DARAH INDONESIA

Oleh : Toni Arya Dharma

Sudah seharusnya ini diingat kembali, perjalanan panjang bangsa ini merebut kemerdekaan sesungguhnya adalah tapak sejarah perjalanan dakwah. Kekuatan yang tumbuh melakukakan perlawanan terhadap kolonialisme berabad-abad lamanya, bersumber dari wahyu Risalah: Dinul Islam sumber kekuatan utama mayoritas bangsa, dan mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan yang kita raih: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” (Mukaddimah UUD ’45).

Sudah seharusnya ini diingat kembali, perjalanan panjang bangsa ini merebut kemerdekaan sesungguhnya adalah tapak sejarah perjalanan dakwah

 

Tidak kurang dari tokoh seperti Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah kolonial Belanda menyampaikan sarannya kepada pemerintah kolonial Belanda (Dutch Islamic Policy) dengan tujuan mematahkan perlawanan umat Islam. Antara lain Snouck Hurgronje menyarankan,

“Yang harus ditakuti pemerintah (pemerintah Belanda, pen) bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Biasanya dipimpin small-minority yang fanatik, yakni ulama yang membaktikan hidupnya terhadap cita-cita Pan Islamisme. Golongan ulama ini lebih berbahaya kalau pengaruhnya meluas kepada petani di desa-desa. Karena itu disarankan supaya pemerintah bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan sebaliknya bertindak tegas terhadap Islam sebagai doktrin politik.”

 

Awal Mula Pengkhianatan

            Sejak awal Islam sudah dikhianati, nasionalisme yang notabene merupakan anak kandung dari bukti keimanan seorang muslim tidak dihargai, bukan tidak banyak nasionalis muslim konseptor Republik ini yang pada akhirnya harus mati oleh senapan dari tentara Republik yang ia dirikan sendiri. Kemudian Islam menjadi musuh bersama, pemberitaan yang menyudutkan Islam oleh media. Ini bukan hal baru terjadi, namun sejak awal sejak pertama Republik ini berdiri Islam sudah dikhianati.

Ketika para pendiri Republik ini berhasil merumuskan satu gentlement agreement yang sangat luhur dan disepakati pada tanggal 22 Juni 1945 kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Sesungguhnya Piagam Jakarta inilah mukadimah UUD ’45 yang pertama. Selanjutnya tanggal 17 Agustus 1945 pada hari Jumat dan bulan Ramadhan, Indonesia lahir sebagai negara dan bangsa yang merdeka. Hendaknya disadari oleh setiap muslim bahwa Republik yang lahir itu adalah sebuah negara yang “berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Subhanallah, Allahu Akbar!

Namun keesokan harinya tanggal 18 Agustus rangkaian kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, diganti dengan kalimat “yang maha esa.” Inilah awal malapetaka, awal pengkhianatan terhadap Islam dan umat Islam. Tentang hal ini berbagai peristiwa dan wacana terjadi mendahului sebelum apa yang kemudian dikenal dengan “tujuh kata” itu dihapus. Terkait di dalamnya antara lain tokoh-tokoh seperti Hatta, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Qahhar Muzakkir, Kasman Singodimejo, Teuku Moh. Hasan, Soekarno. Meskipun usianya hanya sehari, republik yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah Republik yang berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Syariat Islam melekat dalam konstitusinya walaupun hanya sehari! Hal ini tertanam di lubuk hati yang paling dalam bagi setiap aktivis dakwah. Masih terngiang ucapan Kasman Singodimejo dalam sebuah perbincangan bahwa beliau merasa turut bersalah karena dengan bahasa Jawa yang halus beliau menyampaikan kepada Ki Bagus Hadikusumo tokoh Muhammadiyah yang teguh pendiriannya itu untuk sementara menerima usulan dihapusnya 7 kata itu. Kasman terpengaruh oleh janji Soekarno dalam ucapannya, “Bahwa ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-undang Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk. Apa yang tuan-tuan dari golongan Islam inginkan silahkan perjuangkan disitu.”

Kasman berpikir, yang penting merdeka dulu. Lalu beliau meminta Ki Bagus Hadikusumo bersabar menanti enam bulan lagi. Hatta juga menjelaskan bahwa Yang Maha Esa itu sama saja merupakan bentuk tauhid. Maka tentramlah hati Ki Bagus. Dalam pandangan Ki Bagus tentu hanya Islam-lah agama tauhid. Dalam biografinya Teuku Moh. Hasan pun menulis tentang makna Yang Maha Esa ini sebagai Tauhid.

Namun enam bulan kemudian Soekarno tidak menepati janji. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak pernah terbentuk. Pemilu yang pertama baru dilaksanakan 10 tahun sesudah proklamasi (1955). Konstituante sebagai lembaga konstitusi baru bekerja pada 1957-1959 (hingga Dekrit 5 Juli 1959). Sementara Ki Bagus Hadikusumo yang dimintai oleh Kasman Singodimejo meninggal dalam penantian.

Tentang hilangnya tujuh kata ini Mr. Moh Roem mengutip ungkapan dalam bahasa Belanda: Menangisi susu yang sudah tumpah !?

Sedang M. Natsir menulis “Tanggal 17 Agustus 1945 kita mengucapkan hamdalah; alhamdulillah menyambut lahirnya Republik sebagai anugerah Allah! Tanggal 18 Agustus kita istighfar mengucapkan astaghfirullah (mohon ampun kepada Allah) karena hilangnya tujuh kata!”

 

Ah Sudahlah, Yuk Kita Move On !!!

            Bagaimanapun, kita harus tetap optimis. Sebab memang sudah jadi tugas kita untuk mengusahakan perubahan, biarlah Indonesia yag sejak awal berdirinya sampai saat ini mengkhianati perjuangan nasionalis Islam, optimis saja sehingga Allah akan menunaikan janji pengubahannya. Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihi.

Bagaimanapun peradaban Islam haruslah yang menjadi awal mula kebangkitan republik ini, sama halnya seperti dulu lagi, ketika para ulama harus turun-naik gunung, keluar-masuk hutan untuk bergerilya, dan pada akhirnya berbuahkan kemerdekaan Republik Indonesia. Harus kita pahami bahwa peradaban Islam dibangun atas asas Wahdaniahtullah (ke-Esaan) Allah yang mutlak dalam aqidah. Peradaban yang mengajarkan para penganutnya bahwa Tuhan itu Maha Esa dan tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya. Hanya Dia yang patut disembah dan dituju.

Menyambut Bonus demografi, yang harus disiapkan dari saat ini adalah menyiapkan Iron Stock yang baik, dengan cara menyediakan tempat menempah Iron yang baik pula, Iron atau besi ini akan menjadi besi yang baik dan kuat bila ditempah di ahli besi yang tepat, pemuda Indonesia masa depan diharapkan pemuda yang memahami Islam secara Kaffah, tidak hanya memahami Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik.

Menyambut Bonus demografi

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *