Pemuda dan Masa Depan Bangsa

11155039_856850821042791_8011380371233988758_o

Para pemuda partisipan di Sekolah Kepemimpinan Bangsa 1

Oleh : Zulfikar

“Bahwa sesungguhnya di tangan pemuda lah permasalahan masyarakat akan dipecahkan, dan di dalam pengorbanannya lah suatu bangsa akan tetap hidup dan berkembang”.

Sebuah keniscayaan jika melihat pepatah diatas, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi khususnya pada bangsa ini diawali dari semangat anak-anak muda dalam memperjuangkan segala hal yang mereka yakini. contohnya, peran pemuda sangat berpengaruh besar atas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Jika bukan karena semangat yang membara dan kegigihan kaum muda untuk meminta Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI, tentu Indonesia semakin lama menuai kemerdekaan dan tetap menjadi boneka jepang pada waktu itu.

Sejarah mencatat, masa peralihan dari orde lama ke orde baru pada tahun 1966 dan peralihan dari orde baru ke masa reformasi sampai sekarang lahir karena andil pemuda dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Sehingga asumsi yang sudah mengakar sampai sekarang adalah pemuda adalah agen perubahan. Namun demikian, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah pemuda membawa Indonesia berubah menjadi lebih baik atau berubah menjadi lebih buruk. Tentu semua menginginkan berubah menjadi lebih baik dan menuju kesempurnaan.

Pemuda Masa Kini

Saat ini, keprihatinan mulai tumbuh disebabkan dengan arus globalisasi yang terus menerjang kehidupan lewat berbagai media kehidupan. Berbeda dengan masa perjuangan di tahun 1945 maupun pada masa peralihan. Pemuda sekarang cenderung menghadapi keadaan yang sebaliknya, di satu sisi wabah hedonisme yang merusak pemuda, di lain sisi wabah kemiskinan dan ketidakmampuan yang terbayang di depan mata pemuda setelah mereka menyelesaikan masa studinya. Permasalahan tersebut memang tidak terlalu berbeda dengan pemuda zaman 1945, dimana hedonisme dan kemiskinan mewabah di pemikiran pemuda. Namun prosentasenya dibandingkan sekarang tentu lebih besar sekarang. Hal ini bisa dibuktikan dengan sedikit kepedulian pemuda pada permasalahan bangsa, bahkan justru pemuda lebih disibukkan dengan permasalahan sendiri. Pelajar disibukkan dengan masa pencarian jati diri dengan kaca mata hedonisme barat, sedangkan mahasiswa disibukkan dengan tuntutan agar biaya pendidikan lebih murah.

Permasalahan yang kompleks di atas tentu membutuhkan pencerahan, tidak hanya dari pemuda itu sendiri, tapi juga dari suatu negara yang mau mempersiapkan generasi penerusnya agar membuat negara indonesia menjadi lebih baik. Mengutip apa yang tersirat pada ungkapan Soekarno tentang pemuda dan pembangunan negara, bahwa dengan hanya 10 pemuda, maka dia sanggup membawa Indonesia menjadi lebih baik. Ungkapan tersebut, tidak hanya semata suatu yang bombastis di mulut sang proklamator. Jika dilihat dari sejarah, munculnya dua organisasi masyarakat yang mengakar di Indonesia sekarang; Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, adalah dipelopori oleh anak bangsa yang mempunyai empati yang tinggi terhadap moral bangsa Indonesia, Hasyim Asy’ari dengan NU dan Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah. Mereka berjalan berdampingan dan saling mendukung dengan metode masing-masing dengan satu tujuan yang sama yaitu menguatkan moral masyarakat Indonesia.

Kembali pada permasalahan yang dihadapi pemuda saat ini dan berkaca pada ungkapan Sang Proklamator, maka perlu tindakan pemerintah sebagai seorang ibu, untuk menyiapkan dari sekarang generasi penerus mereka dan aset bangsa agar mampu menerbangkan garuda menuju cakrawala dan dilihat oleh dunia sebagai garuda yang gagah, bukan garuda yang punya penyakit paru-paru dan asma karena hutannya sudah digerogoti, atau terlihat kurus kering karena sumberdaya alamnya habis tidak tersisa untuk makanan dia. Sehingga pada 200 tahun lagi masih terdengar gaung suara kemerdekaan: “Hiduplah Indonesia Raya!“. [FNM]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *