Penguatan Karakter dalam Bingkai Kesatuan Organisasi melalui Model Kaderisasi dan Kepemimpinan Alternatif (bagian kedua)

Oleh : Alvian Novi Arvianto

Universitas Sebelas Maret Surakarta

 

Kesatuan Aksi

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” – (As Shaf: 4)

Sebenarnya bangsa ini tidak membutuhkan hal yang muluk-muluk, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu memimpin sebuah pergerakan dalam kesatuan aski yang utuh.  Tidak mau menoleh sedikitpun walaupun diiming-imingi kekuasaan atau imbalan dengan konsekuensi menjual negerinya sendiri kepada asing dan menggadaikan kedaulatan rakyatnya.

Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin yang terkenal sebagai seorang orator ulung dunia. Tidak berlebihan apabila ada yang mengatakan bahwa baru menengok ke kiri, rakyatnya akan turut menengok ke kiri, begitu pula ketika beliau menengok ke kanan, maka rakyatnya akan menengok ke kanan. Ya, bung Karno namanya, sosok yang tersohor di seantero dunia. Sebagai Negara yang baru merdeka ketika itu, kita sudah disegani oleh dunia. Hal tersebut tidak terlepas dari sosok tangguh pemimpin bangsa ini, sang singa podium, Soekarno. Dulu, ketika kekayaan budaya kita akan dirampok oleh Malaysia, Soekarno tegak berdiri dan berkata, “pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysia keparat itu. Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya. Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”

Pemimpin Indonesia masa itu tidak takut berjuang apabila martabat bangsanya diinjak-injak oleh asing. Kita membutuhkan pemimpin yang ada dan turun langsung ke medan perjuangan, bukan hanya menjadi pimpinan yang bersembunyi di balik meja istananya dan membiarkan negerinya sendiri diinjak-injak.

Di dalam sebuah kesatuan aksi, konsepsi pemimpin dan kaderisasi telah dikenalkan pada bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan diraih. Guru kaderisasi yang dimiliki oleh Indonesia salah satunya yaitu Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Ya, beliau merupakan salah satu orang hebat yang berhasil mendidik Soekarno dan kawan-kawannya yang notabene memiliki sudut pandang yang berbeda dan sangat kuat menjadi sebuah kesatuan yang dinobatkan sebagai ujung tombak pergerakan nasional di masanya. Kaderisasi itu dilakukan di masa muda, masa-masa emas dalam sejarah manusia. Kecintaannya pada bangsa ini membuat Tjokroaminoto rela mendedikasikan hidupnya untuk mengader para pemuda Indonesia kala itu. Ada tiga hal yang paling mendasar yang ditanamkan kepada kader-kadernya, yaitu setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat.

Sudah cukup bangsa ini tertindas. Sudah cukup ketidak adilan terjadi. Kini saatnya kita ikut turun tangan dalam memperbaikinya. Perbaikan ini tentunya membutuhkan komando dari seorang pemimpin dalam sebuah kesatuan aski.

 

Kepemimpinan Alternatif

Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepemimpinan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepemimpinan. Itulah sebabnya kita menyebut para pemimpin itu orang-orang besar.

Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pemimpin. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Kekaguman adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.

Mungkin, karena itu pula para pemimpin selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepemimpinan mulai dicatat ketika naluri kepemimpinan mereka merespon tantangantantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.

Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepemimpinan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Namun, orang-orang yang mempunyai naluri kepemimpinan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu; ini untukku.

Tentunya negeri ini butuh pemimpin yang membawa perubahan dan bergerak dengan bekal ilmu dan wawasan yang kuat dan berpengaruh. Pemimpin yang melakukan transformasi baik struktural maupun kultural. Berpikir cerdas dan visioner, bersikap natural, tegas dan berani, bertindak adil dan bijaksana serta hidup penuh dengan kesederhanaan, disiplin dan kolektivitas.

Ibarat pohon yang berkualitas, pemimpin itu memiliki batang yang besar, daunnya rindang, buahnya lebat dan berkualitas, serta memiliki akan yang kokoh menjulang. Apabila diterjang hujan, bahkan kekeringan, ia tetap berdiri kuat karena akarnya menerobos belahan bawah bumi yang dalam musim apapun bisa bertahan.

Salah satu sifat kepemimpinan adalah kemampuan mengenali personal sebelum persoalan bekembang menjadi matang, dan terlanjur kasep. Untuk itu, dia harus cermat dalam memahami masalah dan sigap menyelesaikannya. Ada masalah yang memang harus diselesaikan sendiri. Ada masalah yang bisa diserahkan kepada tim untuk menyelesaikannya. Tetapi ada juga masalah yang harus dipecahkan secara bersama-sama. Sementara ada masalah yang harus diabaikan. Jangan biarkan pasukan sibuk dengan yang bukan masalahnya.

Pemimpin adalah orang yang dituntut secara lebih. Melihat lebih banyak dari pada orang lain. Memandang lebih jauh dari anggota tim. Mengetahui lebih dahulu dari siapapun. Mendengar lebih banyak dari yang didengar pasukan. Berpikir lebih serius dan visioner ketimbang tim. Berbicara lebih mahfum dari siapapun yang dipimpin. Merasakan lebih dalam atau sama seperti yang dirasakan oleh timnya yang mendapat musibah. Begitulah pemimpin memang harus bangun lebih pagi dan tidur lebih larut.

Pemimpin pun mesti bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat untuk kemudian bisa bersikap sesuai kondisi. Di depan perannya harus jadi gerbong penarik. Di tengah mesti memobilisasi pasukan, dan di belakang ia sanggup mendorong tim. Jangan terbalik memainkan peran. Sebab bila di belakang jadi gerbong penarik, artinya dia pemberontak. Atau memang ini yang terus dan harus terjadi.

Pemimpin harus memahami organisasi sama baiknya dengan mengenali timnya. Agar dia tidak salah langkah dalam membawa organisasi. Agar dia juga tidak salah dalam menempatkan tim pada posisinya. Di tangan yang tepat, organisasi makin kuat. Di sosok khianat, organisasi pastilah berdarah-darah. Di tempat yang pas, tim akan lebih bergairah. Mereka bilang ada passion, ada ruh di sana. Bila ini yang tertanam, tim bakal berbetot untuk totalitas kiprah.

Sebaliknya jangan keliru menempatkan pasukan. Bisa terjadi demotivasi karenanya. Sulit hindari keresahan dan kasak kusuk, kondisi non teknis yang menggerogoti soliditas. Di medan perang, salah strategi pasukan bisa porak poranda. Salah tempatkan pasukan, nyawa jadi taruhan. Itulah membangun tim yang solid, memang jauh lebih sulit ketimbang memenangkan perang.

 

Karakter Pemimpin

Sakichi Toyoda, jadi kisah yang layak untuk ditutur. Dia lahir di Kosai, kota kecil di Jepang. Bapaknya seorang tukang kayu. Miskin tidak membuat Sakichi Toyoda patah semangat. Dari kegemarannya mengotak-atik mesin, lahirlah dari tangannya berbagai perangkat tenun. Akhirnya, dia menemukan sistem yang ketika ada masalah pada mesin, otomatis mesinpun berhenti sendiri. Ini temuan spektakuler yang akhirnya mengubah perindustrian di Jepang.

Karenanya, Sakichi Toyoda digelari ‘bapak revolusi industri Jepang’. Sebuah pengakuan tertinggi akan kepemimpinannya. Sebuah penghormatan besar bagi keluarga rakyat jelata ini. Tahun 1933, pabrik tekstilnya lahirkan divisi baru bernama Toyota, empat tahun setehal dia wafat. Dan kini, Toyota merupakan produsen terbesar di dunia. Toyota berkembang melebihi cikal bakalnya, mesin tekstil.

Di sini adalah nilai kokoh yang menjadi landasan untuk tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai itu adalah disiplin, sungguh-sungguh, perbaiki diri. Disiplin, satu nilai diantara tiga nilai yang terkandung dalam ‘karakter dasar’. Sedang sungguh-sungguh untuk perbaiki diri, keduanya merupakan nilai yang tertera pada ‘karakter unggul’.

Menurut Eri Sudewo (2011: 101), pemimpin tanpa karakter sama artinya pimpinan tanpa moral. Pimpinan tidak bermoral berbahaya bagi dirinya, bagi yang dipimpin, bagi bangsa, bagi Negara, dan bagi agama.

  • Kepemimpinan Formalitas

Sesuai maknanya, formalitas pasti terbatas. Tidak bisa formalitas diberlakukan di setiap keadaan dan di semua tempat. Alangkah lucunya negeri ini bila berkumpul dengan keluarga di rumah,berjalan formal seperti rapat kabinet. Akan makin lucu keluarga Indonesia apabila dalam membiayai anak-anak sekolah dikatakan ‘subsidi’.

Itulah kebohongan publik, membiayai rakyat dikatakan subsidi. Esensinya keluarga sama dengan Negara, keluarga punya anak, Negara punya rakyat. Anak adalah rakyat, rakyat adalah anak. Anak dan rakyat sama, keduanya jadi tanggunggan.

Istilah subsidi menyiratkan pemimpin hari ini tidak mau bertanggung jawab. Barmain di retorika, tebar pesona, dan selalu ingin bermain aman. Presiden itu pemimpin. Pemimpin itu amanah. Amanah itu tanggung jawab. Siapa yang tidak bertanggung jawab, bukan pemimpin namanya.

Jika pemimpin tidak bertanggung jawab, dia hanya ingat jabatan. Jabatan identik dengan kedudukan. Kedudukan punya hak. Hak akan fasilitas rumah, kendaraan, penghasilan, serta tunjangan lain. Juga yang melenakan adalah hak akan perlakuan istimewa. Jika dia presiden Negara, layanan pengawal untuk keselamatan diri dan keluarga menjadi pegamanan yang paling canggih, paling hebat, dan paling mahal. Bila jabatan yang jadi tujuan, semua fasilitas itu mematikan mata hati. Bekunya hati makin menjauhkan dari tanggung jawab. Peran dan profesi apa pun terbatas. Hanya bisa berfungsi di tempat dia harus berfungsi.

  • Kepemimpinan Esensial

Wilayah profesi kedua pemimpin bersifat esensial. Ini bukan profesi formal, karena esensial peran dan fungsi pemimpin otomatis melekat, permanen, jangka panjang, dan tidak terbatas wilayahnya. Dimanapun, kapanpun, dan manusia manapun adalah seorang pemimpin.

Seseorang yang memiliki jabatan formal, belum tentu memiliki sifat kepemimpinan. Inilah problem Indonesia hari ini: ‘pemimpin tanpa sifat kepemimpinan’. Dia memiliki jabatan tapi tidak bisa memimpin. Dia merupakan pejabat Negara tapi tidak paham makna negarawan.

Pandangan, sikap, dan tindakannya tidak mencerminkan itu. Bila bicara mengarah pada debat kusir, terlihat kepentingan kelompoknya, selalu pertahankan diri dan menggunakan kedudukannya sebagai bargaining power. Kebijakannya juga tidak memberi kontribusi besar terhadap kehidupan bangsa.

Pemimpin esensial tidak terjebak pada jabatan. Tanpa jabatan dia tetap memerankan kepemimpinannya, leluasa bergerak  tanpa harus ikuti apa yang musti dilakukan karena tuntutan jabatan. Baginya jabatan jelas jadi beban. Dengan jabatan dirinya jadi tidak leluasa.

Pemimpin esensial, itulah pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan. Tanpa menjabat pun punya manfaat besar bagi lingkungannya. Jika menjabat, maka yang dilakukan pertama adalah istighfar. Bukan sujud syukur, apalagi adakan kenduri dan gelar dukungan simpati.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *