Inkubasi dan Sinergitas Kepemudaan

Oleh : Kartika Isna Sujati

(Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa

Angakatan 6 Regional Yogyakarta)

 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَ هُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَ امَنُوْابِرَبِّهِمْ وَزِدْنَهُمْ هُدً ى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”

 

Pemuda adalah sumber investasi peradaban. Memainkan peran sebagai leading sector dalam pencerdasan pemikiran, pewaris moral bangsa, dan pemberdayaan masyarakat. Semangatnya terhimpun dalam suatu gerakan kepemudaan. Bahkan sejarah panjang bangsa ini banyak mengisahkan peran-peran pemuda dalam berbagai perjuangan. Budi Utomo menjadi salah satu saksi terhimpunnya semangat kepemudaan, menjadi pembangun semangat kolektivisme pemuda untuk mendorong kemerdekaan bangsa Indonesia. Tak hanya itu, kekuatannya tercatat dalam nama-nama pembela ibu pertiwi dalam berbagai perjuangan perlawanan penjajahan. Sebut saja Bung Tomo, Jenderal Soedirman, dan Ahmad Yani. Dan bila kita ingat, kisah pemuda mendobrak langit istana pada suatu rentang pemerintahan yang berakhir pada perjalanan reformasi bangsa ini.

People hold hands to form a human solidarity chain near the site of the attack at the Bataclan concert hall in Paris

Pemuda adalah sumber investasi peradaban

 

Semangat kolektivisme pemuda harus dipertemukan dalam wadah yang tepat. Kekuatan-kekuatan pemuda akan tercipta lebih besar ketika mereka terhimpun dalam sebuah wadah inkubasi. Tentu saja bukan hanya sekedar wadah yang mempertemukan semangat kepemudaan, namun lebih kepada tanggung jawab bangsa bahwa pemuda tidak hanya diperlukan untuk bersatu, namun juga berkarya dan berkontribusi nyata. Inkubasi yang tepat didukung oleh sebuah sistematika gerakan kepemudaan yang memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan akhirnya. Selain itu, strukturalisme diperlukan guna mempertegas peran-peran yang akan diambil pada masa-masa kontribusi.

Bersatunya pemuda memerlukan keselarasan yang disebut sinergisitas. Hal ini diperlukan untuk menyatukan gagasan dan kekuatan agar berjalan berdampingan dengan visi kepemudaan. Sinergisitas akan terbangun melalui sebuah keinginan dan kepedulian untuk bertemu dan bersatu. Sinergisitas akan membangun keselarasan peran yang akan terkonversi dengan sendirinya dalam bentuk kolaborasi kontribusi. Sehingga menciptakan gerakan kepemudaan yang tidak hanya kuat dalam gagasan, namun juga kuat dalam keselarasan kontribusi kolektivitasnya.

Forum Negarawan Muda merupakan wadah berkumpul, bersinergi, dan pengembangan diri para pegiat gerakan belajar merawat Indonesia melalui berbagai aktivitas kontributif di masyarakat. Pada ranah awal kontribusi, pembinaan memainkan peran utama sebagai platform pembentukan kepribadian negarawan muda. Pembinaan dan kaderisasi yang terplatform dengan baik akan mendorong tercapainya tujuan-tujuan yang lain, yaitu pengoptimalan kontribusi kepada masyarakat, memiliki posisi strategis, dan pembangunan jaringan strategis.

Pembinaan dan kaderisasi memainkan peran kebaikan yang pertama karena bertanggung jawab dalam pembentukan kualitas pemuda untuk menjadi seorang negarawan muda. Tugas yang tentu saja tidak ringan karena secara tidak langsung menjadi penentu peradaban bangsa selanjutnya dalam pembentukan pemimpin-pemimpin masa depan. Menjalankan pengembangan personal yang selaras dengan tujuan yang pertama, yaitu pengembangan negarawan muda dari aspek karakter dan kompetensi agar terbentuk sosok negarawan yang mampu menjawab tantangan bangsa.

FNM

Pembentukan profil diri dimulai dari kepemimpinan, karakter, prestasi, hingga menyentuh ranah kontribusi. Keempat hal tersebut didorong dengan adanya dukungan pengetahuan, kemampuan, dan perilaku. Masing-masing aspek memiliki definitif pencapaian yang berbeda di setiap aspeknya. Sehingga mampu menentukan metode yang akan digunakan dan juga menentukan indikator keberhasilan. Oleh karena itu salah satu gagasan yang ditawarkan yaitu dengan adanya modul pengembangan diri. Selain sebagai proses pemantauan perkembangan kader, namun juga sebagai alat ukur yang dikelola secara jelas, baik sistematika dan cultural project nya. Selain itu, pemantauan dan evaluasi diperlukan guna mengukur ketercapaian definitif.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *