Momentum Lahirnya Pahlawan Negeri

Oleh : Rizky Yudo Atmaja – STT Terpadu Nurul Fikri

Ketua PD FNM Jabodetabek 2016

Hari ini, hiruk-pikuk demokrasi mulai terdengar di segala sisi. Mendadak orang yang tidak pernah membicarakan politik menjadi pakar dan candu tersebut dengan mudah ditularkan ke orang lain. Mungkin karakter tersebut lahir atas dasar kebutuhan rakyat Indonesia saat ini, karena tidak sampai tiga bulan lagi akan diadakan pilkada serentak di tujuh provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota sebagaimana disampaikan KPU RI pada konferensi persnya sembilan bulan lalu[1]. Berdasarkan hasil data tersebut, sepertinya rahim demokrasi akan lebih cenderung melahirkan pola pikir yang solid untuk memilih calon pahlawan barunya di Provinsi Aceh, karena di sana akan diadakan pemilihan 21 kepala daerah.

Namun, hari ini saya tidak ingin membicarakan soal pilkada. Ada hal lain yang tidak kalah menarik perhatian saya saat ini, yaitu pemilihan raya untuk pergantian masa kepemimpinan organisasi mahasiswa di Indonesia. Hampir semua kampus sedang menjalankan proses tersebut dan mencari siapa tokoh mahasiswa di kampusnya yang memiliki naluri kepahlawanan dan akan melanjutkan estafet perjuangan seniornya. Apakah kampus yang hanya terdapat calon tunggal itu berarti seluruh mahasiswa (di angkatannya) tidak memiliki naluri kepahlawanan? Ataukah para calon yang tidak lolos verifikasi tidak layak menjadi pahlawan?

Memupuk Pohon Pahlawan

Bicara tentang naluri kepahlawanan, maka kita akan dipaksa untuk memperdalam insting kita sebagai manusia. Allah berfirman, tertulis pada Al Baqarah ayat 30, bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Khalifah dapat juga diartikan sebagai penerus perjuangan sebelumnya, yaitu penerus Rasulullah. Berdasarkan pemahaman tersebut, secara otomatis tanggung jawab dakwah Rasulullah juga akan sampai kepada kita. Minimal untuk bisa menumbuhkan naluri kepahlawanan dan bermanfaat untuk orang lain sebagaimana yang beliau miliki. Dalam hidup seorang pahlawan, tantangan adalah makanan yang sangat bergizi dan dikonsumsi setiap hari. Itu adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi, hal tersebut merupakan sebuah inner power yang insyaAllah akan berguna dalam kehidupan kita. Mengambil sedikit kutipan dari Anis Matta, bahwa tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.

Naluri kepahlawanan mungkin bisa diartikan dalam bentuk lain, seperti kepekaan sosial. Pada dasarnya naluri kepahlawanan berfungsi agar seorang manusia mampu bersikap sebagai pahlawan, yaitu menjadi manusia super yang bisa menyelesaikan masalah dan membantu orang banyak. Mari kaitkan sebentar dengan makna mahasiswa (yang katanya) sebagai Agent of Change. Sejak dibentuknya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, peristiwa Rengasdengklok, bahkan sampai runtuhnya Orde Baru, mahasiswa punya peran yang signifikan dalam setiap periode perubahan yang hadir di Indonesia. Lantas, apa yang bisa dilakukan mahasiswa saat ini jika sepercik naluri kepahlawanan tidak hadir dalam hati mereka? Melewatkan begitu saja proses pengawalan pilkada serentak hanya karena momentum regenerasi, sibuk membicarakan event internal kampus lalu lupa kontribusi ke masyarakat, atau bahkan asik nongkrong-nongkrong dan main game daripada menganalisa dan mendobrak perbaikan dari segala aspek yang merugikan masyarakat. Indonesia tidak sedang baik-baik saja, bung! Indonesia butuh lebih banyak pahlawan yang bisa melindungi rakyatnya.

Setelah naluri kepahlawanan tertanam kokoh di dalam diri kita, tugas berikutnya adalah menumbuhkan batang kepahlawanan tersebut. Lagi-lagi meminjam istilah Anis Matta dalam bukunya yang berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia”, beliau menganalogikan naluri itu sebagai akar pohon dan batangnya adalah keberanian. Keberanian ia sebut pula sebagai aspek ekspansif seorang pahlawan, dan pada aspek defensifnya seorang pahlawan memiliki kesabaran. Kedua hal inilah yang nantinya akan terus saling bersinggungan bersama elemen lain yang sering disebut risiko. Dalam beberapa kondisi, seorang pahlawan akan mendapatkan posisi dengan tekanan yang sangat perih. Itu adalah bukti dari pepatah kuno Belanda, Leiden is lijden, memimpin adalah menderita. Nabi Muhammad menjadikan bukti penderitaan tersebut sebagai motivasi sesuai dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” Dari sana bisa ditarik kesimpulan, sejatinya penderitaan itu hanya muncul di awal. Setelahnya, kita akan menerima sebuah kepuasan yang tak tergantikan. Kepuasan yang muncul adalah bayaran yang sepadan dengan pengorbanan seorang pahlawan tersebut. Kepuasan saat melihat senyum dari masyarakat yang tertolong berkat kerja keras kita sebagai seorang pahlawan. Memetik beberapa kalimat dari Syakib Arsalan, seorang penulis asal Suriah, beliau menyebutkan bahwa orang-orang barat lebih banyak berkorban daripada kaum muslimin karena mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum muslimin bagi agamanya. Saya rasa tidak perlu dipaparkan secara eksplisit bagaimana fakta di lapangan karena sudah menjadi rahasia umum. Inilah sebuah refleksi bagi kita, apakah kita sudah benar-benar menumbuhkan pohon kepahlawanan dalam hidup kita atau belum.

 

Kemanjaan Pahlawan Bukanlah Sebuah Kenistaan

Sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, paradigma yang dibangun sejak kecil tentang pahlawan adalah sesosok manusia yang pemberani dan selalu siap mengambil risiko. Memang tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Pada serial super hero fiksi yang diterbitkan oleh Marvel, digambarkan beberapa kali sosok Iron Man yang butuh hiburan atau memanjakan dirinya melalui kekayaan yang dia punya. Begitu pula Hawk Eye saat selesai bertugas bersama The Avengers dan pulang ke rumah untuk bermanja bersama istri dan anaknya. Hal tersebut bukan berarti mereka adalah pahlawan yang lemah dan mudah ditaklukan, tapi terdapat ruang kosong di dalam hatinya yang harus diisi. Gambaran di sana mencitrakan bahwa pahlawan juga butuh waktu untuk bermanja dengan hal-hal yang dia sukai setelah mempertaruhkan jiwa raganya.

Agar terlihat lebih nyata dan logis, kita berpindah ke sosok manusia yang nyata, Nabi Muhammad, pemuda yang menjadi panutan untuk seluruh umat Islam di dunia. Tampak jelas sisi kemanjaan beliau saat pertama kali mendapatkan wahyu yang secara tidak langsung meresmikan kerasulan beliau. Respon pertama yang didapatnya adalah gemetar, takut, dan berselimut dengan penuh kecemasan. Saat itulah Khadijah memanjakan dan kembali menguatkannya. Fakta lainnya, siapa yang akan menyangka sosok laki-laki spektakuler tersebut saat beristirahat di rumah selagi tidak ada panggilan jihad, ia berbaring di pangkuan Aisyah sembari disisiri rambutnya. Mesra dan sangat membuat iri. Tapi beliau pahlawan Islam, dan sah-sah saja. Bahkan sekelas Umar bin Khattab yang dikenal garang, keras, dan agresif juga sering bermanja dengan istrinya sesuai dengan kesaksiannya, “Jadilah engkau seperti bocah di depan istrimu.”

Kesimpulannya, seorang pahlawan yang bermanja ria itu bukanlah sebuah hal yang tabu. Asalkan tidak terlena dan hanya sebagai peristirahatan sementara untuk kembali berjuang demi rakyatnya. Kemanjaan di sini berbeda dengan sikap melankolis yang berlebihan. Sikap di mana terlalu mengedepankan egoisme emosi pribadi tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di muka publik. Meskipun atas nama cinta.

Akan Segera Lahir

Mudah saja, pahlawan akan lahir jika Allah menghendakinya. Sebuah rezim yang buruk ada karena kuasa-Nya, begitu pula kehadiran orang yang akan membenahinya. Akan tetapi, jika hal itu menjadikan alasan kita berdiam diri, maka itu kesalahan yang fatal. Peristiwa penghancuran Uni Soviet (Peradaban Timur) oleh Amerika Serikat (Peradaban Barat) tidak serta-merta terjadi begitu saja, prosesnya sangat panjang. Bahkan setelah musuh abadinya hancur, kini Amerika (sepertinya) memupuk musuh baru dengan peradaban lain, yaitu Peradaban Islam[2]. Tampaknya pada tahun 2016 eskalasinya sudah hampir memuncak dan akan segera dikibarkan bendera deklarasi perang dengan Islam dalam beberapa tahun ke depan. Semoga tidak benar-benar terjadi.

Begitu pula dengan peradaban pergerakan mahasiswa di Indonesia. Soekarno-Hatta memerdekakan Indonesia tidak dalam satu hari. Runtuhnya Orde Baru tidak sesimpel menduduki gedung DPR/MPR RI. Sebuah kesalahan besar jika kita lebih memilih diam dan menunggu ada orang lain yang lebih baik dari kita untuk ambil bagian dalam perjuangan ini. Justru seharusnya kitalah yang turun tangan dalam estafet perjuangan berikutnya. Kita tidak butuh menjadi ahli terlebih dahulu, hanya sedikit naluri kepahlawanan untuk mendobrak sebuah perubahan bagi masyarakat. Bersiaplah untuk terlahir kembali sebagai pahlawan negeri dan merawat Indonesia.

 

Depok, 23 November 2016

[1] http://pilkada.liputan6.com/read/2436435/ini-101-daerah-yang-gelar-pilkada-serentak-2017

[2] Gerges, Fawaz A. 2002. Amerika dan Politik Islam: Benturan Peradaban atau Benturan Kepentingan. Jakarta: AlvaBet

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *