Guru: Pengabdian yang Tak Berujung

Oleh: Nurul Suciana Adam.

Mengenai pendidikan, guru menjadi tombak berhasilnya pendidikan bangsa yang mana ia menjadi pelaksana utama sistem pembelajaran layaknya tiang yang kokoh demi berkibarnya sang bendera. Begitulah seorang guru, ia menjadi terdepan dalam dunia pendidikan untuk mencetak generasi emas dari segi karakter maupun ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, kepemilikan atas pengetahuan setiap insan negeri ini mampu menjawab segala problematika yang tengah terjadi di Indonesia.

Kini, Indonesia tengah melakukan investasi pendidikan untuk melahirkan generasi emas 2045 tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia melalui program-program unggul seperti mencetak calon doktor dan magister kompeten melalui beasiswa LPDP, PSMDU, dan sebagainya. Begitupun dengan para tenaga pendidik yang targetnya adalah guru dengan program pelatihan, uji kompetensi sertifikasi dan tunjangan-tunjangan keprofesiannya. Semua itu dilandaskan guna perbaikan ilmu pengetahuan dan karakter para generasi yang mana mereka berada di tangan para guru-guru Indonesia.

Ada banyak kisah-kisah tentang seorang guru di sepanjang negeri khatulistiwa ini. Satu diantaranya ialah sosok pemuda inspiratif berumur sekitar 25 tahun di sebuah desa terpencil di Gowa, Sulawesi Selatan. Sekitar 45 menit-60 menit menuju ke lokasi dengan mengendarai sepeda motor.  Meskipun masih tergolong muda, ia mempunyai tekad untuk mendidik dan mengabdi di sekolah SMP Negeri 1 Bajeng Barat, Gowa, Sulawesi Selatan. Ia adalah Syarif, S.Pd.I, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Berawal secara akademik, ia membidangi jurusan pendidikan Agama Islam di salah satu universitas negeri di Makassar, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, yang pada akhirnya secara profesi ia memang harus terjun pada dunia pendidikan dalam hal ini menjadi seorang guru. Artinya, jurusan akademik dan profesi harus berkolerasi ketika kembali ke masyarakat.

Apabila diamati, sebagian besar para sarjana bekerja tidak sesuai dengan jurusannya sehingga mengurangi keprofesionalisme dalam etos kerja. Bagi pak Syarif sendiri, ia akan tetap jadi guru dengan langkah pertama yakni tenaga honorer sembari menunggu tes CPNS dan mendapatkan SK (surat keputusan) dari pemerintah setempat untuk mendapatkan status kepegawaiannya menjadi PNS.

Tidak dipungkiri banyak yang sampai membanting stir beralih ke profesi lain. Ketika ditanya mengenai landasan ia menjadi guru honorer yaitu mengingat gaji guru honorer yang begitu nihil boleh dikatakan sangat jauh dari kata layak. Sebagai tenaga honorer memang benar-benar lebih kepada pengabdian semata. Dengan mempertimbangkan jasa, pikiran, tenaga, dan waktu dengan upah yang diterima sangat jauh dari kecukupan.Baginya, yang membuatnya tetap betah berawal dari jiwa keguruan dan mencintai dunia pendidikan yang mengajar, mendidik, berbagi dan banyak lagi. Jiwa penyabar sebagai modal utamanya, membuatnya sangat dicintai oleh siswa-siswanya dan itu memang mutlak dimiliki oleh setiap pendidik di negeri ini.

Menurutnya, profesi guru merupakan pekerjaan mulia di dunia pendidikan. Baginya pula, berkhidmat untuk masyarakat harus sepenuh hati. Bukan hanya menjadi guru, ia juga menjadi relawan pembinaan pengajian seperti bimbingan mengaji non TK TPA. Disana, pak Syarif banyak menemukan orang dewasa yang masih buta huruf khususnya baca tulis Al-Qur’an. Mereka ingin belajar, tapi merasa malu dan tidak mungkinlah mereka kembali ke TK TPA untuk belajar. Dan, hadirnya pak Syarif di pusat pembinaan baca tulis Al-Qur’an desa membuat mereka merasa percaya diri sehingga tak malu-malu lagi.

Rencana hidup memang ada dan untuk rencana jangka pendek selama 1 tahun ini, ia akan tetap menjadi seorang guru honorer dan adapun jangka sepuluh tahun akan lebih memprioritaskan menjadi seorang guru yang profesional. Status pegawai antara honorer atau pegawai negeri sipil (PNS) maupun yang telah bersertifikat, ia andalkan dari database NU PTK yang merupakan tenaga pendidik akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah daerah baik dari dinas pendidikan maupun departemen agama khusus untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam. Menurut keterangan langsung dari beliau saat ditemui di perpustakaan sekolah, ia mengungkapkan setelah mengabdi selama 2 tahun ia sudah menerima sertifikat setiap tahun sebagai penghargaan pegabdiannya.

Guru, pahlawan tanpa jasa dan benar pengabdian yang tak berujung. Mendidik sepenuh hati dengan bermacam-macam perencanaan pembelajaran untuk mencetak generasi unggul berdasarkan imam dan takwa, karakter bangsa dan budaya.

belajar
Suasana belajar dan kondisi perpustakaan di SMP Negeri 1 Bajeng Barat

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *