prayogo Universitas Ahmad Dahlan
29 Imam Syaukani Fitrah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
30 Haifa Afifah Sholihah Universitas Pendidikan Indonesia
31 Neng Nuroh Siti Homisah UIN Sunan Gunung Djati Bandung
32 Dwi Wahyu Rohmadhani Institut Teknologi Bandung
33 Titi Kholilah Universitas Pendidikan Indonesia
34 Eva Afifah Institut Teknologi Bandung
35 Fatma Nurkhaerani Institut Pertanian Bogor
36 Fitriana Dina Rizkina Institut Pertanian Bogor
37 Vikmatik Morosari Institut Pertanian Bogor
38 Safira Candra Asih Universitas Indonesia
39 Nanda Putu Kasrani Universitas Indonesia
40 Nuraini Said UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
41 Devi Adia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
42 Yulistria Anggraini Politeknik Keuangan
43 Ela Nuryani Universitas Tirtayasa
44 Zahra Mustafavi IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

 

FNM Sumatera

No. Nama Lengkap Universitas
1 A. Fajri Alvi Universitas Negeri Padang
2 Ahmad Universtas Sriwijaya
3 Alamsyah Universitas Sriwijaya
4 Amir Hamzah Institut Teknologi Medan
5 Andre Rianda Univeritas Andalas
6 Bangun Suryadi Universitas Riau
7 Dani Pramana Damanik Universitas Sumatera Utara
8 Deges Ningtias Universitas Andalas
9 Fikri UIN Palembang
10 Gusti Fauzi Universitas Andalas
11 Halimah Tusya Diah Univeritas Andalas
12 Hari Novar Universitas Muhammadiyah Riau
13 Hazzah Rawani Vaulin STIE Sumbar Pariaman
14 Isronuddin Hasibuan Universitas Sumatera Utara
15 Khairunnisa Universitas Sumatera Utara
16 Laila Syifa Rahmi Universitas Malikussaleh, Aceh
17 M Haris Munandar Universitas Syiah Kuala
18 M. Irvan Universitas Andalas
19 Muhammad Khairi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
20 Nurhayati Universitas Malikussaleh
21 Nurjamaliah Universitas Riau
22 Nurrahma Dewi Universitas Riau
23 Purnama Nasution Universitas Sumatera Utara
24 Rahmi Hidayati Universitas Andalas
25 Ria Puspita Fitri Universitas Bung Hatta
26 Riki Rahman UIN Suska Riau
27 Riky Agung Prasetyo Universitas Bung Hatta
28 Saufie Fitra Arrijal Universitas Sumatera Utara
29 Siska Sofianti Universitas Andalas
30 Siti Nur Aisyah Universitas Riau
31 Sri Handini Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
32 Teguh Pambudi Universitas Riau
33 Tengku Novenia Yahya Universitas Riau
34 Titik Karomah Universitas Riau
35 Toni Arya Dharma Universitas Sumatera Utara
36 Vina Syafrianti Universitas Syiah Kuala
37 Wahyu Alfath Firdaus Universitas Andalas
38 Wanti Nur Jadidah Universitas Syiah Kuala

 

FNM Jawa Timur

No. Nama Lengkap Universitas
1 Agus Hermawan Santoso Universitas Negeri Surabaya
2 Ahmad Iqbal Hamamy Institut Teknologi Sepuluh Nopember
3 Ahmad Ricky Nazarrudin Institut Teknologi Sepuluh Nopember
4 Akhmad Mujib PENS
5 Alfan Syukran Universitas Negeri Surabaya
6 Angga Lestiana Putra Universitas Muhammadiyah Ponorogo
7 Anisa Fitria Universitas Jember
8 Ardiansyah Bagus Suryanto IAIN Sunan Ampel
9 Atikah I Winanyu Universitas Brawijaya
10 Bima Anditya Prakasa Universitas Airlangga
11 Dimas Agil Ariyanto Universitas Airlangga
12 Bambang Febriyanto Universitas Diponegoro
13 Etika Rosana Fitri IPPNU Jawa Timur
14 Fajrul Falah Farhany Universitas Gajah Mada
15 Fikri Zuledy Pamungkas Universitas Jember
16 Idya Rachmawati Universitas Gajah Mada
17 Ilham Ja’far Robbani PENS
18 Isnaini Qurroti A’yuni Universitas Brawijaya
19 Isrofil Amar Institut Teknologi Sepuluh Nopember
20 Khafidh Tri Ramdhani Universitas Nusa Cendana Kupang
21 Moch. Ilham Septian Hadi Universitas Brawijaya
22 Mohammad Wirda Ari Sanjaya Universitas Airlangga
23 Muhamad Zainuri Universitas Jember
24 muhammad daniel savariella Universitas Brawijaya
25 Muhammad Fauzi IKIP PGRI Madiun
26 Nurul Hidayati UIN Sunan Ampel Surabaya
27 Oktaviana Alfazriyah Universitas Negeri Surabaya
28 Oktaviana Retna Ningsih Universitas Airlangga
29 Putri Maulidyah UIN Sunan Ampel Surabaya
30 Ririn Dwi Ariyani Universitas Brawijaya
31 Rizal Angga Institut Teknologi Sepuluh Nopember
32 Rizki Amalia Universitas Brawijaya
33 Sakinah Nur R Universitas Muhammadiyah Malang
34 Setyo Pambudi Universitas Merdeka Madiun
35 Sidik Jauhari Universitas Islam Balitar Blitar
36 Siti Aisyah Universitas Dr Soetomo
37 Sunali Agus Eko Purnomo Universitas Airlangga
38 Winda Zuwita Resti Universitas Brawijaya
39 Yuyun Kusmilawati Universitas Brawijaya
40 Zamzam Nurrwahidin A Universitas Jember
41 Aisyah Wulansari Rahajeng Universitas Jember
42 Anca Laika Universitas Airlangga
43 Aryo Bayu Sukarno Universitas Airlangga
44 Rizki Hidayaturrochman Institut  Agama Islam Ibrahimy Sukorejo-Situbondo
45 Rozana Firdausi Institut Teknologi Sepuluh Nopember
46 Sabbihal Husni Universitas Brawijaya
47 Shifa Fauziyah Universitas Airlangga
48  Shofiyyatul Ummah Universitas Negeri Malang
49 Rico Pahlawan Universitas Airlangga
50 Yuliana Nike Ndalumau Universitas Brawijaya

 

FNM Jawa Tengah

No. Nama Lengkap Universitas
1 Muchamad Dias Anang Setiawan Universitas Jendral Soedirman
2 Muhammad Anis Universitas Islam Sultan Agung
3 Andika Anjas Prasetyo Universitas Tidar
4 Suharsono IAIN Salatiga
5 Mario Prakoso Universitas Muhammadiyah Surakarta
6 Novi Tristiawan Universitas Diponegoro
7 Rizky Amalia Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta
8 Bintoro Wisnu Prasojo Universitas Kristen Satya Wacana
9 Izza Rifki IAIN Salatiga
10 Yusrina Luthfi Hanifah Universitas Sebelas Maret
11 Afidlul Umam ,S.KEP.,Ns Universitas Islam Sultan Agung
12 Fajar Aji Pamungkas Universitas Tidar
13 Zahra Nur Fatma Universitas Sebelas Maret
14 Priyani latif Universitas Negeri Semarang
15 Khusnalibah Universitas17 Agustus 1945 Semarang
16 Muhammad Zamzami Universitas Wahid Hasyim
17 Maulana Fajar Nurhadi PoliteknikKeselamatan Transportasi Jalan Tegal
18 Irvan Nugraha Putra Ikatan Remaja Kartika Jaya
19 Hanat Futuh Nihayah IAIN Purwokerto
20 Andika Y. Pattisina Universitas Negeri Semarang
21 Mujito IAIN Salatiga
22 Sheila Chaerunnisa Universitas PGRI Semarang
23 Fadli Rais UIN Walisongo
24 Waenoful UIN Sunan Kalijogo
25 Arum Sekar Kinasih Universitas Sebelas Maret
26 Windu setiawan Universitas Muria Kudus
27 Ikka Nurlita Universitas Negeri Semarang
28 Durrotun Ekha An Nuur Universitas Jendral Soedirman
29 Zuhdi Alvian STT Telkom Purwokerto
30 Ismanu Eko Budiyanto IAIN Surakarta
31 Isnaini Roro Pertiwi Universitas Islam Sultan Agung
32 Muhamad Ali Ma’sum IAIN Purwokerto
33 Doni Wicaksono Universitas Sebelas Maret
34 Jayanti Rizqi Novianka Putri Politeknik Negeri Semarang
35 Muhammad Syah Fibrika Ramadhan IAIN Purwokerto
36 Imam Oktariadi Universitas Diponegoro
37 Halwa Latief Naja Universitas Sebelas Maret
38 Dyana Ulfach Universitas Negeri Semarang
39 Yogi Agung Setiawan Universitas Muhammadiyah Surakarta
40 Widyowati Universitas Islam Sultan Agung
41 Dwi Retno Ayunita Universitas Diponegoro
42 Teti Andrianingsih STT Telkom Purwokerto
43 Umi Thoifah Amalia Universitas Negeri Semarang
44 Muhammad Fikri Fauzan Universitas Sebelas Maret
45 Rafi Nanda Faizal Universitas Wahid Hasyim
46 Mustaq Zabidi Unversitas Muhammadiyah Surakarta
47 Rian Rifqi Ariyanto Universitas Negeri Semarang
48 Muhammad Khoirurriza Universitas Diponegoro
49 Galuh setia wardhani IAIN Purwokerto
50 Himmatul Ulya Universitas Wahid Hasyim

 

FNM Yogyakarta

No. Nama Lengkap Universitas
1 Aad Alief Rasyidi Baking Universitas Islam Indonesia
2 Ach. Fatayillah Mursyidi UIN Yogyakarta
3 Alfan Alfian Universitas Gadjah Mada
4 Andri Auliyani UPN Veteran Yogyakarta
5 Anik Ida Riyanti Universitas Sebelas Maret
6 Anisa Destiyan Putri Universitas Negeri Yogyakarta
7 Annisa Nur Salam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
8 Ardhi Maulana Fajrin Universitas Gadjah Mada
9 Ayuseptiani Asari Putri Universitas Gadjah Mada
10 Azizah Sakinul Iman Universitas Ahmad Dahlan
11 Bimo Wicaksono Universitas Gadjah Mada
12 Deaz Dewantara UPN Veteran Yogyakarta
13 Ecky Imamul Muttaqin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
14 Farhan Noer Widagdo Universitas Gadjah Mada
15 Farichah Fatichaturrohmah Universitas Ahmad Dahlan
16 Gilang Ariya Pratama Universitas Ahmad Dahlan
17 Jauza Akbar Krito Universitas Gadjah Mada
18 Kartika Isna Sujati Universitas Negeri Yogyakarta
19 Karunia Huda Syahrtia Harahap Universitas Ahmad Dahlan
20 Muhammad Amrial Universitas Sebelas Maret
21 Muhammad Fatwa Arief Universitas Atmajaya Yogyakarta
22 Muhammad Hafidz Ridlo Universitas Negeri Yogyakarta
23 Muhammad Iqbal Universitas Islam Indonesia
24 Najih Muhammadiy Universitas Gadjah Mada
25 Nursiah Yuniarti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
26 Puguh Dwi Kuncoro Universitas Teknologi Yogyakarta
27 Raafi Oka Wijaya Universitas Ahmad Dahlan
28 Rahayu Putri Utami Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
29 Reisida Kumala Putri Universitas Sebelas Maret
30 Remi Syahdeni Universitas Gadjah Mada
31 Robist Hidayat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
32 Salmaa Awwaabiin Universitas Sebelas Maret
33 Singgih Laksana Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan
34 Siti Fatonah STMIK Duta Bangsa Surakarta
35 Umi Sholihah Universitas Negeri Yogyakarta
36 Wahyu Adiningsih Universitas Gadjah Mada
37 Wisnu Al Amin Universitas Gadjah Mada
38 Yogawati Universitas Gadjah Mada
39 Rofi Aulia Rahman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Note:

Bagi peserta yang terpilih harap konfirmasi ke :

Yulinda Dwi Komala (0812 1958 1097)

Email : fnm.indonesia@gmail.com

Web : http://negarawanmuda.org

Mewujudkan kembali Pemimpin yang Islami

Oleh : Bangun Suryadi

Kepemimpinan periode Islam telah berlangsung sejak lama. Dimulai sejak masa kenabian Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Kemudia berlajut dengan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, empat Khalifah yang menggantikan Rasul setelah beliau wafat. Setelah itu digantikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan dengan tanda didirikannya dinasti Bani Umayyah, beserta  Khalifah-khalifah lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan dinasti Abbasiyah yang didirikan dari keturunan paman Nabi Muhammad yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, beserta kedelapan belas Khalifah lainnya. Dan di akhiri oleh dinasti Utsmaniyah yang berpusat di Turki.

Selama berabad-abad umat manusia hidup dalam ketentraman di bawah kepemimpinan Islam.

 

Selama berabad-abad umat manusia hidup dalam ketentraman di bawah kepemimpinan Islam. Andaikan semua tetap berjalan pada jalurnya niscaya umat manusia akan mengalami hal yang sangat berbeda seperti yang di alami saat ini penuh dengan gejolak, bencana, ketidakpercayaan terhadap pemimpin, dll. Niscaya dunia ini akan indah serta menyenangkan hati setiap manusia. Namun takdir berkehendak lain, dan kemunduran itu bermula dari diri umat Islam sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Kenapa Umat Islam Terbelakang Sedangkan Umat yang Lainnya maju. Itu semua terjadi karena umat Islam sudah tidak memperaktikkan ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia akhirat.  Nabi Saw bersabda “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul.”

Pemimpin yang berhasil membawa manusia dalam ketentraman adalah mereka yang dilahirkan di zaman Rasulullah SAW dari sisi identitas keimanan, akidah, perjuangan nyata, moral, pendidikan, keagungan jiwa, kesucian diri, kesempurnaan aspek kemanusiaan dan keadilan. Mereka adalah generasi yang ditempa oleh Rasulullah saw  secara sempurna.  Maka tidak berlebihan jika dikatakan mereka adalah penjelmaan paling sempurna dari “agama” dan “dunia” sekaligus. Mereka adalah para imam sholat, para jaksa dan hakim yang memutuskan secara adil dan jujur, panglima perang yang piawai mengatur siasat, para pejabat negara yang mengatur administrasi negara, sekaligus penegak hukum Allah. Agama dan politik terhimpun dalam diri amirul mu’minin.

Ternyata tidak perlu jauh mencari acuan untuk menjadi pemimpin, karena alquran dan sunnah pun telah menjelaskan hal itu.

Bagaimana menjadi pemimpin yang islami? Arry Rahmawan telah menjelaskan 5 hal yang harus diamalkan dalam keseharian agar menjadi pribadi pemimpin yang islami, yaitu.

 

  1. Rukun pertama (Syahadat) : Prinsip Visioner

Apa yang bisa dimaknai dari syahadat dalam kepemimpinan? Arti syahadat, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah” sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Pernyataan tersebut merupakan sebuah life mission statement, sebuah pernyataan misi hidup di mana kita berkomitmen akan terus menjadi hamba Allah dan pengikut nabi yang setia. Bagi mereka yang memaknai prinsip ini, tentunya akan memiliki sebuah pandangan di mana segala aktivitas harus dikaitkan dengan sebuah visi besar: keberhasilan saat pulang ke hadapan Tuhan. Hal ini akan membawa seseorang untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap aktivitasnya. Sama seperti pemimpin, maka setiap pemimpin harus memiliki mission statement yang jelas, visi yang jelas, ke mana dia akan membawa orang yang dipimpinnya. Sebaik – baiknya mission statement bagi individu maupun pemimpin adalah syahadat.

 

  1. Rukun kedua (Shalat) : Prinsip Disiplin

Banyak orang shalat hanya sebagai rutinitas, tanpa dimaknai secara mendalam. Apa makna yang terkandung dalam shalat bukan hanya sekedar doa yang baik, gerakan yang menyehatkan, hingga mampu menghindarkan kita dari perbuatan yang buruk.

Shalat melatih kita untuk menjadi pribadi yang disiplin. Apabila kita mengikuti aturan mainnya dengan baik. Itulah mengapa shalat memiliki waktu yang sudah ditentukan, tidak boleh melaksanakan shalat wajib apabila tidak sesuai dengan waktunya. Hal yang paling penting, salah satu keutamaan shalat adalah ketika dilaksanakan tepat waktu dan berjamaah di masjid.

Shalat dalam kepemimpinan ibarat sebuah meeting. Ini adalah meeting yang istimewa, yaitu meeting langsung dengan Allah. Saat adzan memanggil, akan terlihat mana orang yang memang disiplin untuk segera memenuhi panggilan tersebut atau mana yang suka menunda – nunda. Shalat melatih kita untuk tepat waktu dan menepati janji. Shalat tidak hanya bermakna secara vertikal kepada Tuhan, namun juga berdampak terhadap hubungan kita sesama manusia.

 

  1. Rukun ketiga (Puasa) : Prinsip Integritas

Sekarang bulan Ramadhan, dan semua muslim diwajibkan untuk berpuasa. Apa makna puasa bagi seorang pemimpin? Puasa tidak lain mengajarkan untuk memiliki integritas yang tinggi. Setiap orang dapat mengklaim dirinya sedang berpuasa, namun hanya dirinya sendiri dan Tuhanlah yang tahu.

Karakter pemimpin seperti itu pula yang diharapkan dalam Islam. Tidak hanya puasa, namun perintah lain seperti menjaga kejujuran, disiplin, perlu ditegakkan baik saat kita dilihat orang atau tidak. Puasa mengajarkan kita untuk menjunjung dan mentaati nilai moral baik saat ada orang ataupun tidak ada sama sekali. Inilah makna integritas yang sebenarnya, dan Islam sudah mengajarkan itu sejak lama sekali.

  1. Rukun keempat (Zakat) : Prinsip Peduli

Zakat merupakan sebuah aktivitas yang sudah jelas untuk menumbuhkan kepedulian kita kepada sesama. Bagi seorang pemimpin makna yang bisa diambil dari berzakat ini bukan semata-mata memberikan sesuatu yang diperlukan kepada orang yang ia pimpin, namun bagaimana agar mereka bisa menjadi seorang yang lebih baik dan bisa menjadi pemimpin-pemimpin berikutnya. Sama seperti pembagian zakat di masa Rasulullah di mana zakat bukanlah sekedar membagi-bagikan uang atau beras, namun bagaimana caranya dengan zakat itu dapat menghidupi dan memakmurkan umat. Ibarat memberikan kail atau alat bagi orang yang memerlukan agar mereka bisa berusaha mencari untuk diri mereka sendiri.

 

  1. Rukun kelima (Naik Haji) : Prinsip Rendah Hati

Naik haji merupakan sebuah aktivitas ibadah total bagi seorang muslim yang mampu untuk mempersiapkan harta, fisik, dan mental mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Berhaji selain memerlukan pengorbanan, dapat dilihat bahwa haji sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai kesetaraan.

Inkubasi dan Sinergitas Kepemudaan

Oleh : Kartika Isna Sujati

(Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa

Angakatan 6 Regional Yogyakarta)

 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَ هُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَ امَنُوْابِرَبِّهِمْ وَزِدْنَهُمْ هُدً ى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”

 

Pemuda adalah sumber investasi peradaban. Memainkan peran sebagai leading sector dalam pencerdasan pemikiran, pewaris moral bangsa, dan pemberdayaan masyarakat. Semangatnya terhimpun dalam suatu gerakan kepemudaan. Bahkan sejarah panjang bangsa ini banyak mengisahkan peran-peran pemuda dalam berbagai perjuangan. Budi Utomo menjadi salah satu saksi terhimpunnya semangat kepemudaan, menjadi pembangun semangat kolektivisme pemuda untuk mendorong kemerdekaan bangsa Indonesia. Tak hanya itu, kekuatannya tercatat dalam nama-nama pembela ibu pertiwi dalam berbagai perjuangan perlawanan penjajahan. Sebut saja Bung Tomo, Jenderal Soedirman, dan Ahmad Yani. Dan bila kita ingat, kisah pemuda mendobrak langit istana pada suatu rentang pemerintahan yang berakhir pada perjalanan reformasi bangsa ini.

People hold hands to form a human solidarity chain near the site of the attack at the Bataclan concert hall in Paris

Pemuda adalah sumber investasi peradaban

 

Semangat kolektivisme pemuda harus dipertemukan dalam wadah yang tepat. Kekuatan-kekuatan pemuda akan tercipta lebih besar ketika mereka terhimpun dalam sebuah wadah inkubasi. Tentu saja bukan hanya sekedar wadah yang mempertemukan semangat kepemudaan, namun lebih kepada tanggung jawab bangsa bahwa pemuda tidak hanya diperlukan untuk bersatu, namun juga berkarya dan berkontribusi nyata. Inkubasi yang tepat didukung oleh sebuah sistematika gerakan kepemudaan yang memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan akhirnya. Selain itu, strukturalisme diperlukan guna mempertegas peran-peran yang akan diambil pada masa-masa kontribusi.

Bersatunya pemuda memerlukan keselarasan yang disebut sinergisitas. Hal ini diperlukan untuk menyatukan gagasan dan kekuatan agar berjalan berdampingan dengan visi kepemudaan. Sinergisitas akan terbangun melalui sebuah keinginan dan kepedulian untuk bertemu dan bersatu. Sinergisitas akan membangun keselarasan peran yang akan terkonversi dengan sendirinya dalam bentuk kolaborasi kontribusi. Sehingga menciptakan gerakan kepemudaan yang tidak hanya kuat dalam gagasan, namun juga kuat dalam keselarasan kontribusi kolektivitasnya.

Forum Negarawan Muda merupakan wadah berkumpul, bersinergi, dan pengembangan diri para pegiat gerakan belajar merawat Indonesia melalui berbagai aktivitas kontributif di masyarakat. Pada ranah awal kontribusi, pembinaan memainkan peran utama sebagai platform pembentukan kepribadian negarawan muda. Pembinaan dan kaderisasi yang terplatform dengan baik akan mendorong tercapainya tujuan-tujuan yang lain, yaitu pengoptimalan kontribusi kepada masyarakat, memiliki posisi strategis, dan pembangunan jaringan strategis.

Pembinaan dan kaderisasi memainkan peran kebaikan yang pertama karena bertanggung jawab dalam pembentukan kualitas pemuda untuk menjadi seorang negarawan muda. Tugas yang tentu saja tidak ringan karena secara tidak langsung menjadi penentu peradaban bangsa selanjutnya dalam pembentukan pemimpin-pemimpin masa depan. Menjalankan pengembangan personal yang selaras dengan tujuan yang pertama, yaitu pengembangan negarawan muda dari aspek karakter dan kompetensi agar terbentuk sosok negarawan yang mampu menjawab tantangan bangsa.

FNM

Pembentukan profil diri dimulai dari kepemimpinan, karakter, prestasi, hingga menyentuh ranah kontribusi. Keempat hal tersebut didorong dengan adanya dukungan pengetahuan, kemampuan, dan perilaku. Masing-masing aspek memiliki definitif pencapaian yang berbeda di setiap aspeknya. Sehingga mampu menentukan metode yang akan digunakan dan juga menentukan indikator keberhasilan. Oleh karena itu salah satu gagasan yang ditawarkan yaitu dengan adanya modul pengembangan diri. Selain sebagai proses pemantauan perkembangan kader, namun juga sebagai alat ukur yang dikelola secara jelas, baik sistematika dan cultural project nya. Selain itu, pemantauan dan evaluasi diperlukan guna mengukur ketercapaian definitif.

DARAH INDONESIA

Oleh : Toni Arya Dharma

Sudah seharusnya ini diingat kembali, perjalanan panjang bangsa ini merebut kemerdekaan sesungguhnya adalah tapak sejarah perjalanan dakwah. Kekuatan yang tumbuh melakukakan perlawanan terhadap kolonialisme berabad-abad lamanya, bersumber dari wahyu Risalah: Dinul Islam sumber kekuatan utama mayoritas bangsa, dan mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan yang kita raih: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” (Mukaddimah UUD ’45).

Sudah seharusnya ini diingat kembali, perjalanan panjang bangsa ini merebut kemerdekaan sesungguhnya adalah tapak sejarah perjalanan dakwah

 

Tidak kurang dari tokoh seperti Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah kolonial Belanda menyampaikan sarannya kepada pemerintah kolonial Belanda (Dutch Islamic Policy) dengan tujuan mematahkan perlawanan umat Islam. Antara lain Snouck Hurgronje menyarankan,

“Yang harus ditakuti pemerintah (pemerintah Belanda, pen) bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Biasanya dipimpin small-minority yang fanatik, yakni ulama yang membaktikan hidupnya terhadap cita-cita Pan Islamisme. Golongan ulama ini lebih berbahaya kalau pengaruhnya meluas kepada petani di desa-desa. Karena itu disarankan supaya pemerintah bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan sebaliknya bertindak tegas terhadap Islam sebagai doktrin politik.”

 

Awal Mula Pengkhianatan

            Sejak awal Islam sudah dikhianati, nasionalisme yang notabene merupakan anak kandung dari bukti keimanan seorang muslim tidak dihargai, bukan tidak banyak nasionalis muslim konseptor Republik ini yang pada akhirnya harus mati oleh senapan dari tentara Republik yang ia dirikan sendiri. Kemudian Islam menjadi musuh bersama, pemberitaan yang menyudutkan Islam oleh media. Ini bukan hal baru terjadi, namun sejak awal sejak pertama Republik ini berdiri Islam sudah dikhianati.

Ketika para pendiri Republik ini berhasil merumuskan satu gentlement agreement yang sangat luhur dan disepakati pada tanggal 22 Juni 1945 kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Sesungguhnya Piagam Jakarta inilah mukadimah UUD ’45 yang pertama. Selanjutnya tanggal 17 Agustus 1945 pada hari Jumat dan bulan Ramadhan, Indonesia lahir sebagai negara dan bangsa yang merdeka. Hendaknya disadari oleh setiap muslim bahwa Republik yang lahir itu adalah sebuah negara yang “berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Subhanallah, Allahu Akbar!

Namun keesokan harinya tanggal 18 Agustus rangkaian kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, diganti dengan kalimat “yang maha esa.” Inilah awal malapetaka, awal pengkhianatan terhadap Islam dan umat Islam. Tentang hal ini berbagai peristiwa dan wacana terjadi mendahului sebelum apa yang kemudian dikenal dengan “tujuh kata” itu dihapus. Terkait di dalamnya antara lain tokoh-tokoh seperti Hatta, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Qahhar Muzakkir, Kasman Singodimejo, Teuku Moh. Hasan, Soekarno. Meskipun usianya hanya sehari, republik yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah Republik yang berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Syariat Islam melekat dalam konstitusinya walaupun hanya sehari! Hal ini tertanam di lubuk hati yang paling dalam bagi setiap aktivis dakwah. Masih terngiang ucapan Kasman Singodimejo dalam sebuah perbincangan bahwa beliau merasa turut bersalah karena dengan bahasa Jawa yang halus beliau menyampaikan kepada Ki Bagus Hadikusumo tokoh Muhammadiyah yang teguh pendiriannya itu untuk sementara menerima usulan dihapusnya 7 kata itu. Kasman terpengaruh oleh janji Soekarno dalam ucapannya, “Bahwa ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-undang Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk. Apa yang tuan-tuan dari golongan Islam inginkan silahkan perjuangkan disitu.”

Kasman berpikir, yang penting merdeka dulu. Lalu beliau meminta Ki Bagus Hadikusumo bersabar menanti enam bulan lagi. Hatta juga menjelaskan bahwa Yang Maha Esa itu sama saja merupakan bentuk tauhid. Maka tentramlah hati Ki Bagus. Dalam pandangan Ki Bagus tentu hanya Islam-lah agama tauhid. Dalam biografinya Teuku Moh. Hasan pun menulis tentang makna Yang Maha Esa ini sebagai Tauhid.

Namun enam bulan kemudian Soekarno tidak menepati janji. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak pernah terbentuk. Pemilu yang pertama baru dilaksanakan 10 tahun sesudah proklamasi (1955). Konstituante sebagai lembaga konstitusi baru bekerja pada 1957-1959 (hingga Dekrit 5 Juli 1959). Sementara Ki Bagus Hadikusumo yang dimintai oleh Kasman Singodimejo meninggal dalam penantian.

Tentang hilangnya tujuh kata ini Mr. Moh Roem mengutip ungkapan dalam bahasa Belanda: Menangisi susu yang sudah tumpah !?

Sedang M. Natsir menulis “Tanggal 17 Agustus 1945 kita mengucapkan hamdalah; alhamdulillah menyambut lahirnya Republik sebagai anugerah Allah! Tanggal 18 Agustus kita istighfar mengucapkan astaghfirullah (mohon ampun kepada Allah) karena hilangnya tujuh kata!”

 

Ah Sudahlah, Yuk Kita Move On !!!

            Bagaimanapun, kita harus tetap optimis. Sebab memang sudah jadi tugas kita untuk mengusahakan perubahan, biarlah Indonesia yag sejak awal berdirinya sampai saat ini mengkhianati perjuangan nasionalis Islam, optimis saja sehingga Allah akan menunaikan janji pengubahannya. Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihi.

Bagaimanapun peradaban Islam haruslah yang menjadi awal mula kebangkitan republik ini, sama halnya seperti dulu lagi, ketika para ulama harus turun-naik gunung, keluar-masuk hutan untuk bergerilya, dan pada akhirnya berbuahkan kemerdekaan Republik Indonesia. Harus kita pahami bahwa peradaban Islam dibangun atas asas Wahdaniahtullah (ke-Esaan) Allah yang mutlak dalam aqidah. Peradaban yang mengajarkan para penganutnya bahwa Tuhan itu Maha Esa dan tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya. Hanya Dia yang patut disembah dan dituju.

Menyambut Bonus demografi, yang harus disiapkan dari saat ini adalah menyiapkan Iron Stock yang baik, dengan cara menyediakan tempat menempah Iron yang baik pula, Iron atau besi ini akan menjadi besi yang baik dan kuat bila ditempah di ahli besi yang tepat, pemuda Indonesia masa depan diharapkan pemuda yang memahami Islam secara Kaffah, tidak hanya memahami Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik.

Menyambut Bonus demografi

 

ISLAM DAN PERADABAN

Oleh : M Haris Munandar

Islam. Pasti saat ini semua pernah mendengar kata tentang Islam. Hakikatnya Islam adalah agama yang membawakan Rahmat pada seluruh alam karena pada dasarnya kata “Islam” berasal dari bahasa arab yaitu aslama yang berarti selamat. Pada masa kesultanan Utsmani telah terjadi penaklukan besar pada sebuah kerajaan yang telah berumur lebih dari 11 abad lamanya, kerajaan itu ialah Konstantinopel. Sebagaimana Rasulullah telah menerangkan dalam hadistnya bahwa,

”Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (Al Hadis)

Setelah berhasil mengambil alih Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari. Peristiwa diatas membuktikan bahwa Islam yang telah membangun peradaban.

”Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (Al Hadis)

 

Pada masa awal pemerintahan Islam di kota Madinah, Islam tumbuh dengan pesat dan Rasulullah menjalankan roda pemerintahan disana dengan aturan Islam. Mengulang kembali sejarah, sebelum Nabi Muhammad SAW dan orang-orang muslim Makkah (Muhajirin) hijrah ke Madinah, nama kota itu adalah Yatsrib. Penduduk Yatsrib sebelum kelahiran Islam terdiri dari dua suku bangsa, yaitu Arab dan Yahudi. Semula daerah itu ditempati oleh suku Amaliqah (Baidah, bangsa arab yang sudah punah) dan kemudian ditempati oleh suku-suku arab lainnya.

Secara bertahap kota itu menjadi berkembang dan menjadi kota penting kedua setelah Makkah di tanah Hedzjaz setelah kehadiran Yahudi. Yahudi membangun permukiman dan benteng pertahanan agar mereka terhidar dari gangguan badui yang hidup sebagai nomad di sekitar Yatsrib. Di Yatsrib tidak ada seorang pemimpin dan pemerintahan atas semua penduduk, yang ada adalah para pemimpin yang bersuku-suku dan hanya memikirkan kepentingan suku masing-masing. Mereka saling bersaing dan berperang untuk menanamkan pengaruh di masyarakat akibatnya diantara mereka dapat terjadi permusuhan bahkan peperangan.

Nabi Muhammad dan orang-orang muslim Makkah (Muhajirin) hijrah ke Madinah pada tanggal 22 September 622 M. Dan hal pertama yang Rasulullah lakukan adalah mendamaikan suku-suku yang telah lama berperang. Setelah kondisi Madinah menjadi damai, maka Rasulullah mulai mengajarkan tentang agama Islam dan karena orang-orang di Madinah telah mengenai agama Tauhid dari kitab Taurat maka mereka menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam.

Bagaimana halnya dengan kaum Yahudi yang telah lama menetap di Madinah? Apakah mereka diusir dari Madinah? Apakah mereka menjadi budak kaum muslimin? Atau mereka dipaksa untuk masuk ke dalam agama Islam? Menjawab hal itu semua, telah kita yakini bahwa Islam agama yang “peace in love” sehingga semua hal diatas tidaklah terjadi. Tidak ada ajaran Islam yang membenarkan penindasan atas kaum tertentu yang bukan Islam. Dan pada masa itu Nabi Muhammad SAW justru menjalin kerja sama dengan kaum Yahudi Madinah untuk bersama-sama membangun kota Madinah. Sehingga dibuatlah piagam Madinah sebagai bentuk perjanjian membangun kesatuan. Apa arti dari peristiwa di atas? Islam telah membangun peradaban.

Tidak dapat dipungkiri, Islam telah membangun peradaban. Namun sayangnya, Islam hari ini telah tercoreng oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak menggambarkan Islam sebagaimana mestinya. Mengaku Islam namun bersifat radikalisme, membantai warga sipil, mengaku menegakkan aturan Islam dengan cara kekerasan. Padahal dalam Islam itu sendiri sudah sangat jelas digambarkan beberapa peraturan dalam berperang diantaranya dilarang membunuh wanita dan anak-anak, dilarang membunuh orang tua dan orang sakit, dilarang membakar pohon dan merusak tempat peribadatan.

Selain wajah Islam yang tengah dicoret, Islam seolah menjadi pemain cadangan dalam membangun kembali peradaban. Perkembangan ilmu pengetahuan dari kaum non muslim padahal pengetahuan tersebut sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu tertulis di dalam Al Qur’an yang merupakan kitab suci Islam yang rutin dibaca berkali-kali. Namun minim keinginan untuk mencari berita dalam Al Qur’an dan membuktikannya dengan ilmu pengetahuan.

Ditengah “kegalauan” ini, Turki bangkit di bawah pemerintahan Erdogan. Ia mampu memutus sistem sekularisme yang telah dianut oleh Turki selama satu abad. Ia juga langsung memutus “mata rantai” praktik riba dan kapitalisme di tengah-tengah penderitaan bangsa Turki. Bahkan Erdogan secara terang-terang menentang paham sekularisme yang videonya di Youtube,  ia mengatakan “Jangan mengaku Muslim jika pada saat yang sama anda mengaku sebagai sekuler”. Atau ungkapannya yang lain, “Sekulerisme telah gagal membangun Turki, dan kami akan segera menggantikannya”.

Turki bangkit di bawah pemerintahan Erdogan

 

Akhirnya aliran kekayaan bangsa Turki yang dahulu jatuh ke tangan oknum yang tidak bertanggung jawab, kini dapat diarahkan ke pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya. Maka saat ini kita dapat menyaksikan Turki baru yang modern dalam segala bidang.

Turki bisa mandiri karena taatnya para pemimpin serta warganya terhadap ajaran Islam. Bagaimana dengan bangsa yang memiliki titel “Negara Muslim Terbesar Dunia”. Peluang bangsa ini lebih besar dari bangsa Turki. Maka dari itu mulai dari diri sendiri, teman, sahabat, orang tua, sahabat, masyarakat hingga bangsa, kita selaku umat Islam kembali mengambil peran untuk membangun peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemuda Islam Berjiwa Ke-Indonesiaan; Sosok Pemimpin Idaman Masa Depan Bangsa

Oleh : Tengku Novenia Yahya

Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Pepatah ini cocok jika kita ungkapkan pada pembahasan kepemimpinan di Indonesia. Setiap zaman pasti mempunyai seorang pemimpin. Ketika zaman memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh generasi Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Syahrir, Adam Malik, dan beberapa tokoh nasional lainnya. Pada masa reformasi, Indonesia dipimpin oleh KH. Abdurrahman Wahid dan generasinya seperti Ir. Akbar Tanjung, Prof. DR. Amien Rais, Prof, Ir. BJ. Habibie, Hj. Megawati dan beberapa tokoh lainnya. Pemimpin pada zaman sekarang adalah mereka yang dulunya adalah para pemuda pula.

Berbicara tentang pemuda, maka kita juga akan menemukan semangat saat membicarakannya. Masa muda adalah  masa yang penuh dengan semangat yang menggelora dan penuh ujian di dalamnya. Tidak jarang juga kita dengar ungkapan bahwa siapa yang semangat dan berhasil dalam segala ujian yang dihadapai pada masa mudanya, maka selamat pulalah ia dalam menghadapi masa tuanya nanti.

Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya

 

Jika kita bandingkan pemuda zaman sekarang dengan pemuda zaman dulu yang kita kenal melalui catatan sejarah, maka yang terlintas di benak kita ialah pemuda sekarang jauh berbeda dengan para pemuda zaman dulu yang notabene sekarang adalah para pemimpin bangsa. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya kasus yang terjadi pada generasi muda zaman sekarang. Akhir-akhir ini, maraknya berita tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan pemuda menjadi sajian utama di beberapa media massa. Kasus pembunuhan dosen yang dilakukan oleh seorang mahasiswa juga sempat menjadi topik hangat yang diperbincangkan. Belum lagi kasus narkoba, tawuran antar pelajar, tindakan kriminal dan pergaulan bebas yang dilakukan oleh pemuda setiap harinya sudah lumrah menjadi konsumsi informasi publik pada pemberitaan televisi atau pun media online. Hal ini jelas mencoreng moral para pemuda di tanah air ini.

Padahal, kekuatan dan kekekalan suatu bangsa terletak di tangan para pemudanya. Bagaimana nasib suatu bangsa akan ditentukan oleh pemudanya. Sebab para pemudalah yang akan menunjukkan wajah kehormatan suatu bangsa dalam segala kontes kehidupan. Jika para pemuda dalam suatu negara mengalami kerusakan moral dan agama, maka sangat disayangkan nasib bangsa ini nantinya.

Lantas, pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya sosok pemuda idaman yang akan mempimpin bangsa ini? Pemuda Islam berjiwa Ke-Indonesiaan adalah jawabannya. Pemuda Islam ialah pemuda yang tidak hanya sekedar berstatus agama Islam pada KTP nya, namun ia juga menjalankan amalan dan syariat-syariat Islam itu sendiri. Kenapa harus pemuda Islam? Sebab kita mengetahui bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Sejarah menuliskan peran pemuda Islam bagi kemerdekaan bangsa begitu besar. Hal ini harus dipahami oleh pemuda dan mahasiswa yang beragama Islam. Catatan emas sejarah perjuangan tersebut diharapkan mampu membangkitkan kesadaran pemuda Islam untuk aktif dalam pembangunan nasional.

Sebagai pemuda, tentunya dituntut untuk dapat menjaga diri dari pengaruh luar. Hal ini penting sebelum ia terjun ke masyarakat. Era perkembangan zaman berkembangan pesat. Modernisasi dan westernisasi semakin merajalela. Di sisi lain, pemuda Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada agama Islam yang hanif.

Tidak terhenti sampai diri sendiri, pemuda Islam harus berkontribusi terhadap masyarakat sosial. Ia harus harus hidup di tengah-tengah masyarakat karena sikap acuh tak acuh akan melahirkan ilmuwan tanpa kontribusi. Dan ia harus belajar mengenal dan meyelesaikan permasalahan sosial.

Jika mau bercermin pada sejarah bangsa Indonesia, para pendiri bangsa ini adalah para pemuda Islam yang memegang teguh nilai-nilai keislaman. Dapat kita lihat pada sila pertama dasar negara kita, yaitu Pancasila. Pada awal mulanya, sila pertama Pancasila berbunyi : “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“  sebelum berubah menjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Catatan sejarah tentang rumusan dasar negara pada sila pertama menunjukkan bahwa pada dasarnya para pendiri Indonesia ialah orang-orang yang teguh mempertahankan nilai keislaman. Namun, adanya perubahan sila pertama tersebut juga menjadi cerminan bagi kita bahwa sebagai seorang pemuda Islam pun saat itu Drs. Mohammad Hatta bersama rekan-rekannya mengubah bunyi sila pertama sebagai wujud toleransi dalam keberagaman agama di Indonesia.

Catatan sejarah tentang rumusan dasar negara pada sila pertama menunjukkan bahwa pada dasarnya para pendiri Indonesia ialah orang-orang yang teguh mempertahankan nilai keislaman.

 

Kisah lahirnya Pancasila harusnya menjadi panutan bagi kita bagaimana sosok pemuda Indonesia di masa lalu. Dalam keadaan genting untuk segera merumuskan kemerdekaan Indonesia, pemuda para pemuda dari berbagai pelosok dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari berbagai suku, agama dan budaya bersatu dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda yang cocok memimpin Indonesia ialah pemuda Islam yang berjiwa ke-Indonesiaan. Jika dulu para pejuang proklamasi yang beragama Islam bersikap egois dan tidak memikirkan nilai dasar keberagaman Indonesia, mungkin saat ini nama Negara Kesatuan Republik Indonesia belum kita dapatkan.

Para pendiri bangsa mendirikan sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia hakikatnya sebagai sebuah wadah terdiri segala suku Indonesia, segala golongan Indonesia, dan segala umat agama Indonesia.  Mengutip perkataan Gibson dan Arnold Toynbee bahwa “Suatu peradaban yang besar, tinggi, dan agung, tidak akan hancur, tidak akan tenggelam, kecuali jika dia merusak dirinya sendiri, memecah dirinya sendiri, dan merobek-robek dadanya dari dalam”. Dengan latar belakang etnis, kesukuan, serta keberagaman agama yang ada di negara ini masalah konsolidasi, soliditas, ataupun kesatuan bangsa menjadi ancaman. Oleh karena itu, jati diri ke-Indonesiaan merupakan unsur esensial dalam pembangunan bangsa agar perbedaan-perbedaan yang sifatnya sosio-kultur dapat dicegah agar tidak menjadi ancaman stabilitas negara dan pembangunan baik ekonomi maupun politik.

Jika Indonesia memiliki pemuda Islam yang berjiwa ke-Indonesiaan sama seperti para tokoh pendiri bangsa ini dulunya, maka sosok inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin idaman bangsa di tengah pesatnya globalisasi untuk membawa Indonesia menatap masa depan yang lebih cemerlang.

Pengumuman Hasil Seleksi Peserta School for Nation Leaders-Jakarta Jabar Banten

Selamat kepada 50 calon peserta terpilih pelatihan School for Nation Leader 1 “Pemimpin Muda dengan Jati Diri KeIndonesiaan

Berikut ini adalah Hasil Seleksi Peserta School for Nation Leaders 1-Jakarta Jabar Banten

No Nama  Instansi
1 Arif Nurrahman Institut Teknologi Bandung
2 Mochamad Indra Safwatulloh Universitas Padjadjaran
3 Micky Andrea Yunus Universitas Pendidikan Indonesia
4 Muhammad Fadhil Institut Teknologi Bandung
5 Syahrul Fauzul Kabir Universitas Islam Bandung
6 Ayi Mutakin Institut Teknologi Bandung
7 Ahmad Wirantoaji Nugroho Institut Teknologi Bandung
8 Rio Feisal Ramadhan Universitas Padjadjaran
9 Andri Hapsoro Institut Teknologi Bandung
10 Dicky Sofian Prabowo Institut Teknologi Bandung
11 Iqbal Abdel Aziz Ilyas Universitas Padjadjaran
12 Muhammad Riyandi Firdaus Universitas Lambung Mangkurat
13 Diky Budiman Universitas Pertahanan
14 Gerry Hermandes Institut Pertanian Bogor
15 Saifan Rizaldy Universitas Indonesia
16 Ridho Muhammad Sakti Universitas Indonesia
17 Riza Wahyudi STT Terpadu Nurul Fikri
18 Muhammad Ihsan Maulana Universitas Panscasila
19 Reza Gunawan STKIP Garut
20 Yogga Mar Muhammad STKIP Garut
21 Garlanda Bellamy Mazalio Universitas Bakrie
22 Muhammad Miftah Surya University
23 Wawan Solihin UIN Syarif Hidayatullah
24 Achmad Alfian Syah Universitas Paramadina
25 Frans Fernandes President University
26 Nur Muhammad Firmansyah  Universitas Negeri Jakarta
27 Yordan Thezauza Universitas Sriwijaya
28 Dedi Alnando Universitas Riau
29 Muhammad AAkbar Azmi Universitas Sultan Agung Tirtayasa
30 Muhammad Ayub Qonaa Mukti Politeknik Keuangan Negara STAN
31 Irvan Dias Sanjaya UGM
32 Aji Galih Prayogo Universitas Ahmad Dahlan
33 Imam Syaukani Fitrah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
34 Haifa Afifah Sholihah Universitas Pendidikan Indonesia
35 Neng Nuroh Siti Homisah UIN Sunan Gunung Djati Bandung
36 Titi Kholilah Universitas Pendidikan Indonesia
37 Eva Afifah Institut Teknologi Bandung
38 Fatma Nurkhaerani Institut Pertanian Bogor
39 Fitriana Dina Rizkina Institut Pertanian Bogor
40 Vikmatik Morosari Institut Pertanian Bogor
41 Finna Handafiah Universitas Indonesia
42 Suha Sidratul Yahya Universitas Indonesia
43 Safira Candra Asih Universitas Indonesia
44 Nanda Putu Kasrani Universitas Indonesia
45 Nuraini Said UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
46 Devi Adia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
47 Yulistria Anggraini Politeknik Keuangan Negara STAN
48  Ela Nuryani Universitas Sultan Agung Tirtayasa
49 Zahra Mustafavi IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
50 Dwi Wahyu Rohmadhani Institut Teknologi Bandung