Melahirkan Pemimpin Nasionalis Religius

Oleh: Rina Fatimah.

 

Agama Islam sudah lama menjadi agama mayoritas di Indonesia sebelum merdeka. Meski masuk dalam kelompok paling banyak, orang Islam tidak menjadi penguasa wilayah untuk menjajah kaum minoritas. Kekuatan mayoritas Islam dimanfaatkan untuk melawan dan mengusir kolonial Belanda dan Sekutu Jepang ‎yang sudah bertahun-tahun menjajah bangsa Indonesia. Demikian ungkapan Prof. KH. Ahmad Satori Ismail, ketua IKADI Indonesia dilaman berita republika online.

Kehadiran bangsa Belanda memang memberikan warna tersendiri bagi perjuangan bangsa ini menuju gerbang kemerdakaan Republik Indonesia. VOC (Verenigde Oostindische Compagnie), kongsi dagang bentukan pemerintah Belanda, tahun 1602 oleh Parlemen Belanda diberi hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah kekuasaannya.

Tujuan utama VOC tak lain adalah mempertahankan monopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Aktivitas monopoli inilah yang manjadikan VOC menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya dan pada akhirnya menyulutkan api perang di tanah nusantara. Salah satunya perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, 1825 – 1830.

Setelah kebangkrutan VOC diabad ke 18, selang beberapa tahun kemudian di tahun 1901 pemerintah Belanda mengubah haluan politiknya yakni dengan menerapkan politik etis. Penerapan politik etis memberikan kesempatan terbuka bagi masyarakat pribumi untuk menikmati pendidikan. Belanda banyak membangun sekolah-sekolah beserta fasilitasnya. Namun sayangnya, jumlah sekolah yang dibangun tidak sepadan dengan populasi penduduk Indonesia pada masa itu dan akhirnya sekolah-sekolah yang didirikan Belanda hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan. Dari situlah lahir pendidikan agama di pesantren, surau-surau, dan dayah dijadikan sebagai pendidikan alternatif yang lebih merakyat, dan egaliter.

Kehadiran politik etis sebagai pemantik lahirnya gerakan nasionalis religius. Salah satunya Serikat Dagang Islam H Samanhudi, didirikan pada tahun 1905 yang berorientasi sosial ekonomi. Kemudian dilebur menjadi Serikat Islam yang orientasinya diperluas dengan politik, ekonomi, sosial dan agama. Keberadaan H.O.S Tjokroaminoto di Serikat Islam berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda dengan ideologi Islam, sehingga mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara.

Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme, “Menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan pekerjaan lain orang, tidak memberikan bahagian keuntungan yang semestinya (dengan seharusnya) kebahagiannya lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan itu,- semua perbuatan yang serupa ini (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan “meerwaarde” (nilai lebih) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam”.

Melalui tulisan tersebut sudah sangat jelas islam menentang kapitalisme yang dilakukan oleh Belanda. Jika kita ditelaah lebih dalam terhadap tulisan tersebut, sangat jelas semangat perjuangan Tjokroaminoto adalah ingin meletakkan Islam sebagai unsur fundamental untuk membebaskan rakyat dari kesewenang-wenangan kolonial Belanda.

Gambar: brandcenter.com.mx

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *