Latihan Menjadi Seorang Master

flickr.com/photos/tedconference/16824967556/

Joey Alexander saat tampil di salah satu acara. Dokumentasi TED Conference

Oleh : Grienda Qomara

Kebutuhan akan para ahli di bidangnya bagi kemajuan sebuah bangsa begitu besar. Sebuah negara membutuhkan sumber daya manusia unggul yang dapat menjadi motor penggerak perubahan. Tidak hanya orang-orang yang memiliki pencapaian biasa sebagaimana umumnya, kemajuan sebuah bangsa harus diikuti individu-individu yang memiliki kepakaran dalam bidangnya. Uniknya kita hanya menemukan sedikit orang dengan performa kelas dunia. Orang-orang seperti Tiger Woods, Mozart, Bill Gates, Yoky Matsuoka, Temple Gardin, dan lain-lain adalah contohnya. Lalu bentuk latihan seperti apa yang membedakan mereka dengan orang-orang pada umumnya?

Geoff Colvin dalam bukunya yang berjudul Talent is Overrated: What Really Separates World Class Performer and Everybody Else menjelaskan hal ini. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa bakat tidak berpengaruh siginifikan terhadap pencapaian seseorang. Kecerdasan dan pengalaman juga tidak menjadi faktor utama keberhasilan seseorang. Lalu faktor apa yang membedakan mereka? Jawabannya adalah sebuah latihan yang disengaja atau deliberate practice.

Latihan yang disengaja adalah bentuk latihan yang memiliki beberapa karakteristik. Pertama adalah latihan ini di desain untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam suatu bidang. Latihan ini tidak hanya melakukan hal yang sama berulang-ulang dan bersifat sebagai rutinitas. Lebih dari itu, latihan yang disengaja menuntut seseorang untuk secara bertahap menguasai suatu kemampuan dasar hingga tingkat yang lebih sulit.

Kedua adalah sifatnya yang tidak menyenangkan karena melakukan hal yang sama berulang-ulang. Latihan yang disengaja menekankan pada penguasaan skill secara bertahap. Apabila belum bisa menguasai skill dasar tertentu dari sebuah bidang maka tidak diperkenankan untuk melatih skill selanjutnya. Seseorang harus memiliki ketahanan mental yang kuat untuk melakukan hal yang berulang-ulang hingga menguasainya.

Ketiga adalah sifatnya yang secara mental menantang. Mengapa disebut deliberative, karena latihan ini mengharuskan seseorang untuk secara konstan memiliki fokus dan konsentrasi maksimal ketika berlatih. Secara mental individu harus mampu menjaga konsistensi dan fokus pikirannya dalam berlatih. Latihan yang disertai dengan fokus dan konsentrasi akan meningkatkan hasil secara signifikan. Seseorang harus memiliki kesadaran yang tinggi dan proses metakognisi dalam melakukan latihan yang disengaja.

Keempat adalah pentingnya umpan balik dari seorang mentor atau guru. Latihan yang disengaja mengharuskan seseorang untuk memiliki mentor yang dianggap sudah ahli dalam bidangnya untuk mengamati hasil dan memberikan umpan balik dari latihan yang telah dilakukan. Hal ini dikarenakan seseorang yang berlatih tidak dapat mengamati dirinya sendiri ketika berlatih. Oleh karena itu proses latihan yang disengaja ini membutuhkan seorang mentor. Mentor juga dapat memberikan serangkaian tahapan dan porsi latihan yang proporsional kepada seorang pembelajar karena sudah menguasai bidang tersebut.

Keempat karakteristik latihan yang disengaja tersebut dapat diterapkan di semua bidang seperti olahraga, musik, ilmu, dan kemampuan lainnya. Apabila secara konsisten seseorang menerapkan latihan yang disengaja ini dalam proses pembelajarannya maka akan mendapatkan hasil yang siginifikan. Proses latihan yang disengaja ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Malcom Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers mengatakan bahwa rata-rata seseorang membutuhkan 10.000 jam untuk mencapai tingkat ahli dalam suatu bidang. Sementara itu Robert Greene dalam bukunya yang berjudul Mastery mengatakan bahwa seseorang akan mencapai tahap kreatif-aktif dengan waktu latihan mencapai 10.000 jam. Apabila individu tersebut mampu mencapai waktu 20.000 jam maka akan mencapai tahap master dalam suatu bidang. [FNM]

Yakin, Masih Mau Membenarkan LGBT?

Oleh: Redza

Alangkah lebih afdhal-nya, jika di awal saya memohon maaf bahwa tulisan ini bukanlah bermaksud menggunjingkan aib orang lain, akan tetapi anggaplah sebagai sebuah refleksi atas fenomena yang terjadi. Saya akan memulainya dengan sebuah cerita.

Beberapa waktu yang lalu saat saya dan beberapa kawan saya makan siang di sebuah warung makan, saya menjumpai pemandangan yang mengherankan. Saat itu ada dua orang wanita yang kebetulan sedang makan di meja sebelah saya. Satu orang berpenampilan ‘layaknya’ seorang wanita pada umumnya – anggun, menawan, dan terlihat feminim. Satunya lagi berpenampilan seperti pria – berpakain simpel ala kadarnya, rambut pendek ala pria umumnya, plus ditutupi dengan topi gaul ala rapper-yang sama sekali tak menunjukkan sisi feminimnya seorang wanita. Pemandangan ini mungkin saja biasa ditemui oleh kawan-kawan di tempat yang lain. Tetapi, yang membuat saya, beberapa teman saya, pengunjung, bahkan pegawai warung makan keheranan adalah perilaku yang ditunjukkan kedua wanita itu..

Saat memulai makan, kami memperhatikan mereka berdua saling berfoto ‘mesra’ layaknya pasangan kekasih. Foto sana-foto sini. Baiklah, barangkali aktivitas itu juga adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para kaum hawa. Oleh karenanya, tak usah terlalu kita besarkan perkaranya. Sambil melanjutkan makan, sengaja saja kami memperhatikan aktivitas mereka kembali. Lama-kelamaan mereka semakin ‘menjadi-jadi’. Santai sekali mereka saling berpegangan tangan mesra layaknya seorang kekasih, dan yang menjadi bagian tak lumrahnya adalah mereka saling pandang-memandang mata satu sama lain. Begitu romantisnya-seperti kisah-kisah romantisme sinetron percintaan Indonesia. Tetapi sayang bukan kepayang, ini bukan sinetron fiktif, ini fakta. Sayang seribu sayang, ini juga bukan drama percintaan para aktor dan aktris ala sinetron, ini fakta.

Dari belakang, saya mendengar desas-desus para pegawai warung makan, juga pengunjung lain yang membicarakan perilaku kedua wanita itu. Semua desas-desusnya jelas sekali mengarah ke pembicaraan yang negatif dan sinisme. Dan itu hal yang lumrah sekali.

Mendengar desas-desus mereka, saya mencoba untuk diam terlebih dahulu, tak berkomentar apapun. Alasannya ada pada dua hal, yaitu: Pertama, saya tidak bisa dengan begitu mudahnya memutuskan apakah aktivitas kedua wanita itu termasuk dalam salah ciri perilaku LGBT-yang saat ini ramai dibicarakan publik ataukah itu hanya aktivitas lumrah-yang biasa dilakukan bagi para kaum hawa (maaf, kami hanya berbeda gender, harap maklum jika kami tak begitu memahami). Kedua, jika saya salah menduga, runyam sekali dampaknya. Saat saya salah menfasirkan dan kemudian saya menceritakan realita ini kepada orang lain, jelas sekali itu hanya akan menyebarkan fitnah.

Baiklah. Sebenarnya saya tak akan membahas panjang lebar aktivitas dua orang yang saya ceritakan tadi, yang menarik perhatian adalah dampak dari para pelaku LGBT dan juga dampak desas-desus orang-orang yang langsung membicarakannya akibat melihat aktivitas sosial yang ‘tak wajar’ itu. Dan itu adalah hal yang wajar.

LGBT yang Bete

Menyoal LGBT, saya jadi teringat penjelasan dari salah seorang Senior Specialist dan Neuroscientist dari Universitas California, Amerika Serikat, Dr. Taruna Ikrar, M.D. M. Pharm., Ph.D. yang beberapa waktu lalu artikelnya sempat dimuat di laman republika.co.id (20/02). Beliau menjelaskan bahwa orientasi seksual seseorang bisa saja dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang teradap lawan jenisnya. “Cara berpikir dan orientasi seksual seseorang, sangat dipengaruhi oleh pola pikirnya – yang tentu saja akan menentukan hubungan antara sel-sel saraf otak (sinaps) seseorang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Taruna menjelaskan bahwa artinya, apabila pola pikir seseorang dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman seseorang terhadap jenis tertentu, ataupun akibat trauma tertentu, maka secara neuroplastisitas akan terstruktur hubungan tertentu di otak. Neuroplastisitas sendiri adalah kapasitas sistem saraf untuk mengubah struktur dan fungsinya sebagai reaksi terhadap keragaman lingkungan. Pada akhirnya akan menyebabkan seseorang suka pada jenis orientasi seksual tertentu – yang boleh jadi kesukaannya bertentangan dengan pemahaman manusia normal secara umum yang lazim (disorientasi seksual).

Hubungannya dengan cerita saya di awal tadi adalah tentang bahayanya, Bahayanya bukan hanya pada si pelaku, tapi juga bahaya sosial yang bisa saja menimpa orang-orang yang yang telah terlanjur melihat ‘keganjilan sosial’ yang nyata, baik itu melalui penglihatan langsung, media televisi, media cetak, ataupun media online. Bahaya itu bisa saja menjadi stigma negatif yang akan meracuni otak-otak masyarakat kita. Saking seringnya masyarakat kita disuguhkan dengan berbagai macam fenomena langsung yang ada ataupun siaran-siaran tentang LGBT dan segala tetek bengeknya, masyarakat justru semakin marasa bete dan dikhawatirkan LGBT bisa menjadi sesuatu yang dibenarkan oleh masyarakat itu sendiri, dan Pembenaran itu semacam menjadi neurotransmitter yang dalam sistem syaraf berperan sebagai perantara impuls listrik dan kimiawi yang menghubungkan antar sinaps. Padahal, jika terjadi gangguan pada neurotransmitter, bisa saja menyebabkan reaksi abnormal pada seseorang, termasuk disorientasi seksual.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis, paling tidak kita bisa mengantisipasinya melalui dua hal, yaitu: Pertama, bagi masyarakat kita pada umumnya, sebaiknya kita bisa bersikap se-selektif dan se-protektif mungkin terhadap fenomena-fenomena macam LGBT. Kedua, bagi semua media, tetaplah patuhi UU yang berlaku, seperti UU penyiaran Pasal 5 nomor 23 tahun 2002, juga tetaplah patuhi P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran). Karena bagaimanapun, media adalah sebagai society of social control yang seharusnya bertanggungjawab untuk menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai positif masyarakat serta jati diri bangsa. Jangan sampai masyarakat menjadi bete hanya karena media. Jika masyarakat bete, urusan bisa tambah berabe.

Bete tambah kere
Dari sudut pandang manapun, LGBT tetaplah tidak bisa dibenarkan. Bagi sebagian orang yang memperjuangkan kebenaran LGBT, mereka berdalih bahwa pelarangan terhadap LGBT adalah pelanggaran HAM, pengekangan terhadap kebebasan. Sungguh inilah suatu pembelaan yang kere, miskin. Miskin pengetahuan, miskin pandangan, dan terlebih miskin moral.

Mereka mungkin lupa kalau kebebasan tidaklah hanya sebatas kebebasan berkeinginan (free will), kebebasan memilih (free choice), dan juga kebebasan beraksi (free act). Kebebasan bertanggungjawab pun seharusnya tetap diproritaskan. Kebebasan bertanggungjawab dipilih tentu berkaitan dengan pilihan hierarki nilai tertinggi yang diputuskan oleh seseorang, dan nilai tertinggi berkaitan dengan pilihan-pilihan moral yang dipertanggunjawabkan, baik itu secara norma hukum, agama, sosial, akal sehat. Tetapi sayangnya, LGBT sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan. Sungguh parah.

Kere mental tape

Ibarat tape, LGBT bisa diibaratkan demikian. Tape adalah makanan yang lembek, mudah hancur. Begitu pula LGBT. Perilaku LGBT adalah mental tape, lembek, tak punya landasan yang tak bisa dibenarkan dari segi manapun, maka, wajar saja jika pada akhirnya mudah sekali hancurnya.

Juga bagi sebagian orang, tape adalah makanan yang enak. Akan tetapi lama-kelamaan, jika dibiarkan saja, tape bisa menjadi makanan yang mematikan dan memabukkan. Jika sudah begitu, semua orang pasti akan menjauhinya. Begitu juga dengan LGBT, bagi sebagian orang yang pro-LGBT, awalnya mereka merasa menikmatinya, tetapi lama-kelamaan mereka akan semakin dijauhi orang lain, jauh dari kebenaran religius dan nilai-nilai moral. Lambat laun, para pelaku LGBT akan terhakimi atas kesalahannya, dan tentu saja akan dilaknat seperti para Kaum Nabi Luth di Kota Sodom dahulu kala – yang telah diceritakan dalam Al-Qur’an.

Jadi, masih mau membenarkan LGBT? Masih mau memiliki mental lembek? Masih mau jauh dari nilai-nilai kebenaran? Masih pengen kere pandangan, kere moral, kere pengetahuan?. Pikirkan! Itu saja.

Dilema Sang Aktivis

Oleh: Awaluddin

Mencoba mengkritisi kalimat pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 bahwa “katanya” tujuan negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun faktanya dilapangan kita justru sebagai bangsa dibodohi oleh mereka para pemangku kebijakan yang notabenenya adalah orang yang kita amanahkan untuk memperbaiki negara ini. Saya menggunakan kata “memperbaiki” karena memang pada awalnya negara kita telah dirusak oleh oknum-oknum, entah itu oknum luar dari lingkaran kita (bangsa Indonesia) ataupun oknum dalam negeri kita sendiri.

Saya mengatakan kita “dibodohi” sebabnya dikarenakan pemerintah di satu sisi memaksa kita untuk cerdas, namun ketika kita cerdas dan kritis dalam berfikir, kritis dalam menanggapi kebijakan birokrat, apa yang terjadi? Kita justru dihujat, gerakan kritis kita dimatikan, kita bahkan diancam dikeluarkan dari kampus jika yang kita kritisi adalah kebijakan birokrat kampus.

Menanggapi slogan andalan presiden ke-7 kita dalam 70 tahun kemerdekaan Indonesia, yakni “Revolusi Mental”, pertanyaan saya sudah sejauh manakah hal itu dilakukan? Toh pendidikan kita hari ini masih tetap saja memaksa kita menjadi output yang siap kerja dimana arus kapitalisme yang semakin kejam dan serakah terhadap materi, sehingga menjadikan kita sebagai bagian dari faktor produksi yang artinya kita tak lebih dari sebuah produk bagi mereka sang pemilik modal.

Arus kapitalisme kejam yang terlalu memusatkan pembangunan di pusat ibukota membuat terjadinya penumpukan uang disana. Sebesar 70% dari uang yang beredar di Indonesia faktanya tertimbun di ibukota dimana uang tersebut hanya dimiliki 2% penduduk Indonesia. Inilah bukti kejam dan keserakahan di negara kapitalis yang bertopeng negara sekuler yang kita sebut Indonesia.

Negara Indonesia adalah negara sekuler dengan penduduk Islam terbanyak di dunia, tapi tetap saja masih terjadi kasus korupsi, kolusi dan nepotisme. Apakah akar permasalahan dari semua ini? Apakah sistemnya yang salah? Toh, yang membuat sistem itu sendiri dominan adalah mereka pada birokrat kotor. Apakah mungkin birokratnya yang salah? Tapi mereka lahir dari sistem yang kotor juga.

Tulisan ini bukanlah tulisan yang ingin membuat para pembaca menjadi pesimis dengan kondisi negara kita sekarang, tapi lebih kepada bagaimana si penulis ingin menyadarkan para pembaca tentang kondisi kita yang sedang urgent dan butuh solusi konkrit secepatnya, sehingga marilah kita bersama sepakat sebagai sesama bangsa yang menginginkan perubahan untuk segera menciptakan revolusi.

Banyak dari mereka yang menginginkan revolusi dengan aktualisasi lewat toa-toa aksi di jalan, namun faktanya mereka tak mampu menciptakan perubahan, yang ada hanyalah mewariskan aksi-aksi yang disusupi oleh kepentingan. Merekalah yang pantas kita katakan para kapitalis, yang menghalalkan penggunakan nama rakyat dalam meloloskan kepentingan.

Disisi lain dalam aspek kausalitas, tanpa sadar para pemangku kebijakan ini telah menanamkan pendidikan politik yang negatif, yang pastinya menciptakan calon pemimpin yang akan sama dengan dirinya sendiri atau bahkan mungkin jauh lebih buruk.

Tak bisa kita pungkiri bahwa kekejaman kapitalisme makin merajalela di negeri kita ini, dimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Pendapatan yang besar akan menghasilkan pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang berkualitas akan menciptakan SDM yang produktif, dengan SDM yang produktif akan menghasilkan produk yang mempunyai nilai jual tinggi, produk yang memiliki nilai jual tinggi akan menghasilkan pendapatan yang besar dan seterusnya begitupun sebaliknya. Kita harus sepakat bahwa kita harus memutus salah satu dalam lingkaran tersebut. Apakah pendapatan yang akan kita perbaiki, apakah pendidikan, apakah SDM ataukah produk yang harus kita perbaiki. Seperti contoh halnya Malaysia yang berani memutus lingkaran setan di bidang pendapatan, dimana saat harga minyak melonjak, Malaysia kemudian menjual minyak buminya lalu mengirim mahasiswanya belajar keluar negeri lalu hingga mahasiswanya kembali ke negaranya dan menciptakan perubahan.

Sebenarnya anggaran pendidikan Indonesia 20% dari APBN itu cukup mampu membiayai mereka yang berprestasi untuk menempuh pendidikan di luar negeri, namun mereka yang berprestasi kurang mendapat perhatian, bahkan jika mereka telah berhasil menyelesaikan studi di luar negeri kebanyakan dari mereka tak diberdayakan dalam negeri. Nepotisme masih menjadi syarat untuk mendapatkan pekerjaan.

Jika pendidikan adalah akar masalah dari banyaknya problem di negeri ini, maka kita akan sampai pada masalah apakah sistem pendidikannya yang bermasalah ataukah orang yang membuat sistem ini yang bermasalah, toh pada dasarnya orang-orang yang membuat sistem pendidikan tersebut juga lahir dari sistem pendidikan. Lalu kita pun terjebak lagi dalam lingkaran setan.

Sebagai generasi penerus bangsa ada 100 alasan kenapa kita pesimis untuk memperbaiki kondisi bangsa ini, tapi kita harus tahu bahwa ada 1001 alasan mengapa harus optimis untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. (FW)

Pendidikan Alternatif : Semangat Yutori Kyoiku ala Indonesia

Oleh : Dicky Adra Pratama

Kualitas SDM
Sumber Daya Manusia adalah faktor utama yang menentukan nasib suatu Negara. Dengan kata lain, suatu Negara disebut Maju atau Berkembang tergantung dari kualitas SDM nya. Pemerintah kita beberapa kali terlihat mencanangkan konsepsi yang diyakini dapat meningkatkan kualitas SDM. Tapi bila ditelisik lagi, sampai sejauh ini belum ada perubahaan besar yang terlihat pada SDM Indonesia. Maka dari itu harus ada standart priority dan rancangan strategis untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Rancangan itu harus dilancarkan melalui pendidikan.

Pendidikan
Salah satu aspek yang mendominasi dan menjadi dasar dalam menentukan kualitas SDM adalah pendidikan. Selama ini kita meyakini bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam kemajuan suatu bangsa. Baik atau buruknya pendidikan yang ada akan berdampak secara langsung dan spesifik terhadap kehidupan kita. Sejak lama pun para pakar pendidikan kita sudah mengusahakan untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan bangsa kita. Meskipun begitu, sampai sekarang bangsa Indonesia masih belum dapat dikatakan maju jika dibandingkan bangsa yang lainnya. Wajar saja bangsa kita ketinggalan jauh, halnya wajah pendidikan kita masih terlihat kaku dan abstrak. Pendidikan kita belum memiliki konsepsi yang jelas mengenai rumusan substansi pendidikan yang berorientasikan pada kemajuan bangsa dan peran pendidikan dalam memajukan bangsa. Indonesia masih berkutat pada kurikulum dengan 6 jam belajar dan dengan segudang mata pelajaran yang diberikan dalam satu waktu. Kecenderungan untuk mengajarkan semua hal yang dianggap penting ke dalam kurikulum pun muncul. Padahal, paradigma yang harus dibangun adalah meski semua mata pelajaran dirasa penting, pelajaran tersebut tidak boleh diajarkan semua. Sebab hal ini akan menjadikan anak didik terbebani dan pendidikan yang sudah diberikan akan menguap begitu saja.

Yutori Kyoiku

Indonesia harus mencontoh Jepang dalam urusan Pendidikan. Sebab, sejak 2002 lalu, Jepang benar-benar menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada melalui pendidikan. Ini dibuktikan dengan “Yutori Kyoiku”. Dengan kurikulum ini, siswa akan lebih rileks dalam proses pembelajaran. Memotong 30 persen jam belajar dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar, mengeksplor banyak hal di luar kelas. Semangat Yutori Kyoiku Jepang ini menjadikan siswa lebih berkembang daya pikir dan nalarnya untuk menjadi mandiri, kritis, kreatif dan cerdas. Inilah yang belum dimiliki oleh Indonesia.

Bagi kita yang tidak memiliki kuasa untuk mengubah regulasi apalagi kurikulum pendidikan yang sudah ada, kita hanya dapat berusaha menjalankan alternatif pembelajaran dengan semangat “Yutori Kyoiku ala Indonesia”. Semangat untuk tetap berlandaskan pada aspek local wisdom yang ada sehingga selain alternatif pembelajaran yang kita bawa dapat meningkatkan kualitas SDM Indonesia dalam hal ini adalah siswa, cara yang kita tempuh akan dapat mudah diterima, bahkan mungkin akan didukung penuh oleh masyarakat Indonesia.

Semangat Yutori Kyoiku ala Indonesia ini dapat diwujudkan melalui gerakan pendidikan dengan konsep volunteerism dan yang juga memanfaatkan peran civil society seperti Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, Rumah Inspirasi Bangsa PPB dan beberapa lagi. Gerakan ini mendapatkan sambutan baik di masyarakat dan seiring berjalannya waktu, gerakan ini diyakini dapat menjadi alternatif dari kejenuhan proses pendidikan dan pembelajaran kita saat ini. Sebagai pemuda, menjadi tugas kita untuk turun tangan memperluas gerakan ini.

“Bom Waktu Si Kotak Ajaib”

Oleh : Azhar Nasih Ulwan

Adikku saat ini memiliki hobi unik, senang menirukan aksi perkelahian yang terdapat didalam film-film aksi atau tayangan televisi. Fenomena tersebut tidak asing dikalangan anak-anak zaman sekarang. Komersialisasi siaran televisi menjadi cikal bakal produksi tayangan bobrok yang meracuni siapa saja yang menontonnya. Televisi dengan pengaruhnya yang begitu besar, akan berbahaya apabila menampilkan tayangan negatif karena dapat mempengaruhi paradigma bangsa ini menjadi bangsa yang buruk.

Hanya ada dua pilihan bijak, “Matikan televisi atau pilih tayangan bermutu!”. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) harus tegas bersikap tanpa pandang bulu demi utuhnya negeri ini. Bila penyiaran televisi tidak mendapat perhatian serius, saya yakin hal ini akan menjadi bom waktu bagi bangsa kita. Lama-kelamaan jika dibiarkan akan membawa ledakan kehancuran. Kita harus meredam ledakannya, bahkan mematikan bom waktu yang kian berjalan mundur!

Bom Waktu Si Kotak Ajaib

“Ciat.. ciat …” bergaya seperti superhero dengan sehelai kain bak sayap yang bergelantungan dipunggungnya, adikku memukul dan menendang sekenanya. Tak ayal aku langsung menangkis dan memiting tubuhnya. Walaupun sudah kukunci erat, adikku memberontak dan berusaha lepas. Hingga akhirnya dia menghentikan aksinya ketika musuhnya (aku) bersedia memohon ampun dihadapannya. Sambil bergaya bak pahlawan yang menang perang, adikku hengkang dari hadapanku. Adikku saat ini memiliki hobi unik, senang menirukan aksi perkelahian yang terdapat didalam film-film aksi atau tayangan televisi.

Fenomena tersebut tidak asing dikalangan anak-anak zaman sekarang. Tak jarang gurauan yang awalnya hanya menirukan gaya petarung di televisi lama kelamaan bisa menjadi perkelahian yang sebenarnya. Bukan hanya soal menirukan gaya petarung, apapun yang terlihat menarik bagi anak-anak, ditirukannya dengan bangga. Suatu ketika saya kaget mendengar berita seorang anak nekat terjun dari lantai 53 sebuah gedung apartemen karena menirukan Superman yang bisa terbang. Anak itu bernama Connor berusia 4,5 tahun, seorang anak gitaris terkenal Eric Clipton.

Fenomena lain yang tak kalah menariknya, tidak sedikit orang tua sekarang yang bangga ketika anaknya yang masih belia dapat menirukan apa yang ditayangkan televisi. Hal tersebut saya rasakan sendiri lewat obrolan tetangga. Contohnya orang tua yang bangga ketika balita laki-lakinya pandai menirukan gaya-gaya personel girl band Cherybelle. Apa jadinya ketika dewasa, saat belia disuguhkan hal-hal yang bisa jadi membuat dia memiliki perilaku feminim padahal dirinya seorang laki-laki.

Televisi yang dibuat pertama kali pada tahun 1923 memberikan perubahan yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Informasi dari belahan dunia manapun dapat diakses dengan mudah melalui televisi, terlebih ketika sudah didukung teknologi parabola atau terhubung satelit. Rumah keluarga saya merupakan salah satu dari sekian juta rumah yang memiliki televisi dengan menggunakan jasa saluran berbayar. Ratusan program televisi dapat diakses melalui jaringan tersebut. Hal ini membuat siapa saja akan lebih betah untuk berlama lama didepan televisi melihat berbagai program tayangan menarik mata dari seluruh dunia.

Adik saya salah satu dari sekian banyak anak yang setiap harinya seringkali berasyik ria dengan televisi. Sekali melihat tayangan televisi terutama kartun, maka tak ubahnya seperti patung yang serius menatap layar kaca. Ketika sudah terjebak dengan hipnotis televisi, untuk makan, mandi atau mengikuti perintah orang tua sangat susah. Perintah untuk menjalankan ibadah shalatpun begitu susah dijalankannya ketika sudah asyik dengan televisi. Usianya sudah menginjak 9 tahun, seperti halnya anak-anak pada umumnya yang suka bermain. Tetapi bila sudah didepan televisi, ajakan temannya untuk bermain di luar rumah sering diabaikan, hal ini bisa membuat dia pasif sosial.

Hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh adik saya, tidak sedikit dari anak-anak sekarang, terutama yang hidup dikawasan kota terjebak dalam dunia yang disajikan oleh televisi. Bahkan menurut UNICEF anak-anak Indonesia menghabiskan hampir sekitar 5 jam di depan televisi setiap harinya. Dua kali lipat daripada yang disarankan UNICEF bagi kesehatan mental dan fisik anak.

Melihat fakta yang lekat disekitar, dampak tayangan televisi pada umumnya memberikan arus negatif. Perlahan tapi pasti meracuni pikiran yang menontonnya. Bayangkan, jika seorang anak yang memiliki rasa keingintahuan tinggi menonton tayangan-tayangan kekerasan setiap harinya. Bila berungkali terekam dalam pikiran akan menjadi sebuah gagasan atau ideologi dalam hidupnya. Ketika ideologi itu semakin distimulus, otomatis akan melahirkan sikap atau kebiasaan. Contohnya saja kasus si anak ‘Superman’, dengan polos menganggap dirinya seorang superhero yang bisa terbang, karena stimulus yang diberikan televisi menghasilkan sikap keyakinan kepada dirinya sebagai Superman.

Akibat Perbuatan si “Kotak Ajaib”

Komersialisasi siaran televisi menjadi cikal bakal produksi tayangan bobrok yang meracuni siapa saja yang menontonnya. Fakta acapkali diputarbalikkan dengan dusta, dan dusta menjadi fakta. Hal negatif ringan saja disajikan asal menghasilkan berjubel jubel uang. Hal inilah yang dapat merusak pemikiran anak bangsa hingga akhirnya menimbulkan perilaku negatif. Ketika perilaku negatif itu sudah lekat dimasyarakat, maka rusaklah negara ini.

Atas kepentingan komersialisasi, semakin banyak hal negatif mewarnai dunia layar kaca. Bisa anda koreksi satu persatu dan hitung berapa banyak presentase hal negatif yang disajikan daripada hal positif. Padahal, hampir setiap rumah yang kita temui di Indonesia setidaknya memiliki satu televisi, bahkan ada yang memiliki dua atau lebih. Sehingga mudah saja tayangan negatif merasuki paradigma masyarakat, bagaikan virus yang bisa membuat wabah penyakit.

Dahulu memang stasiun televisi di Indonesia hanya TVRI yang menyajikan berita-berita penting. Lantas muncul beberapa stasiun televisi, salah satunya TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), dengan misi menyajikan siaran yang mendidik. Tetapi, siapa sangka pada akhirnya menyiarkan acara-acara tak mendidik dan bobrok seperti dangdut yang mengumbar aurat hingga akhirnya ditutup dan diakuisisi oleh perusahaan lain.

Efek negatifnya bagi anak, dengan sering lamanya menonton televisi membuat anak pasif secara sosial. Anak akan jarang bergaul dengan dunia nyata, lebih banyak berimajinasi dengan dunia televisi. Ketika menontonpun sang anak dalam posisi pasif, hanya berdiam diri menerima informasi digital yang disampaikan. Tentu ini berdampak secara fisik bagi kesehatan sang anak. Si anak akan lebih memilih menonton televisi ketimbang belajar atau membaca, karena aktivitas menonton mudah saja dilakukan. Apa jadinya bila agen perubahan masa depan bangsa tidak bergiat untuk belajar, hari esok tentu akan suram menanti.

Tayangan dan berita kekerasan di media meningkatkan kegelisahan, ketakutan, dan perilaku agresif, serta masalah pendidikan dikalangan anak-anak. Tidak heran anak-anak zaman sekarang ketika diperingati akan kesalahannya malah membangkang bahkan melawan. Masalah kekerasaan tidak hanya persoalan diranah dunia anak, bahkan kasus kekerasan orang dewasa seperti kisruh demonstrasi, tawuran pelajar, dan pembunuhan kian menjadi hobi masyarakat kita. Sebut saja penembakan anggota POLRI, pembunuhan Sisca di Bandung, pembantaian Lapas Cebongan, Tawuran antar masyarakat dan masih banyak lagi.

Tayangan seperti sinetron dan (un)reality masih menjadi primadona dimasyarakat. Saya menilai tayangan sinetron Indonesia sebagian besar mengandung unsur pendidikan yang buruk. Sinetron favorit remaja yang menggambarkan kehidupan di sekolah seringkali menonjolkan hal-hal berbau romantisme. Sekolah kerap dijadikan tempat untuk menyemai romantisme dengan lawan jenis, bukan malah sebagai tempat belajar. Semangat seorang remaja yang keren dan sukses bukan digambarkan sebagai remaja yang taat dengan berbagai aturan dan memiliki prestasi tinggi, melainkan remaja yang sukses memiliki pacar dengan paras cantik entah bagaimanapun caranya. Bukankah hal ini mempengaruhi orientasi kehidupan remaja?

Belum lagi tayangan sinetron telenovela yang digemari oleh ibu-ibu, memiliki persuasi terhadap sifat buruk yang banyak. Entah itu mencibir, menggosip, berbohong, berlaku licik dan lain sebagainya. Ditambah figur-figur dalam sinetron, walaupun berjubah seorang ahli agama tak ubah layaknya profokator kerusuhan, padahal pendidikan yang paling ampuh adalah melalui teladan. Figur tersebut ditemui seperti dalam sinetron “Para Pencari Tuhan”. Apa jadinya bila yang menjadi teladan anak bangsa adalah figur semacam itu?

Figur semacam itu tak hanya tampil dalam sinetron, hampir seluruh program komersial untuk menarik minat penonton ditampilkan figur yang nyeleneh. Sebut saja seorang presenter dengan inisial OS dalam program “Dahsyat” sangat laris diberbagai program televisi. Walaupun jelas dia adalah laki-laki, tetapi perilakunya kerap meniru perempuan atau berperilaku banci. Selain itu, pelecehan verbal terhadap kawan dalam satu programnyapun sering dilakukan. Hal ini bisa menimbulkan krisis identitas bagi masyarakat kita. Ataupun figur seorang presenter wanita berinisial S, dengan program di salah satu stasiun televisi yaitu “Show_imah”, presenter tersebut kian mewarnai sajian layar kaca yang nyeleneh. Perilaku berlebihan dan minim etika sering ditampilkan oleh presenter tersebut, seperti tertawa sekencang-kencangnya, berguling-guling dan jungkir balik, padahal dia adalah seorang wanita dan seorang ibu. Sikap kewanitaan serta sopan santun kerap tidak ditampilkan.

Atmosfer politik Pemilu 2014 tentu ikut andil dalam dunia pertelevisian belakangan ini. Bahkan pemilik perusahaan-perusahaan televisi ikut terjun dalam gemerlap Pemilu 2014, baik mencalonkan diri menjadi Presiden ataupun Wakil Presiden. Saya tidak tahu, konspirasi seperti apa yang akan terjadi demi mewujudkan suksesnya jalan politik si pemilik stasiun televisi. Bisa jadi program yang disiarkan sudah tidak netral dan menyajikan berita yang kurang benar untuk masyarakat.

Budaya-budaya barat yang ditayangkan televisi dapat menimbulkan gegar budaya (cultural shock) bagi masyarakat kita, terutama pemuda. Karena pemuda yang memiliki potensi tinggi untuk mengadopsi budaya tersebut. Adegan dewasa yang menggambarkan budaya pergaulan barat kerap ditampilkan dalam film-film di televisi buatan negara barat. Belum lagi program televisi dari barat yang saat ini mudah diakses. Kebiasaan minum minuman keras pun kerap ditampilkan, ini memberikan gambaran bahwa minuman keras adalah hal biasa dan boleh. Padahal jelas hal ini tidak sesuai dengan budaya yang kita miliki. Banyak berita di negeri ini yang menyajikan fakta minuman keras berujung pada pembunuhan, pemerkosaan atau hal mengerikan lainnya. Adapula budaya berpakaian minim, padahal sudah jelas negara kita memberlakukan undang-undang pornografi.

Berita korupsi, kriminalitas, gosip berbalut kebohongan dan berita negatif lainnya perlahan menggerogoti idiologi bangsa ini. Jarang kita mendengarkan berita positif pembangun optimisme bangsa. Inilah penjajah kontemporer bangsa ini, pesimistis dan lunturnya rasa percaya diri. Berbagai keterpurukan Indonesia menjadi doktrin pesimistis yang disajikan televisi. Hal ini membuat bangsa kita diliputi pesimistis yang membludak. Tak hanya itu, berita dalam siaran televisi terlalu banyak menyajikan hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif bangsa ini. Bukan malah mempersatukan, justru dapat menimbulkan perselisihan dalam tubuh bangsa ini. Berita kerusuhan, pembunuhan atau pemerkosaan berulang-ulang diulas bahkan ditayangkan dalam investigasi khusus, sedang dikemanakan berita-berita prestasi bangsa ini yang dapat membangun optimisme dan nasionalisme?

Bangsa ini semakin berpenyakit dengan banyaknya virus-virus bobrok yang ditebarkan oleh si Kotak Ajaib. Saya menyebutnya sebagai kotak ajaib karena pengaruhnya yang begitu luar biasa. Masyarakat dengan mudahnya dapat dihipnotis dengan tayangan murahan dan penuh kedustaan. Ini merupakan pembodohan terselubung yang dilakukan secara jama’ah. Perlahan tapi pasti masyarakat kita seperti menderita penyakit yang mematikan, waktu demi waktu stadium penyakit tersebut kian meningkat. Hingga suatu waktu nanti, meledaklah penyakit tersebut menjadi sebuah kehancuran.

Bertindak Preventif dan Represif

Ironi memang ketika dalam suatu situs surat kabar, sempat saya baca salah satu komentar peneliti dari luar negeri “I’ve been in many households in Indonesia that have a dirt floor, but they also have a television.” Kungkung kebodohan kian kuat memenjarakan bangsa. Tayangan televisi menjadi konsumsi favorit masyarakat bangsa ini, tidak terkecuali mayarakat menengah kebawah.

Si Kotak Ajaib tak akan berhenti memberikan pengaruhnya kepada masyarakat kita, selama komersialisasi dan kapitalisme menjajah ranah tersebut. Tentu hal tersebut secara tidak langsung menjajah negeri kita dalam kungkung kebodohan. Berbagai tindakan harus segera kita lakukan, demi utuhnya bangsa ini, kini hingga masa mendatang. Tindakan tersebut dapat berupa pencegahan maupun tindakan langsung ketika kebodohan terlihat jelas melakukan persuasi dialayar kaca.

Tentu kita bisa mencegah dampak negatif si Kotak Ajaib dengan membatasi keluarga kita dari tayangan yang tak bermutu. Tetapi kita juga perlu bijak, karena tidak semua tayangan televisi mengandung unsur negatif. Masih terdapat unsur positif yang bisa kita porsikan untuk konsumsi keluarga. Hanya ada dua pilihan bijak, “Matikan televisi atau pilih tayangan bermutu!”. Pencegahan seperti ini tentu butuh ketegasan agar nantinya menjadi aturan dan kebiasaan yang membawa kearah positif.

Selain itu kita memiliki KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Tapi fungsi yang dijalankan dirasa sangat kurang. Karena masih banyak tayangan ditelevisi yang dapat lolos penyiaran padahal mengandung unsur negatif dan minim etika. KPI harus tegas bersikap tanpa pandang bulu demi utuhnya negeri ini. Selain itu, fungsi yang telah dicanangkan harus dijalankan dan kita dukung sepenuh hati, seperti dalam slogannya “Jadikan penyiaran Indonesia yang sehat, bermanfaat dan bermartabat”. Bila penyiaran televisi tidak mendapat perhatian serius, saya yakin hal ini akan menjadi bom waktu bagi bangsa kita. Lama-kelamaan jika dibiarkan akan membawa ledakan kehancuran. Kita harus meredam ledakannya, bahkan mematikan bom waktu yang kian berjalan mundur!

Memaknai dengan Bijak Gerak Revolusi Mental Indonesia

Oleh: Isna Laili Hikmah

Kata Revolusi Mental sangat erat kaitannya dengan tokoh dunia Karl Marx, sementara di Indonesia nama-nama yang kental dengan jargon ini adalah Soekarno dan tentunya Joko Widodo. Sejarah bergulir membawa pemaknaan yang berbeda-beda sesuai bentuk pola fikir yang dibawa oleh zamannya. Berbagai polemik mengenai gerakan Revolusi Mental di Indonesia menjadi hal baru yang kini tengah dihadapi terutama oleh kaum muda. Pemuda Indonesia perlu faham dengan jelas sejarah mengenai gerakan yang kini tengah dijadikan sebagai gerakan sosial perubahan bangsa menuju arah yang lebih baik.
Secara harfiah revolusi mental berasal dari dua suku kata yaitu “revolusi” dan “mental”. Revolusi berarti perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa mental bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yg bukan bersifat badan atau tenaga. Sehingga jika diartikan secara segi bahasa “Revolusi Mental” adalah upaya untuk melakukan perubahan sosial dan kebudayaan secara cepat yang menyangkut dasar atau pokok kehidupan bermasyarakat dalam hal ini yang dimaksud adalah memperbaiki karakter manusia menjadi lebih baik.

Karl Marx dan Revolusi Mental Indonesia.
Dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang revolusioner, tokoh satu ini lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Karl Marx disebut sebagai Bapak Sosialis-Komunis dunia. Pandangan Karl Marx mencetuskan paham Marxisme yaitu  paham yang bertujuan untuk memperjuangkan kaum Proletar untuk melawan kaum Borjuis. Teori Marxisme yang secara umum dipandang sebagai dasar ideologi komunisme dicetuskan dan dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engel sejak 150 tahun yang lalu sebagaimana dalam bukunya The Manifesto of the Communist Party yang di terbitkan pada tanggal 21 February 1845 merupakan sebuah manifesto politik mengenai teori komunis yang menekankan pada perjuangan kelas dan kesejahteraan ekonomi. Revolusi Mental yang gencar di suarakan oleh Marx lebih condong kepada perjuangannya membela kaum proletar dalam bidang ekonomi.
Pandangan Marx di nilai masyarakat dunia sebagai aliran ekstrim (aliran kiri) yang tidak berpijak pada nilai-nilai agama, Marx di nilai melakukan pencucian otak terhadap berbagai masyarakat untuk mengganti keseluruhan faham yang sudah ada dengan faham komunis yang sering di sebut juga sebagai Revolusi Mental. Sejarah inilah yang menjadikannya sebagai Bapak Komunis Dunia.
Indonesia mengalami pergantian presiden di tahun 2014 dengan presiden terpilih adalah Joko Widodo (Jokowi). Pada bulan ke-lima tepat tanggal 24 di tahun yang sama, salah satu materi kampanye Presiden terpilih yang paling banyak ditanggapi publik adalah usulan perlunya Revolusi Mental sebagai solusi penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini. Dalam sebuah acara di TV swasta, Jokowi mengatakan ingin mengubah mental orang Indonesia yang cenderung tidak percaya diri menghadapi dunia. Dia menjelaskan keinginannya untuk mentransformasi masyarakat, “Revolusi mental dari negativisme menuju positivisme”. Menurutnya, revolusi mental dapat memenuhi visi yang dia namakan “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian” (Supelli dkk, 2015).
Untuk lebih memperkokoh kedaulatan, menigkatkan daya saing dan mempererat persatuan bangsa kita perlu melakukan revolusi mental” – JOKO WIDODO
Ungkapan Jokowi menjelaskan bahwa paham Revolusi Mental yang dipaparkan Karl Marx dengan dirinya berbeda. Menurut Jokowi Revolusi mental berarti warga Indonesia harus kembali mengenal dan menjalankan karakter orisinil bangsa Indonesia yang santun, berbudi pekerti dan bergotong royong.
Namun pada bulan Maret 2015, yang merupakan awal semester pemerintahan Jokowi memimpin Indonesia, banyak orang mempertanyakan kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi. Secara khusus, bahkan,sebagian mengungkapkan sinisme atas ide revolusi mental yang dicanangkan di masa kampanye. Salah satu saran yang mengemuka, yang terkait dengan bagaimana revolusi mental itu dilakukan, adalah dengan pemberian contoh oleh para pejabat. Pejabat, termasuk presiden, harus mampu memberi teladan baik kepada masyarakat. Mereka adalah figur yang menyebarkan inspirasi bagi orang lain. Bagaimana revolusi mental dapat menjadi jawaban atas segala masalah bangsa? Banyak pihak seperti tidak menemukan jawaban pada semester pertama pemerintahan Presiden Jokowi ini (Supelli dkk, 2015).

Soekarno Penggagas Revolusi Mental Indonesia
“Revolusi mental merupakan satu gerakan untuk mengggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala” -SOEKARNO-
Revolusi Mental pertama kali digunakan Presiden Soekarno tahun 1957 ketika revolusi nasional sedang berhenti. Gerakan itu ditujukan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Soekarno memandang saat itu revolusi nasional Indonesia sedang “mandek” padahal tujuan revolusi belum tercapai.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan revolusi itu mandek, diantaranya:
1. Penurunan semangat dan jiwa revolusioner para pelaku revolusi baik rakyat maupun pemimpin nasional.
2. pemimpin politik masa itu masih mengidap penyakit warisan kolonial seperti “hollands denken” atau gaya berpikir penjajah Belanda.
3. Penyelewenangan di lapangan ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Keadaan tersebut yang membuat presiden Soekarno dengan sigap mencetuskan gerakan Revolusi Mental kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia. Bagi Bung Karno, Revolusi Mental sebagai “gerakan hidup baru” yang bertujuan tidak hanya menanamkan rasa percaya diri pada diri sendiri dan kemampuan sendiri, tapi juga menanamkan optimisme dan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan-kesulitan bermasyarakat dan bernegara. Sebagian rintangan terhadap revolusi bersumber pada corak berpikir dan bertindak yang bertolak belakang dengan semangat kemajuan. Untuk itu diperlukan “Revolusi Mental” yang merupakan perombakan cara berpikir, cara kerja/ berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional (Indonesia baik).
Tri Sakti Indonesia dan Revolusi Mental Korea
“Sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan” -SOEKARNO-
Sebuah ide positif layak kita apresiasi, perlu adanya pemahaman mengenai Revolusi Mental kepada seluruh elemen masyarakat agar sinisme atas ide ini dapat berubah menjadi dukungan untuk sama-sama melakukan yang terbaik.
Konsep tri sakti yang di gaungkan oleh Bung Karno masih relevan dengan kondisi saat ini, dimana kondisi sebuah negara harus mampu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Dalam konteks revolusi mental, untuk mencapai arah bangsa sesuai konsep tri sakti adalah dengan melakukan gerakan sosial yang mampu merubah cara pandang rakyat menjadi lebih percaya diri, mampu mengubah mental pesimis dan berpikiran negatif irasional, menjadi optimis dan rasional positif.
Gerakan revolusi mental di Negara lain pernah terjadi sebelumnya yaitu di Korea. Korea  memulai gerakan revolusi mental ini sejak 1960 dengan konsep Saemul Undong, yakni pembangunan bangsa dari desa. Korea telah membuktikan bahwa mereka mampu berdikari dengan menjadikan dirinya sebagai negara industri. Korea sangat menjunjung tinggi nilai kesopan santunan serta mencintai produk dalam negeri. Negeri ini juga tak lupa terhadap kebudayaan yang ada, terbukti bahwa ditengah kemajuan teknologi yang sangat pesat warga korea tetap menjunjung tinggi kebudayaan negaranya.
Rezky Sookgi Kim (Direktur Korea Culture Center) dalam kompas (2014) menjelaskan bagaimana orang korea menciptakan kesuksesan dalam 20-30 tahun. Dia mengatakan bahwa hal pertama yang terpenting adalah pertama PENDIDIKAN, mereka mempunyai keinginan untuk belajar dan mengajar anak-anak. Kedua DEADLINE, mereka cenderung untuk menyelesaikan segala hal tepat waktu, jika sudah mempunyai deadline, orang korea biasanya menyelesaikan pekerjaan sebelum batas waktu yang sudah ditentukan, dan ketiga, HARD WORKING, mereka sangat mementingkan bekerja dari pagi sampai malam tiada henti. Mereka sangat menghargai orang yang rajin bekerja dibanding orang yang sering beristirahat.
Jika proses yang dilakukan Indonesia dalam melaksanakan Revolusi Mental dilakukan berdasarkan kesadaran bersama setiap warga negara,untuk bersama-sama merubah sifat mentalitas menjadi lebih baik, maka apa yang telah dicapai Korea pasti bisa dicapai oleh Negara kita. Ini hanya soal waktu dan skala. “Korea bisa lebih cepat karena penduduk kami hanya 50-an juta, sementara Indonesia sudah 250-an juta,namun, perencanaan langkah dan insentif yang tepat dari Pemerintah juga harus seiring sejalan dengan Revolusi Mental. “Pasti bisa!” Rezky Sookgi Kim (Direktur Korea Culture Center).
Jadilah orang cerdas dan berpengatahuan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Daftar Pustaka
Supelli Karlina dkk. 2015. Revolusi Mental Sebagai Strategi Kebudayaan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015. Jakarta
Kemenko PMK. 2015. Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kemenko PMK. Jakarta.
Direktorat Jenderal Informasi dan komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. 2015.Government Public Relation (Topik Revolusi Mental). Direktorat Jenderal Informasi dan komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi RI.
Kompas. 2015. Revolusi Mental Ala korea. Di unduh dari (http://mmm.kompas.com/revolusi.mental.ala.korea/#) pada 12 februari 2016 pukul 22:03

Dana Desa dan Peran FNM dalam Penggunaannya

Oleh : Siti Awaliyatul Fajriyah

“Setiap desa kan dapet uang pembangunan per tahun, pada dikemanain tuh?”
“Taun ini program unggulan desa apa ya? Kan tiap taun dapet dana tuh.”
“Taun kemarin dana desa dipake buat benerin jalan, taun ini buat apa ya dananya?”

Beberapa pertanyaan diatas beberapa kali muncul dalam obrolan-obrolan masyarakat sehari-hari. Hal ini menunjukkan perhatian masyarakat terhadap dana yang diperoleh desa setiap tahun demi pembangunan desa tersebut. Dalam PERMENDAGRI Republik Indonesia Nomor 113 Tahun 2014, dijelaskan bahwa dana desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015, prioritas penggunaan Dana Desa untuk pembangunan Desa dialokasikan untuk mencapai tujuan pembangunan desa yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan. Cara-cara yang dapat dilalui antara lain

  1. pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya kesehatan dengan pengadaan Posyandu;
  2. Pembangunan sarana dan prasarana Desa, misalnya jalan raya untuk kepentingan transportasi;
  3. Pengembangan potensi ekonomi lokal; dan
  4. Pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.

Di dalam arsitektur, ada beberapa masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara mudah yang menghasilkan dampak instan saat itu juga. Arsitek terbiasa untuk menganalisis masalah dari sumbernya dan mencari penyelesaiannya dengan pendekatan ruang. Ketika di sebuah kawasan kota terjadi kemacetan yang tak kunjung slesai, dibutuhkan analisis mendalam mengenai penyebab kemacetan tersebut. Bukan sesederhana kurang lebarnya badan jalan, atau tidak adanya pengatur lalu lintas, bisa jadi ada hal-hal lain yang berkaitan dengan konteks ruang sekitar yang terjadi berulang setiap hari yang secara tidak langsung membuat kemacetan. Setelah mengetahui akar masalahnya, arsitek akan menyelesaikan masalah itu dengan pendekatan keruangan. Bagaimana ruang dapat mengintervensi kemacetan yang terjadi? Bagaimana kemungkinan-kemungkinan perlakuan yang akan timbul setelah intervensi itu dilakukan? Dan akhirnya melahirkan sebuah desain yang menjadi intervensi positif terhadap masyarakat.

Masyarakat pedesaan cenderung lebih menyukai hal-hal berwujud fisik dalam penggunaan dana desa. Oleh karena itu, penggunaan dana desa untuk mengintervensi ruang di desa cukup tepat dilakukan. Masyarakat dapat merasakan secara langsung hasil penggunaan dana desa. Masalah-masalah yang mulanya dirasakan, akan otomatis terselesaikan.

Dalam konteks pedesaan dengan dana yang diterimanya setiap tahun, membutuhkan waktu yang agak panjang untuk merealisasikan ide-ide yang muncul. Ketika sudah menemukan kesempatan yang tepat untuk mewujudkan desain, harus ada penyesuaian kembali agar desain tersebut masih relevan untuk dibangun. Untuk mengoptimalkan penyelesaian masalah seperti ini, dibutuhkan dukungan penuh masyarakat, salah satunya dengan perencanaan partisipatif.

Perencanaan partisipatif atau dalam bahasa asalnya disebut dengan istilah Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan suatu metode pendekatan dalam proses pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat, yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan pembangunan. Pendekatan PRA bercita-cita menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana, pelaksana program pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan. Gambaran umum daur program atau langkah-langkah pengembangan program, secara ringkas adalah sebagai berikut (Chambers, 1992) :

  1. Pengenalan masalah/kebutuhan dan potensi serta penyadaran;
  2. Perumusan masalah dan penetapan prioritas;
  3. Identifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah/pengembangan gagasan;
  4. Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang paling tepat;
  5. Perencanaan penerapan gagasan; Penyajian rencana kegiatan;
  6. Pelaksanaan pengorganisasian;
  7. Pemantauan dan pengarahan kegiatan;
  8. Evaluasi dan rencana tindak lanjut.

Peran para anggota Forum Negarawan Muda dalam hal ini sangat bervariasi. Dalam setiap langkah-langkah pelaksanaan perencanaan partisipatif, FNM dapat menjadi pendamping masyarakat dalam memberi masukan-masukan. Hal ini sangat tepat karena kebanyakan anggota FNM merupakan mereka yang pernah tinggal di kota, desa maupun keduanya sehingga dapat menyumbangkan pandangan yang lebih kaya dibanding masyarakat desa yang cenderung terkungkung oleh kehidupan desa. Pembangunan desa bukan ditujukan untuk membuatnya menjadi kota seperti yang kita kenal. Namun justru memperkaya desa itu dengan berbagai kearifan lokal yang tumbuh dari masyarakat. Dengan metode perencanaan partisipatif yang dilakukan oleh masyarakat lokal, maka masalah yang diungkap adalah masalah mereka sendiri, bukan mencontek dari desa sebelah. Aspirasi-aspirasi yang muncul pun berasal dari buah pemikiran dan kebiasaan masyarakat setempat.

Ketika semuanya sudah disintesis oleh sang arsitek, desain yang dilahirkanpun akan kontekstual. Bukan sebuah desain yang jatuh dari langit dan dipaksa hadir di masyarakat (top down), namun desain yang tumbuh dari akar kebudayaan masyarakat setempat (bottom up). Dana desa akan terlihat dengan jelas kemana larinya. Pembangunan rancangan ini menjadi bukti fisik aliran dana desa. Jika memungkinkan, justru realisasi desain dapat diperketat pengeluaran dananya dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di desa tanpa mengeluarkan biaya. Penggunakaan barang-barang bekas yang dikumpulkan oleh masyarakat dapat menjadi alternatif yang bijak untuk dilakukan.

Membangun Desa, Langkah Membangun Bangsa

Oleh : Yulinda Dwi Komala

Pembangunan Desa

Pembangunan pedesaan menjadi pilar utama pembangunan di Indonesia dan Negara berkembang. Luas wilayah pedesaan yang menjadi penggunaan lahan terbesar di Indonesia menjadi potensi tersendiri dalam pembangunan bangsa. Namun pola pembangunan yang sentralistik telah mengubah pandangan pemerintah maupun masyarakat terhadap desa itu sendiri.

Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kawasan perdesaan merupakan wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2004 tentang Desa, desa/desa adat atau yang disebut dengan nama lain, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, adanya pola berpikir yang mengkotak-kotakkan desa sebagai kategori sektoral (bias sektoral) menjadikan “desa sebagai tata kelola komunitas” yang diberlakukan sebagai salah satu sektor tersendiri yang lepas dari sektor-sektor lainnya. Akibatnya, desa yang diberlakukan sebagai sektor cenderung menciptakan fragmentasi kepentingan terkotak-kotak yang berdasar pada kepentingan. Sehingga penerapan pemberdayaan masyarakat masih dalam skala proyek-proyek, dan pendekatan pemberdayaan masyarakat diberlakukan hanya sebagai sebuah “sektor” tersendiri. Kesenjangan desa-kota atau antar wilayah pedesaan pun semakin besar dengan adanya cara pandang tersebut. Berbagai upaya untuk mengatasi kesenjangan antar wilayah telah lama dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai kebijakan dan program nasional.

Undang-Undang Desa

Sejak tahun 1998, terjadi perubahan paradigma kepada pembangunan secara desentralisasi. Sesuai dengan perubahan tersebut, pemerintah mengembangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) untuk mengatasi persoalan kesenjangan wilayah dan pengentasan kemiskinan. Program tersebut berawal dari poverty alleviation, dengan tujuan mengarahkan masyarakat desa mampu mengelola secara mandiri perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi kegiatan pembangunan desa beserta pendayagunaan hasil-hasil pembangunan desa secara mandiri.

Setelah pengimplementasian sampai pada anggaran tahun 2014, pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan dapat dikatakan baik dan memberikan prestasi berupa penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatan pembangunan desa, sehingga biaya kegiatan pembangunan menjadi relatif lebih murah dibandingkan jika dilaksanakan oleh pihak lain. Dengan dilatarbelakangi keberhasilan program PNPM, maka desa dianggap sudah mampu untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat secara mandiri. Sehingga pada tahun 2014, Presiden RI mengesahkan UU Nomor 6 tahun 2014 tentang desa. Sesuai dengan komitmen pemerintahan Jokowi-JK yang menjadikan desa sebagai pondasi pembangunan nasional, dan diperkuat dengan munculnya Gerakan Nasional Desa Membangun Indonesia yang diprakarsai oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar.

Dalam pasal 78 UU Desa, dijelaskan bahwa “Pembangunan desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan”. Pada bagian ini, dijelaskan bahwa desa memiliki kewenangan dalam mengembangkan wilayahnya. Sehingga desa berhak untuk melaksanakan perencanaan program sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pembangunan. Namun dengan begitu, desa harus memiliki sumber pendanaan yang memadai, memiliki hak untuk mengelola asset dan membentuk usaha, serta diberi kewenangan untuk menjalankan sendiri (swakelola) proyek-proyek skala desa.

Pendanaan Desa

Desa memiliki tujuh sumber pendapatan, yaitu pendapatan asli desa, bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota, bagian dana perimbangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota, alokasi anggaran dana desa dari APBN, bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota, dan pendapatan yang sah. Alokasi Dana Desa merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10 persen setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus. Dana desa ini diperuntukkan 70 persen untuk pembangunan dan 30 persen untuk operasional aparatur desa.

Berdasarkan Permen Keuangan No. 93 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Desa, prinsip alokasi dana desa pada setiap kabupaten/kota dilakukan secara berkeadilan berdasarkan alokasi dasar dan alokasi yang dihitung dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis desa setiap kabupaten/kota.

Gambar 1 Skema Pendanaan Desa

Sumber : Pembangunan Pedesaan, Budiman Sudjatmiko, 2015

Sumber : Pembangunan Pedesaan, Budiman Sudjatmiko, 2015

Implementasi UU Desa

Total dana desa yang dikucurkan pada tahun 2015 kemarin sebesar 20,7 triliun, yang diberikan kepada sekitar 70.000 desa di Indonesia. Nilai dana desa yang dikeluarkan tersebut akan meningkat setiap tahunnya seiring perkembangan desa. Menteri Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendesa PDTT), Marwan Jafar, menyatakan bahwa dana desa tahun 2015 telah mampu memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,5 persen, dan rencananya pada tahun 2016 dana desa meningkat menjadi 47 triliun. Beliau mendorong desa-desa untuk membentuk BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), karena pada pelaksanaannya BUMDes merupakan program yang dapat dengan cepat meningkatkan perekonomian desa. Dengan begitu, maka desa yang mandiri pun dapat dengan cepat terwujud, tidak terus bergantung terhadap dana desa yang dialokasikan dari dana daerah.

Meskipun begitu, Marwan menyebutkan hambatan dan tantangan yang dialami selama pengimplementasian UU Desa, diantaranya:

  1. Adanya fragmentasi penafsiran UU Desa di tingkat elit, yang berimplikasi pada proses implementasi dan pencapaian mandat yang tidak utuh
  2. Terjadi pragmatisme yang mengarah pada hilangnya kreativitas dalam menggali sumber daya lokal di desa. Dana desa belum digunakan secara optimal untuk menggali sumber pendapatan baru melalui investasi produktif yang dijalankan oleh masyarakat
  3. Demokratisasi di desa masih menghadapi kendala praktik administratif. Aparat daerah cenderung melakukan tindakan kepatuhan dari pusat untuk mengendalikan pemerintah desa, termasuk dalam hal penggunaan dana desa. Dalam desa pun terkendala oleh lemahnya tingkat partisipasi yang substantif dan konstruktif dari masyarakat desa
  4. Penguasaan rakyat atas tanah dan sumber daya alam belum terintegrasi dan belum menjadi basis dari proses pembangunan dan pemberdayaan desa
  5. Praktik pelaksanaan musyawarah desa cenderung patriarki (peran perempuan mengalami marjinalisasi)
  6. Tata ruang kawasan pedesaan harus tunduk pada tata daerah. Pembangunan desa skala lokal terkendala dengan pola kebijakan tata ruang pedesaan yang berpola top-down. Sehingga menyebabkan desa kehilangan askes sumber daya akibat kebijakan tata ruang yang belum mengakomodir aspirasi desa.

Dari sisi sistem penyaluran dana, KPK juga menyampaikan beberapa evaluasi. Johan Budi, Plt. Wakil Ketua KPK, mengatakan adanya 14 permasalahan, yang dibagi dalam empat aspek, yaitu aspek regulasi kelembagaan, aspek tata laksana, aspek pengawasan, dan aspek sumber daya manusia.

Tahun pertama pengimplementasian program wajar apabila masih mengalami berbagai persoalan, terutama sistem penyaluran dan pengelolaan dana desa, serta masih adanya kekhawatiran dalam pemberian kewenangan. Tapi walaupun begitu, kekhawatiran pemerintah tidak bisa menjadi alasan dalam menghalangi demokratisasi masyarakat desa. Monitoring dan evaluasi berkala yang dilakukan akan membantu pengembangan serta penyempurnaan program kedepannya. Sehingga terciptalah sistem yang terpadu dan jelas yang memudahkan seluruh pihak dalam membangun desa-desa di Indonesia.

Pemuda-Pemudi Makassar di Hari Kusta Internasional

AoA2RVcF87CqiiqBdShK3-OZXJcrE9J396E9XaSm-T_j
Bertempat di Karebosi Park, pemuda-pemudi Makassar yang tergabung dalam beberapa komunitas yang peduli terhadap penyandang disabilitas kusta dan eks kusta mengundang para pegiat komunitas dan masyarakat untuk ikut serta andil dalam peringatan Hari Kusta Internasional melalui social project acara Charity Human Banner di Kota Makassar, Minggu (24/1/2016).

Beberapa komunitas ikut aktif dalam mengajak masyarakat luas khususnya untuk peduli terhadap penyandang disabilitas kusta dan eks kusta. Forum Negarawan Muda salah satunya. Melalui perwakilan daerah Forum Negarawan Muda di Makassar, Forum Negarawan Muda ikut menyuarakan kepeduliannya terhadap penyandang disabilitas kusta dan eks kusta.

Acara ini sendiri merupakan sebuah aksi besar untuk mempublikasikan produk usaha milik penyandang disabilitas eks kusta dan wujud peduli terhadap mereka yang dikucilkan. Kelompok pemuda-pemudi ini berniat agar stigma negatif terhadap penderita kusta dapat berkurang. Kegiatan ini juga menjadi akses sebagai jembatan untuk menyatu dengan masyarakat luar agar dapat merasakan kehidupan sebagaimana mestinya tanpa harus ditempatkan pada ruang kehidupan lokalisasi, penyerataan dalam bekerja, dan diterima dengan semestinya.

Karena masih banyaknya stigma negatif untuk penyandang kusta. Sudah menjadi momok yang lazim didengar jika seseorang menderita kusta maka ia akan pergi menjauh dari lingkungan sekitarnya, tak ingin jika orang lain tahu, ataupun mencari suatu tempat yang tidak dihuni oleh siapapun dan bahkan ia bisa jadi menghilang dari keluarga. Hal ini yang mengakibatkan si penderita kehilangan kepercayaan diri, semangat, dan perasaan sangat sensitif dalam dirinya. Orang-orang yang tergolong menderita kusta harus mendapatkan perhatian dari seluruh lapisan masyarakat khususnya dan juga para pemerhati sosial yang peduli terhadap penyandang disabilitas agar mereka tidak dikucilkan dan dapat diberdayakan. Pemberdayaan dapat dilakukan dengan melihat kemampuan dan kapasitas mereka seperti menyediakan pelatihan kerajinan, membangun social enterprise, dan penyambung aspirasi ke pemerintah agar mereka mendapat perhatian serius.

Dengan diperingatinya Hari Kusta Internasional oleh berbagai komunitas di Makassar melalui acara Human Charity Banner, diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat luas, pemerintah dan pegiat komunitas untuk lebih bershabat dengan penderita kusta dan eks kusta serta mengakui keberadaan para penderitanya agar dapat lebih diterima di kehidupan bermasyarakat tanpa adanya pengecualian dan pengucilan. (FW)

Resik Tandang Gawe Jember Youth Social Movement

   Komunitas komunitas Jember Youth Social Movement (JYSM) merupakan komunitas yang terdiri dari gabungan pemuda Jember dari berbagai elemen. Mochammad Fauzan Dwi Harto, salah seorang penggagas komunitas ini menjelaskan bahwa kedepannya, fokus dari komunitas ini adalah program pengabdian di desa Payangan, kecamatan Ambulu, kabupaten Jember.

ALL
Untuk mengawali kegiatan komunitas ini, maka pada hari Ahad tanggal 24 Januari 2016 diadakan resik tandang gawe di desa Payangan tersebut. Rangkaian acara termasuk didalamnya adalah membersihkan sampah, memilah sampah dan sharing session membicarakan bagaimana cara mengolah sampah menjadi produk kreatif. Komunitas JYSM ini juga berusaha memanfaatkan potensi bakau yang ada di desa tersebut dengan konsep Home Industry.

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen terlibat dalam komunitas ini, utamanya pemuda asal jember dan yang berdomisili di Jember. Diantaranya adalah mahasiswa/i dari UGM, ITS, UI, UB, UNEJ, POLIJE, IPB, UNAIR, serta dari golongan pemuda lainnya. Ke depannya, sebagai perwujudan kepedulian terhadap pendidikan, JYSM akan segera mengeluarkan program BADP (Beasiswa Anak Desa Prestatif).