Ekonomisasi Politik Dan Politisasi Ekonomi

Oleh: Yulinda Dwi Komala.

Ekonomi politik merupakan kata gabungan dari istilah ekonomi dan politik. Pada dasarnya kata politik diambil dari bahasa Yunani yaitu polis yang artinya sebuah kota atau unit politik dan ekonomi dari kata oikonomike yang maknanya menuju manajemen rumah tangga. Kaitan kedua istilah ini menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara faktor-faktor produksi, keuangan dan perdagangan dengan kebijakan pemerintah dibidang moneter, fiskal dan komersial.

Namun istilah ekonomi politik pada dasarnya adalah sebuah interaksi antara kedua bidang ekonomi dan politik, yang pada awalnya lebih fokus kepada ilmu untuk mengelola perekonomian dengan ilmu untuk mengelola pemerintahan. Tapi pada intinya di dalam nilai atau aspek ekonomi terdapat kepentingan politik, dan dapat terjadi juga sebaliknya dimana di dalam aspek politik terdapat kepentingan ekonomi.

Era demokrasi dan kebangkitan rakyat memerlukan kerjasama yang produktif antara negara dan masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat, negara tak akan mampu melaksanakan tugasnya untuk mkencerdaskan dan mensejahterakan rakyat.

Seymour Martin Lipset dalam sebuah artikel yang terkenalnya diterbitkan pada tahun 1959 yang kemudian dibahas mendalam dalam politics and markets (1977). Intinya Lipset mempertanyakan keberadaan antara organisasi demokratis dari suatu rezim  dari keseluruhan sistem, pada ekonomi dalam masyarakat.

Namun ada sesuatu yang mengunggulinya yaitu sistem ekonomi pasar dengan sistem ekonomi serba terencana, memang tidak sukar untuk melihat negara yang mengunakan sistem ekonomi terencana, dimana alokasi ada ditangan pemerintah dan negara mana saja yang menyerahkan ekonomi mekanisme ke pasar.

Usaha mewujudkan substansi demokrasi, pada kenyataannya terkendala oleh hambatan-hambatan. Dan salah satunya adalah pada tingkat institusional. Dimana desain institusi demokrasi terlalu menekankan pada kekuatan alokatif (sumber dana), ketimbang otoritatif (kapasitas manusia).

Politik padat modal membuat biaya kekuasaan tinggi, yang mengakibatkan high cost economy dan merebakkan korupsi. Demokrasi yang ingin memperkuat daulat rakyat justru memperkuat segelintir orang. Demokrasi yang ingin memperkuat cita-cita republikanisme dan civic nationalism justru menyuburkan tribalisme dan provinsialisme (putra daerahisme).

Demokrasi yang mestinya mengembangkan partisipasi, kepuasan, dan daulat rakyat justru mengembangkan ketidaksertaan (disengagement), kekecewaan, dan ketidakberdayaan masyarakat.

Tidak jarang kita pernah mendengar besarnya pengaruh politik dalam ekonomi, baik dalam institusi politik maupun kebijakan pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil tesis Olson mengatakan bahwa kepolitikan nasional (Institutional sclerosis) di suatu negara menyebabkan merosotnya rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan system ekonomi yang dibangun di negeri tercinta ini? Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya, tapi kondisi rakyatnya masih jauh dari kemapanan dan pemerataan. Padahal di dalam Konstitusi disebutkan bahwa kekayaan negara dipergunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat.

Sedikit contoh dari peristiwa yang terjadi di negeri ini. Kepentingan atau magnet politik lebih kuat dari magnet ekonomi itu sendiri, artinya ekonomi kerakyatan tersandera oleh politik. RUU migas misalnya dibuat oleh USAID dan para bule asing bersama dengan LSM. Sehingga pihak asing dengan mudah menitipkan kata-kata ‘dibeli’ untuk kepentingan usaha atau bisnis mereka.

Berkembangnya perusahaan asing di Indonesia tentu akan merugikan dan berbahaya terhadap migas di negeri ini. Politisi kita di legislatif telah menjual negara ini ke asing, ketika peran negara dibatasi. Kita masih harus banyak belajar dari Cina, yang sampai sekarang masih banyak perusahaan Negara mereka yang maju. Kereta api sekarang di Cina masih murah, dan dikelola dengan baik. Karena faktanya di Indonesia, perusahaan selalu mengalami kerugian, dari segi waktu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *