Mewujudkan kembali Pemimpin yang Islami

Oleh : Bangun Suryadi

Kepemimpinan periode Islam telah berlangsung sejak lama. Dimulai sejak masa kenabian Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Kemudia berlajut dengan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, empat Khalifah yang menggantikan Rasul setelah beliau wafat. Setelah itu digantikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan dengan tanda didirikannya dinasti Bani Umayyah, beserta  Khalifah-khalifah lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan dinasti Abbasiyah yang didirikan dari keturunan paman Nabi Muhammad yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, beserta kedelapan belas Khalifah lainnya. Dan di akhiri oleh dinasti Utsmaniyah yang berpusat di Turki.

Selama berabad-abad umat manusia hidup dalam ketentraman di bawah kepemimpinan Islam.

 

Selama berabad-abad umat manusia hidup dalam ketentraman di bawah kepemimpinan Islam. Andaikan semua tetap berjalan pada jalurnya niscaya umat manusia akan mengalami hal yang sangat berbeda seperti yang di alami saat ini penuh dengan gejolak, bencana, ketidakpercayaan terhadap pemimpin, dll. Niscaya dunia ini akan indah serta menyenangkan hati setiap manusia. Namun takdir berkehendak lain, dan kemunduran itu bermula dari diri umat Islam sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Kenapa Umat Islam Terbelakang Sedangkan Umat yang Lainnya maju. Itu semua terjadi karena umat Islam sudah tidak memperaktikkan ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia akhirat.  Nabi Saw bersabda “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul.”

Pemimpin yang berhasil membawa manusia dalam ketentraman adalah mereka yang dilahirkan di zaman Rasulullah SAW dari sisi identitas keimanan, akidah, perjuangan nyata, moral, pendidikan, keagungan jiwa, kesucian diri, kesempurnaan aspek kemanusiaan dan keadilan. Mereka adalah generasi yang ditempa oleh Rasulullah saw  secara sempurna.  Maka tidak berlebihan jika dikatakan mereka adalah penjelmaan paling sempurna dari “agama” dan “dunia” sekaligus. Mereka adalah para imam sholat, para jaksa dan hakim yang memutuskan secara adil dan jujur, panglima perang yang piawai mengatur siasat, para pejabat negara yang mengatur administrasi negara, sekaligus penegak hukum Allah. Agama dan politik terhimpun dalam diri amirul mu’minin.

Ternyata tidak perlu jauh mencari acuan untuk menjadi pemimpin, karena alquran dan sunnah pun telah menjelaskan hal itu.

Bagaimana menjadi pemimpin yang islami? Arry Rahmawan telah menjelaskan 5 hal yang harus diamalkan dalam keseharian agar menjadi pribadi pemimpin yang islami, yaitu.

 

  1. Rukun pertama (Syahadat) : Prinsip Visioner

Apa yang bisa dimaknai dari syahadat dalam kepemimpinan? Arti syahadat, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah” sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Pernyataan tersebut merupakan sebuah life mission statement, sebuah pernyataan misi hidup di mana kita berkomitmen akan terus menjadi hamba Allah dan pengikut nabi yang setia. Bagi mereka yang memaknai prinsip ini, tentunya akan memiliki sebuah pandangan di mana segala aktivitas harus dikaitkan dengan sebuah visi besar: keberhasilan saat pulang ke hadapan Tuhan. Hal ini akan membawa seseorang untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap aktivitasnya. Sama seperti pemimpin, maka setiap pemimpin harus memiliki mission statement yang jelas, visi yang jelas, ke mana dia akan membawa orang yang dipimpinnya. Sebaik – baiknya mission statement bagi individu maupun pemimpin adalah syahadat.

 

  1. Rukun kedua (Shalat) : Prinsip Disiplin

Banyak orang shalat hanya sebagai rutinitas, tanpa dimaknai secara mendalam. Apa makna yang terkandung dalam shalat bukan hanya sekedar doa yang baik, gerakan yang menyehatkan, hingga mampu menghindarkan kita dari perbuatan yang buruk.

Shalat melatih kita untuk menjadi pribadi yang disiplin. Apabila kita mengikuti aturan mainnya dengan baik. Itulah mengapa shalat memiliki waktu yang sudah ditentukan, tidak boleh melaksanakan shalat wajib apabila tidak sesuai dengan waktunya. Hal yang paling penting, salah satu keutamaan shalat adalah ketika dilaksanakan tepat waktu dan berjamaah di masjid.

Shalat dalam kepemimpinan ibarat sebuah meeting. Ini adalah meeting yang istimewa, yaitu meeting langsung dengan Allah. Saat adzan memanggil, akan terlihat mana orang yang memang disiplin untuk segera memenuhi panggilan tersebut atau mana yang suka menunda – nunda. Shalat melatih kita untuk tepat waktu dan menepati janji. Shalat tidak hanya bermakna secara vertikal kepada Tuhan, namun juga berdampak terhadap hubungan kita sesama manusia.

 

  1. Rukun ketiga (Puasa) : Prinsip Integritas

Sekarang bulan Ramadhan, dan semua muslim diwajibkan untuk berpuasa. Apa makna puasa bagi seorang pemimpin? Puasa tidak lain mengajarkan untuk memiliki integritas yang tinggi. Setiap orang dapat mengklaim dirinya sedang berpuasa, namun hanya dirinya sendiri dan Tuhanlah yang tahu.

Karakter pemimpin seperti itu pula yang diharapkan dalam Islam. Tidak hanya puasa, namun perintah lain seperti menjaga kejujuran, disiplin, perlu ditegakkan baik saat kita dilihat orang atau tidak. Puasa mengajarkan kita untuk menjunjung dan mentaati nilai moral baik saat ada orang ataupun tidak ada sama sekali. Inilah makna integritas yang sebenarnya, dan Islam sudah mengajarkan itu sejak lama sekali.

  1. Rukun keempat (Zakat) : Prinsip Peduli

Zakat merupakan sebuah aktivitas yang sudah jelas untuk menumbuhkan kepedulian kita kepada sesama. Bagi seorang pemimpin makna yang bisa diambil dari berzakat ini bukan semata-mata memberikan sesuatu yang diperlukan kepada orang yang ia pimpin, namun bagaimana agar mereka bisa menjadi seorang yang lebih baik dan bisa menjadi pemimpin-pemimpin berikutnya. Sama seperti pembagian zakat di masa Rasulullah di mana zakat bukanlah sekedar membagi-bagikan uang atau beras, namun bagaimana caranya dengan zakat itu dapat menghidupi dan memakmurkan umat. Ibarat memberikan kail atau alat bagi orang yang memerlukan agar mereka bisa berusaha mencari untuk diri mereka sendiri.

 

  1. Rukun kelima (Naik Haji) : Prinsip Rendah Hati

Naik haji merupakan sebuah aktivitas ibadah total bagi seorang muslim yang mampu untuk mempersiapkan harta, fisik, dan mental mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Berhaji selain memerlukan pengorbanan, dapat dilihat bahwa haji sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai kesetaraan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *