Penguatan Karakter dalam Bingkai Kesatuan Organisasi melalui Model Kaderisasi dan Kepemimpinan Alternatif (bagian pertama)

oleh : Alvian Novi Arvianto

Universitas Sebelas Maret Surakarta

 

“Orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku tempat duduknya di hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku di hari Kiamat adalah orang yang paling banyak bicara, bretele-tele, dan orang-orang yang sombong.” – HR Turmudzi

 

            Kontemplasi dan eloborasi dari sepenggal hadits tersebut memberikan sudut pandangan atau perspektif inklusif tentang pengertian sebuah karakter generasi muda. Dewasa ini sering kita lihat berbagai fenomena yang acap kali membuat telinga kita merasa enggan untuk mendengar berita-berita miring tentang generasi muda saat ini. Terkadang hal tersebut menjadikan karakter generasi muda yang ada di Indonesia seolah kehilangan arah pergerakan sehingga banyak terjadi cacat tafsir dalam perkembangan karakter.

Penyebab fenomena yang ganjil tersebut juga sangat mencolok, apabila ditinjau dalam segi sosio-historis dari sudut pandang yang objektif. Dalam selintas, bukan hanya riwayat yang tersebar di kalangan generasi muda yang mengecilkan hati orang-orang, tetapi susukan fisik dan psikologis generasi muda pun demikian sehingga mendorong orang-orang berbakat ke arah perbuatan yang tidak wajar pada setiap langkah hidup.

Memang ada sedikit pelipur hati, kadang kita mendengar dan menyaksikan putra-putri terbaik bangsa ini mengharumkan nama bangsa dengan beragam prestasi. Namun, fenomena saling berebut jabatan tanpa rasa malu dan tanpa ada sportivitas yang kita lihat hari ini tentunya juga mempunyai korelasi dengan pengembangan karakter yang terjadi semenjak generasi muda. Tentu kita tidak boleh membiarkan bangsa ini menuju ke titik kehancuran. Pertanyaan yang mendasar yaitu dari manakah kita bisa memulai perbaikan itu?

 

Penguatan Karakter dan Pengetahuan

Dalam pembentukan kualitas manusia, peran karakter tidak dapat dipisahkan. Sesungguhnya karakter inilah yang menempatkan baik tidaknya seseorang. Menuru Erie Sudewo (13: 2011) yang menyatakan bahwa posisi karakter bukan jadi pendamping kompetensi, melainkan jadi dasar, ruh, atau jiwanya. Tanpa karakter, ‘peningkatn diri’ dari kompetensi bisa liar, berjalan tanpa rambu dan aturan.

Satu hal terpenting karakter adalah sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari. Karakter merupakan perilaku baik dalam menjalankan peran dan fungsinya sesuai amanah dan tanggung jawab. Di sinilah titik utama mengapa istilah karakter memiliki kekuatan, mengandung daya, mempunyai kharisma. Ada amanah dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Hingga bicara karakter, konteksnya selalu mengarah pada sesuatu yang agung.

Perilaku baik, sadar, hingga paham akan amanah dan tanggung jawab, inilah rangkain kata kunci yang menjadi visi. Boleh dikatakan, orang berkarakter adalah orang yang memiliki visi. Sebaliknya orang yang bervisi belum tentu berkarakter. Maka dalam konteks membangun peradaban di Indonesia, jika seseorang memiliki keinginan untuk membangun Indonesia agar memiliki harga diri, itulah visi yang sebenarnya.

Penguatan karakter seharusnya juga diimbangi dengan penguatan akal dan kesucian diri. Merujuk pada literatur, barangkali Ghazali merupakan salah satu filosof yang keimanannya dan pertimbangan akalnya selalu berjalan beriringan satu sama lainnya. Akalnya adalah kebanggan ilmuan dan agamanya mencontoh keimanan nubuwwah.

Dalam keutamaan-keutamaan yang berelemen tiga: ibadah, kesyahidan, dan ilmu pengetahuan maka (elemen) terakhirlah yang menduduki kekuasaan tertinggi daripada yang lainnya.  Di hari kiamat, wasilah (dengan perantaraan) ulama akan menjamin keselamatan bagi beberapa orang yang berdosa. Tuhan telah mentasbihkan Nabi Sulaiman a.s untuk memilih salah satu dari tiga hal: ilmu pengetahauan, kerajaan, atau harta kekayaan. Amat bijaksanalah dia, karena dia memilih imu pengetahuan sehingga dua perkara lainnya jatuh pula ke tangannya.

Ilmu pengetahuan merupakan makanan rohani dalam nyawa. Tanpa ilmu pengetahuan, rohani akan kelaparan bahkan mati di atas makanan alaminya. Hanya manusia yang siap membimbing dan mengarahkan orang-orang lainlah yang akan berselendang dengan ilmu pengetahuan dan hikmah.

Ilmu pengetahuan merupakan amanat (kepercayaan) yang suci dan hanya dianugerahkan kepada orang-orang saleh, sedangkan lapisan yang rendah dan cabul pasti dijatuhkan dari amanat suci tersebut. Ketika seseorang tidak memedulikan ilmu pengetahuan atau bersikap biasa-biasa saja (tidak menghormati) kepada ilmu berarti dia berlaku kejam kepada dirinya.

Menurut Ghazali (54: 2005), para pencari kebenaran dan ilmu pengetahuan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Kelompok rasionalis, yang mengaku melihat dengan sangat dalam hal-hal atau fenomena tertentu dengan bantuan kemampuan akal pikiran.
  • Batin, yang menyombongkan keadaannya karena mempelajari dan memperoleh ilmu pengetahuan yang membahagiakan dari imam yang suci pada zaman mereka.
  • Para filososfi, yang menganggap diri mereka memahami dan menguasai akal dan logika.
  • Para sufi, yang mengaku memperoleh ilmu pengetahuan dengan sarana intuisi dan wahyu dari Tuhan.

Ghazali dalam bukunya Filsafat Pendidikan juga menguraikan secara panjang lebar dengan setumpuk argumen logika, akal sehat, dan kerja deduktif bahwa orang-orang yang bersandar pada sarana objektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan, sebenarnya dia mengikuti ilusi-ilusi yang kenyataannya melemahkan mereka. Jadi, dia tidak mempercayai pengakuan tiga aliran pemikiran objektif pertama mengenai peningkatan ilmu pengetahuan yang asli dan handal. Dengan melibatkan keterusterangan, dia mengukukan keabsahan dan memperjelas pengakuan-pengakuan para sufi bahwa hanya merekalah yang dengan menghilangkan keberatan, memahami dan menyadari tipe ilmu pengetahuan yang benar. Itulah sebabnya Ghazali memilih tasawuf sebagai jalan yang paling meyakinkan untuk menyadari diri, Pencipta (Khaliq)-Nya, dan mendapatkan tipe ilmu pengetahuan asli dan abadi yang menolongnya di alam akhirat.

Setelah dengan gigih membela tasawuf sebagai peralatan belajar, tata aturan, dan tindakan hidup, Ghazali menyatakan bahwa:

  1. Tasawuf merupakan pengetahuan dan pengalaman, tasawuf pada dasarnya merupakan semacam ilmu pengetahan yang praktis.
  2. Teori maupun pengalaman tasawuf membina jiwa, menyucikan diri, dan menerangi jalan menuju Tuhan.
  3. Tasawuf mengangkat seseorang dalam hal moral, rohani, dan kecerdasannya.
  4. Hati diarahkan kepada penciptanya.

Semakin dalam ilmu pengetahuan seseorang, maka kebijaksanaan dirinya juga akan semakin membaik. Tingkat kebijaksanaan seseorang dapat dikategorikan menjadi empat lapisan, diantaranya:

  • Jenis kebijaksanaan yang paling tinggi adalah kebijaksanaan yang membedakan seseorang dari makhluk rendah lainnya di alam semesta. Kebijaksanaan ini memungkinan orang tersebut untuk mengembangkan egonya yang terpisah dari binatang buas, burung, reptile (binatang merayap), dan lain-lain sehingga menjadi kebudayaan yang berbeda. Jenis kebijaksanaan ini telah membuatnya sadar akan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Manusia sebagai jenis makhluk yang mempunyai kelebihan di alam semesta ini tidak akan berari apa-apa bilamana tidak menyadari sesuatu yang menyeretkan ke jalan yang salah. Dalam hal ini, kebijaksanaan merupakan kehormatan dari Tuhan, suatu karunia dan keberkatan dari Tuhan yang Maha Agung yang apabila tidak ada, kebaikan dan nilai manusia akan sama dengan binatang.
  • Jenis kebijaksanaan berikutnya disebut akal sehat yang dengannya seseorang secara alami mengetahui yang baik dan yang jelek atau apa yang mesti dia perbuat dalam situasi tertentu atau mengetahui bahwa dua ditambah dua adalah empat. Akal sehat memungkinkannya menempuh banyak situasi yang berduri dalam hidup semata-mata dengan kebebasan kekuatan yang sudah dikembangkan manusia sebagai suatu species, setelah pengembaraan yang sangat lama untuk peningkatan.
  • Beberapa eksperimen dan pengalaman hidup menambahkan jenis dimensi lain pada kebijaksanaan manusia yang membuatnya bermanfaat, logis, dan lebih sadar setelah mendapatkan pengalaman yang baru daripada keadaan sebelumnya. Setiap pengalaman yang kecil atau yang besar akan membangkitkan kesadaran manusia sehingga memungkinkannya untuk meralat kekeliruannya di waktu yang lampau. Apa yang pada umumnya dinamaka kesadaran historis adalah semata-mata akibat logis dari eksperimen dan pengalaman baru yang dengan sadar atau tidak sadar telah didapatkan oleh manusia. Dengan penambahan tahun-tahun dan poses waktu yang memberi ketenangan, para individu dan kelompok sosial yang dinamis dan kreatif menjadi lebih cerdas dan bijaksana.
  • Pada akhirnya, tetapi bukan yang paling sedikit, kebijaksanaan berarti sifat kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik bagi kebutuhan di masa depan, pemeliharaan yang baik, dan kepekaan akan kemungkinan akhir dari suatu tertentu yang kita jalankan untuk disadari.

Menurut hadis Nabi Muhammad SAW, hanya orang baiklah yang dinamakan orang bijaksana. Sekali waktu, seseorang bertanya kepada Nabi mengenai siapa yang lebih terdidik, lebih bijaksana, dan lebih tinggi (kedudukannya) dibandingkan dengan orang lain dan siapa yang lebih banyak ibadahnya kepada Tuhan daripada orang-orang lain? Untuk semua pertanyaan tersebut, jawaban beliau sangat sederhana dan singkat, “Hanya yang bijaksana”. Dan orang yang bijaksana adalah orang yang baik, bermurah hati, fasih pembicaraannya, memegang teguh kebenaran, rajin, tabah dalam mencari dan memberikan kebenaran.

Ketika menyatakan dan mempertimbangkan secara mendalam atas sebab-sebab tentang mengapa dan bagaimana ilmu pengetahuan yang benar telah tenggelam dari pandangan orang-orang, Ghazali dengan terus terang berbicara panjang lebar atas pertanyaan mengenai terlalu banyaknya pemakaian kata-kata dan berbagai penekanan yang benar dari beberapa kemampuan belajar yang telah dibuang-buang atau diperosokkan ke dalam sesuatu yang tidak berguna sehingga mengurangi bentuk luar cabang belajar khusus itu sendiri. Hal itu tampak di dalam dua cara yang amat jelas:

  1. Beberapa kata ungkapan, peristilahan, idiom, berbagai satuan, dan keseluruhan cabang ilmu pengetahuan tertentu pun tidak mampu bertahan atas penjebolan waktu, dan bentuk maupun isi semacam itu secara tidak disadari akan memburuk.
  2. Para ulama yang mulia, untuk mendapatkan kehidupan materinya, dengan sengaja membuang-buang berbagai cabang pelajaran yang bervariasi.

Ilmu atau pengetahuan para ulama pada masa-masa Islam yang pertama berarti ilmu pengetahuan tentang Tuhan, pengertian yang penuh tentang kitab Tuhan (suci)-Nya, dan sunnah Nabi yang suci.  Itulah sebabnya, pada mulanya istilah “wamlana” dan “mawli” berarti seseorang yang telah menyadari dirinya dan Tuhan penciptanya. Dengan kata lain, istilah-istilah tersebut menunjuk pada seseorang yang secara sempurna telah mengatasi bagian-bagian dasarnya, baik berupa daging dan tulang, dan telah mencerahkan keadaan batinnya. Dengan pergantian waktu, kata-kata tersebut akhirnya menunjuk sembarang orang mana pun yang memakai jenggot pada wajahnya, walaupun ia kriminal. Tidak ada kata-kata lainnya di dalam bahasa apapun yang secara tidak karuan dan dipersalahkan dalam penggunaan dan artinya sebagaimana kata-kata mawlana dan mawli yang telah diselewengkan.

Setelah Islam tersebar, kata ulama mengandung arti seorang pendebat, pemikir, dan manusia yang dianugerahi kecerdasan untuk berpolemik. Kecerdikan atau belajar di dalam arti perubahan untuk menjelajahi kebenaran-kebenaran untuk melatih diri seseorang dan orang-orang lainnya, untuk menjaga keteraturan akhlak di dalam masyarakat segera berakhir secara tragis.

Kebijaksanaan pada asalanya berarti merenungkan Tuhan dan alam semesta yang telah Dia ciptakan. Seorang hakim atau orang yang bijaksana adalah seorang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang abadi. Manusia dengan kebiasan bertakafur dan merenung biasanya adalah para pecinta kesunyian karena kebijaksanaan datang dengan keadaan sendirian, sedangkan karakter datang dalam berteman dengan manusia. Sufyan Ats-Tsauri secara apik mengutarakan bahwa ulama yang baik dan bijaksana pada umumnya adalah menyendiri sepenuhnya di dalam mengejar kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan ilahiah. Apabila seorang ulama dikelilingi oleh sekelompok sahabat atau segerombolan orang, dia adalah orang yang mencampuradukkan kesalahan dengan kebenaran dan mencampuradukkan yang buruk dengan yang baik. Apabila telah menjadi orang beriman atau penceramahan yang sejati atau pemegang teguh atas kebenaran, dia akan mempunyai lebih banyak lawan daripada sahabat.

Dimensi ruhani memungkinkan manusia untuk mengadakan hubungan dan mengenal Tuhan (Ancok & Suroso, 2005). Berkenaan pentingnya dimensi ruhani dalam kajian psikologi, Erich Fromm seorang psikolog asal Amerika menyatakan bahwa kebutuhan utama manusia untuk hidup secara bermakna yang berwujud aktivitas menyembah Sang Pencipta, belum dipenuhi oleh peradaban Barat (Amerika). Mereka sukses dalam meraih material, namun kehidupannya dipenuhi keresahan jiwa. Meski mereka hidup di panti werdha (settlement) yang memadai bersama orang-orang yang seusia serta mendapat berbagai jaminan sosial, banyak di antara mereka yang memutuskan untuk bunuh diri (Nashori, 2002).

Bangsa Indonesia tidak mungkin akan menjadi bangsa besar jika mengabaikan tradisi ilmu ini. Jika budaya santai, budaya hedonis, budaya jalan pintas, terus dikembangkan, maka hanyalah mimpi saja untuk berangan-angan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar yang disegani dunia. Dalam perspektif Islam, manusia beradab haruslah yang menjadikan aktivitas keilmuan sebagai aktivitas utama mereka. Sebab seorang Muslim senantiasa berdoa: ”Rabbi zidniy ’ilman” (Ya Allah, tambahkanlah ilmuku). Lebih dari itu, Rasulullah saw juga mengajarkan doa, agar ilmu yang dikejar dan dimiliki seorang Muslim adalah ilmu yang bermanfaat. Hanya dengan ilmulah, maka manusia dapat meraih adab, sehingga dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai ketentuan Allah swt. Inilah konsep adab sebagaimana dipahami oleh kaum Muslim.

Lebih jauh, Prof. Naquib menjelaskan, bahwa jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Lebih jauh, pakar filsafat Islam dan sejarah Melayu ini menjelaskan bahwa, ”… adab itu sesungguhnya suatu kelakuan yang harus diamalkan atau dilakukan terhadap diri, dan yang berdasarkan pada ilmu, maka kelakuan atau amalan itu bukan saja harus ditujukan kepada sesama insani, bahkan pada kenyataan makhluk jelata, yang merupakan ma’lumat bagi ilmu.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001)).

Jadi dalam Islam, konsep adab memang sangat terkait dengan pemahaman tentang wahyu. Orang beradab adalah yang dapat memahami dan mengakui sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah. Di dalam Islam, orang yang tidak mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan, bisa dikatakan tidak adil dan tidak beradab. Sebab, di dalam al-Quran, syirik dikatakan sebagai kezaliman besar, seperti dikatakan Lukman kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS 31:13). Nabi Muhammad saw berhasil membangun peradaban Islam di Madinah, yakni suatu masyarakat yang menegakkan adab dalam kehidupan mereka. Masyarakat beradab – menurut Islam — adalah masyarakat yang memuliakan orang yang beriman, berilmu, orang yang shalih, dan orang yang taqwa; bukan orang yang kuasa, banyak harta, keturunan raja, berparas rupawan, dan banyak anak buah. Peradaban yang dibangun Nabi Muhammad saw di Madinah adalah sebuah contoh ideal. Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang haus ilmu, cinta ibadah, dan cinta pengorbanan. Kondisi itu sangat jauh berbeda dengan kondisi masyarakat Jahiliah, yang merupakan masyarakat yang tidak beradab, alias masyarakat biadab.

Pemahaman dan pengakuan tentang adab inilah yang membedakan seorang Muslim yang berkarakter dengan seorang komunis atau ateis yang berkarakter. Secara umum, pendidikan karakter yang digalakkan oleh pemerintah adalah baik. Tetapi, orang yang berkarakter saja, belum tentu beradab. Lihatlah, orang-orang Barat, banyak yang sangat peduli dengan kebersihan dan kerja keras, tetapi mereka tidak memandang jahat aktivitas bermabok-mabokan, bertelanjang, dan berzina.

Karakter yang baik, menurut John Luther, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit – dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras) (John Luther, dikutip dari Ratna Megawangi, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007).

Karakter memang laksana “otot” yang memerlukan latihan demi latihan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan dan kekuatannya. Karena itu, pendidikan karakter memerlukan proses pemahaman, penanaman nilai, dan pembiasaan, sehingga seorang anak didik mencintai perbuatan baik. Contoh, untuk mendidik agar anak mencintai kebersihan, maka harus dilakukan pembiasaan hidup bersih dan diberikan pemahaman agar mereka mencintai kebersihan. Tentu, ini adalah cara yang baik dan memerlukan kesabaran dalam pendidikan.

 

bersambung ke bagian kedua …

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *