Pemuda Islam Berjiwa Ke-Indonesiaan; Sosok Pemimpin Idaman Masa Depan Bangsa

Oleh : Tengku Novenia Yahya

Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Pepatah ini cocok jika kita ungkapkan pada pembahasan kepemimpinan di Indonesia. Setiap zaman pasti mempunyai seorang pemimpin. Ketika zaman memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh generasi Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Syahrir, Adam Malik, dan beberapa tokoh nasional lainnya. Pada masa reformasi, Indonesia dipimpin oleh KH. Abdurrahman Wahid dan generasinya seperti Ir. Akbar Tanjung, Prof. DR. Amien Rais, Prof, Ir. BJ. Habibie, Hj. Megawati dan beberapa tokoh lainnya. Pemimpin pada zaman sekarang adalah mereka yang dulunya adalah para pemuda pula.

Berbicara tentang pemuda, maka kita juga akan menemukan semangat saat membicarakannya. Masa muda adalah  masa yang penuh dengan semangat yang menggelora dan penuh ujian di dalamnya. Tidak jarang juga kita dengar ungkapan bahwa siapa yang semangat dan berhasil dalam segala ujian yang dihadapai pada masa mudanya, maka selamat pulalah ia dalam menghadapi masa tuanya nanti.

Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya

 

Jika kita bandingkan pemuda zaman sekarang dengan pemuda zaman dulu yang kita kenal melalui catatan sejarah, maka yang terlintas di benak kita ialah pemuda sekarang jauh berbeda dengan para pemuda zaman dulu yang notabene sekarang adalah para pemimpin bangsa. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya kasus yang terjadi pada generasi muda zaman sekarang. Akhir-akhir ini, maraknya berita tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan pemuda menjadi sajian utama di beberapa media massa. Kasus pembunuhan dosen yang dilakukan oleh seorang mahasiswa juga sempat menjadi topik hangat yang diperbincangkan. Belum lagi kasus narkoba, tawuran antar pelajar, tindakan kriminal dan pergaulan bebas yang dilakukan oleh pemuda setiap harinya sudah lumrah menjadi konsumsi informasi publik pada pemberitaan televisi atau pun media online. Hal ini jelas mencoreng moral para pemuda di tanah air ini.

Padahal, kekuatan dan kekekalan suatu bangsa terletak di tangan para pemudanya. Bagaimana nasib suatu bangsa akan ditentukan oleh pemudanya. Sebab para pemudalah yang akan menunjukkan wajah kehormatan suatu bangsa dalam segala kontes kehidupan. Jika para pemuda dalam suatu negara mengalami kerusakan moral dan agama, maka sangat disayangkan nasib bangsa ini nantinya.

Lantas, pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya sosok pemuda idaman yang akan mempimpin bangsa ini? Pemuda Islam berjiwa Ke-Indonesiaan adalah jawabannya. Pemuda Islam ialah pemuda yang tidak hanya sekedar berstatus agama Islam pada KTP nya, namun ia juga menjalankan amalan dan syariat-syariat Islam itu sendiri. Kenapa harus pemuda Islam? Sebab kita mengetahui bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Sejarah menuliskan peran pemuda Islam bagi kemerdekaan bangsa begitu besar. Hal ini harus dipahami oleh pemuda dan mahasiswa yang beragama Islam. Catatan emas sejarah perjuangan tersebut diharapkan mampu membangkitkan kesadaran pemuda Islam untuk aktif dalam pembangunan nasional.

Sebagai pemuda, tentunya dituntut untuk dapat menjaga diri dari pengaruh luar. Hal ini penting sebelum ia terjun ke masyarakat. Era perkembangan zaman berkembangan pesat. Modernisasi dan westernisasi semakin merajalela. Di sisi lain, pemuda Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada agama Islam yang hanif.

Tidak terhenti sampai diri sendiri, pemuda Islam harus berkontribusi terhadap masyarakat sosial. Ia harus harus hidup di tengah-tengah masyarakat karena sikap acuh tak acuh akan melahirkan ilmuwan tanpa kontribusi. Dan ia harus belajar mengenal dan meyelesaikan permasalahan sosial.

Jika mau bercermin pada sejarah bangsa Indonesia, para pendiri bangsa ini adalah para pemuda Islam yang memegang teguh nilai-nilai keislaman. Dapat kita lihat pada sila pertama dasar negara kita, yaitu Pancasila. Pada awal mulanya, sila pertama Pancasila berbunyi : “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya“  sebelum berubah menjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Catatan sejarah tentang rumusan dasar negara pada sila pertama menunjukkan bahwa pada dasarnya para pendiri Indonesia ialah orang-orang yang teguh mempertahankan nilai keislaman. Namun, adanya perubahan sila pertama tersebut juga menjadi cerminan bagi kita bahwa sebagai seorang pemuda Islam pun saat itu Drs. Mohammad Hatta bersama rekan-rekannya mengubah bunyi sila pertama sebagai wujud toleransi dalam keberagaman agama di Indonesia.

Catatan sejarah tentang rumusan dasar negara pada sila pertama menunjukkan bahwa pada dasarnya para pendiri Indonesia ialah orang-orang yang teguh mempertahankan nilai keislaman.

 

Kisah lahirnya Pancasila harusnya menjadi panutan bagi kita bagaimana sosok pemuda Indonesia di masa lalu. Dalam keadaan genting untuk segera merumuskan kemerdekaan Indonesia, pemuda para pemuda dari berbagai pelosok dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari berbagai suku, agama dan budaya bersatu dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda yang cocok memimpin Indonesia ialah pemuda Islam yang berjiwa ke-Indonesiaan. Jika dulu para pejuang proklamasi yang beragama Islam bersikap egois dan tidak memikirkan nilai dasar keberagaman Indonesia, mungkin saat ini nama Negara Kesatuan Republik Indonesia belum kita dapatkan.

Para pendiri bangsa mendirikan sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia hakikatnya sebagai sebuah wadah terdiri segala suku Indonesia, segala golongan Indonesia, dan segala umat agama Indonesia.  Mengutip perkataan Gibson dan Arnold Toynbee bahwa “Suatu peradaban yang besar, tinggi, dan agung, tidak akan hancur, tidak akan tenggelam, kecuali jika dia merusak dirinya sendiri, memecah dirinya sendiri, dan merobek-robek dadanya dari dalam”. Dengan latar belakang etnis, kesukuan, serta keberagaman agama yang ada di negara ini masalah konsolidasi, soliditas, ataupun kesatuan bangsa menjadi ancaman. Oleh karena itu, jati diri ke-Indonesiaan merupakan unsur esensial dalam pembangunan bangsa agar perbedaan-perbedaan yang sifatnya sosio-kultur dapat dicegah agar tidak menjadi ancaman stabilitas negara dan pembangunan baik ekonomi maupun politik.

Jika Indonesia memiliki pemuda Islam yang berjiwa ke-Indonesiaan sama seperti para tokoh pendiri bangsa ini dulunya, maka sosok inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin idaman bangsa di tengah pesatnya globalisasi untuk membawa Indonesia menatap masa depan yang lebih cemerlang.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *