ISLAM DAN PERADABAN

Oleh : M Haris Munandar

Islam. Pasti saat ini semua pernah mendengar kata tentang Islam. Hakikatnya Islam adalah agama yang membawakan Rahmat pada seluruh alam karena pada dasarnya kata “Islam” berasal dari bahasa arab yaitu aslama yang berarti selamat. Pada masa kesultanan Utsmani telah terjadi penaklukan besar pada sebuah kerajaan yang telah berumur lebih dari 11 abad lamanya, kerajaan itu ialah Konstantinopel. Sebagaimana Rasulullah telah menerangkan dalam hadistnya bahwa,

”Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (Al Hadis)

Setelah berhasil mengambil alih Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari. Peristiwa diatas membuktikan bahwa Islam yang telah membangun peradaban.

”Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (Al Hadis)

 

Pada masa awal pemerintahan Islam di kota Madinah, Islam tumbuh dengan pesat dan Rasulullah menjalankan roda pemerintahan disana dengan aturan Islam. Mengulang kembali sejarah, sebelum Nabi Muhammad SAW dan orang-orang muslim Makkah (Muhajirin) hijrah ke Madinah, nama kota itu adalah Yatsrib. Penduduk Yatsrib sebelum kelahiran Islam terdiri dari dua suku bangsa, yaitu Arab dan Yahudi. Semula daerah itu ditempati oleh suku Amaliqah (Baidah, bangsa arab yang sudah punah) dan kemudian ditempati oleh suku-suku arab lainnya.

Secara bertahap kota itu menjadi berkembang dan menjadi kota penting kedua setelah Makkah di tanah Hedzjaz setelah kehadiran Yahudi. Yahudi membangun permukiman dan benteng pertahanan agar mereka terhidar dari gangguan badui yang hidup sebagai nomad di sekitar Yatsrib. Di Yatsrib tidak ada seorang pemimpin dan pemerintahan atas semua penduduk, yang ada adalah para pemimpin yang bersuku-suku dan hanya memikirkan kepentingan suku masing-masing. Mereka saling bersaing dan berperang untuk menanamkan pengaruh di masyarakat akibatnya diantara mereka dapat terjadi permusuhan bahkan peperangan.

Nabi Muhammad dan orang-orang muslim Makkah (Muhajirin) hijrah ke Madinah pada tanggal 22 September 622 M. Dan hal pertama yang Rasulullah lakukan adalah mendamaikan suku-suku yang telah lama berperang. Setelah kondisi Madinah menjadi damai, maka Rasulullah mulai mengajarkan tentang agama Islam dan karena orang-orang di Madinah telah mengenai agama Tauhid dari kitab Taurat maka mereka menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam.

Bagaimana halnya dengan kaum Yahudi yang telah lama menetap di Madinah? Apakah mereka diusir dari Madinah? Apakah mereka menjadi budak kaum muslimin? Atau mereka dipaksa untuk masuk ke dalam agama Islam? Menjawab hal itu semua, telah kita yakini bahwa Islam agama yang “peace in love” sehingga semua hal diatas tidaklah terjadi. Tidak ada ajaran Islam yang membenarkan penindasan atas kaum tertentu yang bukan Islam. Dan pada masa itu Nabi Muhammad SAW justru menjalin kerja sama dengan kaum Yahudi Madinah untuk bersama-sama membangun kota Madinah. Sehingga dibuatlah piagam Madinah sebagai bentuk perjanjian membangun kesatuan. Apa arti dari peristiwa di atas? Islam telah membangun peradaban.

Tidak dapat dipungkiri, Islam telah membangun peradaban. Namun sayangnya, Islam hari ini telah tercoreng oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak menggambarkan Islam sebagaimana mestinya. Mengaku Islam namun bersifat radikalisme, membantai warga sipil, mengaku menegakkan aturan Islam dengan cara kekerasan. Padahal dalam Islam itu sendiri sudah sangat jelas digambarkan beberapa peraturan dalam berperang diantaranya dilarang membunuh wanita dan anak-anak, dilarang membunuh orang tua dan orang sakit, dilarang membakar pohon dan merusak tempat peribadatan.

Selain wajah Islam yang tengah dicoret, Islam seolah menjadi pemain cadangan dalam membangun kembali peradaban. Perkembangan ilmu pengetahuan dari kaum non muslim padahal pengetahuan tersebut sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu tertulis di dalam Al Qur’an yang merupakan kitab suci Islam yang rutin dibaca berkali-kali. Namun minim keinginan untuk mencari berita dalam Al Qur’an dan membuktikannya dengan ilmu pengetahuan.

Ditengah “kegalauan” ini, Turki bangkit di bawah pemerintahan Erdogan. Ia mampu memutus sistem sekularisme yang telah dianut oleh Turki selama satu abad. Ia juga langsung memutus “mata rantai” praktik riba dan kapitalisme di tengah-tengah penderitaan bangsa Turki. Bahkan Erdogan secara terang-terang menentang paham sekularisme yang videonya di Youtube,  ia mengatakan “Jangan mengaku Muslim jika pada saat yang sama anda mengaku sebagai sekuler”. Atau ungkapannya yang lain, “Sekulerisme telah gagal membangun Turki, dan kami akan segera menggantikannya”.

Turki bangkit di bawah pemerintahan Erdogan

 

Akhirnya aliran kekayaan bangsa Turki yang dahulu jatuh ke tangan oknum yang tidak bertanggung jawab, kini dapat diarahkan ke pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya. Maka saat ini kita dapat menyaksikan Turki baru yang modern dalam segala bidang.

Turki bisa mandiri karena taatnya para pemimpin serta warganya terhadap ajaran Islam. Bagaimana dengan bangsa yang memiliki titel “Negara Muslim Terbesar Dunia”. Peluang bangsa ini lebih besar dari bangsa Turki. Maka dari itu mulai dari diri sendiri, teman, sahabat, orang tua, sahabat, masyarakat hingga bangsa, kita selaku umat Islam kembali mengambil peran untuk membangun peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *