Pemimpin Masa Depan Indonesia

Oleh: Arif Suhendar
(Ketua Umum Forum Negarawan Muda/
Universitas Brawijaya)

Pemimpin masa depan Indonesia adalah mereka wajah Indonesia di masa depan. Mereka tidak berseteru dengan perbedaan, tetapi mereka meneriakkan satu suara keras berjudul “Kejayaan Indonesia”. Pemimpin masa depan Indonesia adalah mereka yang mampu untuk membawa Indonesia dalam kejayaanya dan menjadi Pemimpin Dunia.

Menurut Kenneth Boulding (1997) dalam buku The Image: Knowledge in Life and Society, dikatakan mengenai konsepsi seorang pemimpin, sebagaimana berikut: “Good leaders develop through a never ending process of self-study, education, training, and experience. This guide will help you through that process. Good leaders are continually working and studying to improve their leadership skills; they are NOT resting on their laurels.”

Dari uraian Kenneth Boulding di atas mengenai pengertian pemimpin yang baik, ditekankan mengenai aspek proses belajar (improvement) di dalamnya. Jadi proses perbaikan kualitas diri selalu diperlukan untuk menghasilkan pribadi yang memiliki kualitas pemimpin, selanjutnya seorang pemimpin pun harus memiliki kearifan untuk mau terus belajar. Kemudian pada uraian mengenai tujuan kepemimpinan, ditekankan mengenai membuat tim menjadi memiliki motivasi dan memiliki kemampuan dalam meraih tujuan yang utuh. Pendidikan sesungguhnya harus berhasil menciptakan karakter, sehingga subjek yang dididik menjadi memiliki kemampuan berdasarkan atas pembentukan perilaku keseharian (daily habit), bukan semata-mata mengisi (infill dan refill) dengan teori-teori.

Kepemimpinan masa sekarang dilahirkan dari pemuda masa lalu dan pemimpin masa depan dilahirkan dari pemuda sekarang. Pemuda yang berpotensi menjadi pemimpin menggantikan generasi pemimpin lama akan senantiasa muncul dengan segala visi misi dan ideologinya masing-masing melalui proses pendidikan teori dan penerapanya di lapangan dalam upaya membangun karakter. Dalam membentuk pemimpin masa depan perlu disiapkan pemuda dengan pengembangan skill pemimpin masa mendatang yang mampu memenuhi kebutuhan kompetensi pemimpin masa mendatang. Cara terbaik yang harus dilakukan adalah dengan memahami tantangan bangsa yang akan mereka hadapi dan satu cara untuk mengetahui masa depan adalah dengan sejarah.

Dalam Ilmu Futurologi, yakni ilmu yang mempelajari masa depan secara ilmiah dengan mendasarkannya dari kejadian masa kini dan masa lalu. Dalam ilmu ini sejarah menjadi penting untuk di pelajari, pola dan dinamika yang terjadi di masa lalu untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Hal ini telah di lakukan oleh Alvin Tofler.

Tahun 1970, Toffler mengeluarkan buku dengan Judul “Future Sock” yang mencoba memetakan perubahan masyarakat di masa depan. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, Toffler berpendapat bahwa di masa depan banyak sekali kejutan serta perubahan yang terjadi dan begitu cepat sehingga manusia menjadi tegang dan kehilangan arah. Sepuluh tahun kemudian Toffler kembali menerbitkan buku berjudul “The Third Wave” (Gelombang Ketiga). Dalam buku ini ia berteori bahwa perkembangan sejarah peradaban umat manusia sudah mengalami tiga gelombang. Gelombang pertama adalah era agraris atau pertanian, di mana mayarakat masih menggunakan teknologi sederhana dan amat tergantung kepada lahan. Gelombang kedua adalah era industri di mana manusia sudah menggunakan mesin dalam berbagai aktivitas. Pada masa ini, pendidikan, hiburan, media dan rekreasi cenderung bersifat massif. Gelombang ketiga adalah era informasi atau pasca-industri. Pada masa ini, teknologi komunikasi dan informasi merajai dunia dan masuk ke dalam hidup kita sehari-hari. Gelombang ketiga yang “di ramalkan” itu sekarang terjadi.

Contoh pemimpin Indonesia yang kuat sejarahnya adalah Ir. Soekarno dalam sidang di Belanda tahun 1930an bersama Indonesia menggugat pada bagian Bab Cita-Cita Indonesia menyatakan bahwa Indonesia akan merdeka saat samudra menumpahkan darah dan badai mengamuk. Beberapa tahun setelahnya terjadilah pertempuran pasifik dengan kekalahan Jepang yang kemudian terjadi Proklamasi 1945.

Sejarah adalah kisah masa lalu yang mengajarkan tentang mental. Dalam Al-Qur’an Surat Yusuf: 3 mengatakan bahwa “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Dua pertiga isi Al-qur’an adalah sejarah. Yaitu kisah orang-orang terdahulu dalam Al-qur’an ini memberikan sebuah ketauladanan yang memberikan motivasi untuk terus berjuang. Meskipun kita tidak bisa menyebut Al-qur’an sebagai sebuah kitab sejarah, akan tetapi ternyata sejarah dipilih oleh Allah sebagai metode untuk menuntun kita agar dapat memahami dan menghayati agama ini dengan lebih baik lagi. Allah sebagai Sang Khaliq sangat paham bahwa kita lebih mudah memahami suatu perkara dengan bercermin kepada apa yang pernah terjadi di muka bumi ini. Terlebih apa yang telah terjadi di muka bumi ini Allah ceritakan dalam Al-qur’an dengan cara yang menarik. Tentang keputusasaan Yunus di dalam ikan paus, tentang kecerdasan Ibrahim yang menegakan kebenaran, tentang Luqman menasehati anak-anaknya.

Dalam kisah kepemimpinan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel, jauh hari sebelum penaklukkan itu, Al Fatih digembleng oleh Syaikh Syamsuddin dengan ilmu Al-Qur’an, ilmu perang dan ilmu mental dengan mengisahkan para pendahulu yang sudah mencoba merealisasikan Hadist Rasulullah yang menjelaskan tentang sebaik-baik pemimpin adalah yang mampu menaklukan Konstantinopel. Syaikh Syamsudin selalu mengingatkan Al Fatih tentang Hadist Rasul dan mengisahkan para pendahulu yang gugur saat maju dalam laga penaklukan benteng yang kokoh selama 800 tahun tersebut. Syaikh juga menceritakan kisah pertempuran sahabat seperti yang tercatat dalam Shirah Nabawi bagaimana kondisi pasukan dengan segala keterbatasan logistik, jumlah dan peralatan perang namun tetap masih mampu mengalahkan lawannya. Hal ini membuat Al Fatih mampu membentuk pasukan sesuai kebutuhannya, 250 ribu pasukan yang setiap 3000 pasukan dididik Ruhiyahnya untuk dibangun mental tempurnya. Al Fatih terinspirasi dari setiap perang sahabat yang menggunakan strategi berbeda, Al Fatih pun membuat strategi yang tidak pernah di lakukan para pendahulunya dengan membangun Benteng Anadolu Rumelia dan Anadolu Hiseria di sebelah utara dan menggunakan meriam dengan ukuran terbesar.

Dalam perjuangan Indonesia kita tentu mengenal Jenderal Sudirman yang mampu melawan penjajah dengan kondisi ditandu namun tetap masih mampu menggerakan pasukannya melawan penjajah. “Yang sakit adalah Sudirman, Jenderal Besar tidak pernah sakit.

Dari sejarah masa lalu kita akan mendapati satu kata yang secara dasar menghubungkan satu kejadian heroik dengan kejadian lainnya, yakni spiritual atau agama yang kuat. Sebab agama memberikan keyakinan yang tak pernah padam dan ini persis seperti apa yang dikatakan oleh H.O.S Cokroaminoto dengan Triloginya.

“Setinggi-tinggi ilmu”
“Semurni-murni Keyakinan”
“Sebaik-baik Strategi”

Pemimpin masa depan Indonesia, mereka adalah generasi yang mengetahui sejarah masa lalunya dengan kuat, memiliki ruh yang kuat dengan tekad dan semangat yang menggelora tak pantang menyerah membangun bangsanya. Di zaman informasi ini Indonesia tak butuh satu orang pemimpin. Karena Indonesia tidak bisa berdiri dengan darah satu orang, tidak bisa berdiri dengan keringat kerja keras satu orang saja. Indonesia tak bisa berdiri dengan gagasan pemikiran satu orang saja. Indonesia terlalu besar untuk itu, yang dibutuhkan adalah sebuah tim impian yang punya ide-ide besar, gagasan gagasan besar tentang Indonesia.

Tim impian itu tak lagi berpikir tentang perbedaan, tapi kekompakan. Mereka tak lagi berpikir tentang figur tapi ide, mereka tak lagi berpikir tentang janji tapi karya, mereka hanya berpikir tentang tim bukan kejayaan pribadi.(FW)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *