Negarawan Muda atau Pemimpin Negarawan?

Oleh: Suciana Nurul.

Sekilas tentang kondisi Indonesia

Indonesia memiliki banyak karakteristik dari sosok-sosok pemudanya yang energik, tegas, kritis, dan berprestasi. Ragamnya karakter itu tercipta dari keanekaragaman yang khas dari berbagai etnis, golongan, agama yang menjadi budaya yang kharismatik melekat pada negarawan muda Indonesia.

Indonesia sepatutnya bangga terhadap bangsanya yang terkenal ramah dan santun. Tapi apakah kesantunan itu wujud dari korupsi, apakah keramahan itu wujud dari aksi bakar ban? Demo anarkis? Atau merusak fasilitas umum? Itukah budaya yang kharismatik diwarisi oleh para pejuang terdahulu? Zamannya sudah bedalah kawan!

Identitas bangsa ini mulai usang dimakan oleh zaman globalisasi yang keji. Bisa jadi globalisasi tidak berpihak pada Indonesia atau sebaliknya sehingga identitasnya mulai kusam oleh debu-debu ketidakjujuran, individualisme, keras hati sekeras batu, dan keapatisan yang kentas seperti susu es krim.

Sekarang tahun 2015, 30 tahun lagi Indonesia akan masuk pada usia 100 tahun kemerdekaan tapi tak sedikitpun kemerdekaan moral. Nepotisme merenggut kekuasaan, korupsi membunuh ekonomi, kolusi menggadai hak kehidupan bangsa, dan teknologi serta obat-obat terlarang merusak mental generasi untuk jadi bodoh dan pengemis kepada pihak asing yang tumbuh subur menyegar diberbagai aspek kehidupan bangsa.

Sosok Negarawan Muda

Dimanakah negarawan muda yang lahir di tanah surga ibu pertiwi? Negarawan muda bukanlah sosok yang mudah dipanas-panasi oleh masalah yang tak jelas akarnya dimana. Negarawan muda berpikir jenih dan membidik tajam pokok permasalahan lalu musyawarah seperti yang diwarisi oleh negarawan terdahulu dan inilah budaya yang kharismatik, karakter dan keterampilan perencanaan yang membudaya dikalangan warganya (Prof. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D).

Negarawan muda lahir ditanah subur dan harus jadi tunas yang subur juga. Ia terlahir sebagai pemimpin negarawan yang memikirkan Indonesia 100 tahun yang akan datang bahkan lebih dari itu bukan terlahir sebagai pemimpin politik yang hanya memikirkan bagaimana memenangkan kedudukan politik agar terus berkuasa secara grup dan individu. Pemimpin muda mampu merangkul semua kalangan untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan Indonesia yang sudah sangat pelik, mengakar.

Negeri sudah sangat lama tertidur dan tak pernah membangunkan pemimpinya yang tidur yang berkepangjangan. Layaknya negeri ini terjajah seumur hidup. Bukan terjajah selama 3,5 abad ataupun 3,5 tahun tetapi terjajah selamanya dari moral, kemiskinan, kebodohan, keapatisan, ketidakjujuran, dan banyak lagi. Penjajahan dari segi ekonomi, budaya, teknolog apa lagi. Penjajahan ini memang tak tampak dan kurang disadari tetapi jelas menyengsarakan dan melumpuhkan sebagian besar aspek kehidupan bangsa Indonesia.

Negara membutuhkan pemuda yang menjadi negarawan muda untuk jadi pemimpin negarawan agar lepaslah Indonesia dari kemaslahatannya. Pemuda lahir dari jiwa aktivis, bekhidmat pada kepentingan masyarakat, berintegritas, jujur, dan sosialisme yang tinggi. Pemuda sebagai wujud pemimpin masa depan yang tak hanya menghujat dan mengkritik dengan anarkisme tetapi mereka beraksi nyata dan berkonstribusi secara positif pada masyarakat dan pemerintah.

Mengkritik kebijakan pemerintah melalui aksi positif seperti musyawarah, surat terbuka, tulisan melalui media jika pemerintah mulai lalai. Negarawan muda ialah mereka yang bertekad dan nekat dalam memperjuang hak rakyat, kewajibannya sebagai pemimpin bangsa dan tidak mudah terprovikasi oleh pihak yang memiliki kepentingan dan niat untuk menghancurkan bangsa ini.

Tugas dan peran pemimpin negarawan

Pemimpin negarawan menjadi teladan yang sangat signifikan untuk jadi seorang role model diberbagai aspek. Pemimpin negarawan mempunyai kemampuan dalam mempengaruhi rakyat untuk mengestimasikan seluruh energi masyarakat dan mengoptimalkan kemampuan rakyat untuk saling merangkul dan bersama-sama berbuat.

Menyeratakan kelas-kelas yang ada di masyarakat yang bisa menciptakan sekat kental untuk tidak sama dijinjing dan rasa ingin ditinggikan yang berlebih. Kelas dan afilisiasi, pengusaha dan buruh, kampus dan pabrik, sipil dan militer, Polri dan KPK. Semua akan membuat pembaruan yang krusial sesuai kapasitasnya sebagai pelaku dan pemberi contoh di pandangan lokal dan internasional. Buka pencitraan dan peliputan media yang mengagung-agungkan dirinya agar tetap eksis di layar televisi.

Perubahan seperti reformasi di tubuh pemerintahan menjadi main point dalam pemecahan banyaknya permasalahan yang tengah dihadapi Indonesia. Dalam hal ini, birokrasi yang terbuka dan independen menjadi bidikan untuk bagaimana mengelola sistem keuangan negara yang dinilai sangat tidak efisien dengan banyaknya kasus-kasus korupsi diberbagai lembaga tinggi pemerintahan. Tanpa pengelolaan sistem keuangan yang tidak efetktif pada birokrasi, kampus sekalipun yang dikenal sebagai lembaga pencetak generasi intelektual akan membidik proyek dan berburu rupiah semata, melupakan segala inti kewajiban sebagai kontributor ilmu pengetahuan dan peradaban.

Perbaikan tubuh birokrasi akan memberikan keuntungan banyak seperti tidak bebasnya para investor untuk seenaknya menanamkan modal. Contoh, Freeport tak akan pernah puas dengan Indonesia jika harta karun yang kerjanya di Papua belum ludes diambil, investasi 40 tahun, mau makan apa cucu kita nanti.

Kemudian, peningkatan kapasistas industri seperti, industri kapal, industri pesawat terbang, pelabuhan dengan mengoptimalkan sumber daya manusia apalagi Indonesia akan dihadapkan pada bonus demografi. Juga, meningkatkan mutu pendidikan dan pendidikan bagi orang-orang terbaik negeri ini. Mereka butuh asupan pendidikan yang berkualitas taraf international.

Kebijakan baik dari pemerintah ketika membuka kesempatan emas bagi orang-orang terbaik bangsa ini dengan penyediaan beasiswa LPDP dalam dan luar negeri. Mereka yang lahir dari kampus dengan kemampuan intelektuan dan kepemimpinan yang memadai akan diberi beasiswa ke 100 bahkan 50 universitas terbaik di dunia untuk menuntut ilmu agar menjadi generasi yang berkonstribusi besar pada bangsa dan negaranya.

Saya sendiri teringat pada kebijakan presiden pertama negeri ini, Ir. Soekarno mengirim sebanyak-banyaknya pelajar untuk menuntu ilmu teknologi maritim dan pesawat terbang ke banyak negara karena kapasitas Indonesia yang tinggi di bidang maritim dan kedirgantaraan.

Merawat Indonesia

Sosok negarawan muda dan tugas serta peran pemimpin negarawan bukan melirik dia ataupun mereka, tapi kita. Kita adalah bangsa yang besar karena budaya yang kharismatik dan khas mewarnai karakter Indonesia dari gugusan pulau dan kekayaaan alam, budaya, bahasa. Indonesia lahir diantara dua benua Asia dan Australia, diapit oleh laut cina selatan dan samudra pasifik, tak salah jika berbagai negara di belahan bumi ini selalu mengintainya, negara agraris dengan ratusan cincin vulkanis yang menjadikan ia subur dan menjadi pesona dunia yang tersohor.

Mari sibukkan diri untuk merawat Indonesia karena kita, kita adalah kaum yang terlahir di bumi pertiwi ini, raksasa dunia yang bangun dari tidur yang berkepanjangan.

Waktunya aksi nyata, Salam Negawara Muda Indonesia!

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *