Sudah Seberapa Bermanfaatkah Gadget Kita?

Sambil menunggu presentasi Project Programming Linear Operation yang membahas tentang master plan Green Campus IPB, saya ingin sedikit menuliskan jawaban dari salah satu pertanyaan yang mungkin membuat beberapa orang geram karenanya. “Sudah seberapa bermanfaatkah gadget kita?”, sebuah pertanyaan yang memutar balikan otak dan membuat kita harus mendadak mengintropeksi diri. Semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan tentang itu. Selamat membaca . . .

Dalam beberapa kesempatan, kita sering menemukan banyak sekali gambar-gambar yang tersebar di social media dengan tagline “Enaknya hidup tanpa gadget”, “Masa lalu saat tidak ada gadget”, dan segala tagline lain yang erat kaitanya dengan kondisi ketika tidak ada gadget. Mungkin kita adalah salah satu orang yang termasuk kedalam generasi yang bisa dibilang merasakan keduanya, tidak terlalu tua untuk menerima perubahan dan tidak terlalu muda untuk membuat perubahan. Dulu, kita menjadi generasi yang bergerak tanpa gadget. Banyak sekali kebaikan yang bisa kita lakukan. Dan sekarang kita telah mengalami pergeseran generasi menjadi generasi full of gadget. Pergeseran ini menjadi penting karena kondisi ini bisa kita katakan sebagai pedang yang mempunyai dua mata sisi. Di satu sisi, ini kekurangan untuk kita karena semuanya akan menjadi lebih instan dan membuat terlena karenanya. Namun di sisi lain, ini bisa jadi kebaikan-kebaikan yang tak ternilai yang bisa kita lakukan. Seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, daripada mengutuk kegelapan lebih baik kita menyalakan lilin. So, saya ingin share apa yang telah saya dan tim saya lakukan dengan gadget yang kami punya

Kita Gerak merupakan salah satu hal yang kami gunakan sebagai tools kebaikan. Sebuah pembinaan kepemimpinan dan prestasi yang semua kegiatannya berplatform full online dengan gadget yang kami punya. Dengan hanya bermodal broadcast melalui gadget, hanya beberapa jam saja pesan sampai kepada mahasiswa Indonesia yang berada di seluruh belahan dunia. Awalnya kami tidak pecaya bahwa akan banyak sekali yang berminat hingga akhirnya terbentuklah 13 alumni angkatan #1 (Indonesia, Turki) dan 31 alumni angkatan #2 (Indonesia, Turki dan Sudan) yang tersebar di seluruh kampus. Dengan program-program yang di-Kaizen dari beberapa organisasi. Kami berhasil melaksanakan pembinaan online yang (sekali lagi) semuanya full of gadget. Output yang dihasilkan oleh peserta pun bisa dikatakan sebagai prestasi-prestasi yang luar biasa, seperti tulisan-tulisan yang dimuat media, menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi, hingga mendirikan social project. Dengan gadget yang kami punya, kami berhasil membuat mimpi-mimpi besar untuk Indonesia yang terangkai ke dalam bentuk-bentuk karya.

Berikut adalah mimpi-mimpi dari desa mimpi Kita Gerak: KazeKaGe, HoKaGe, MizuKaGe, RaiKaGe. Disana kami belajar bahwa terkadang dalam keseharian, kita masih banyak menggunakan cara-cara konvensional. Padahal ada beberapa hal yang bisa kita efektifkan dengan gadget-gadget kita namun tetap tidak menghilangkan substansinya, masih banyak kebaikan-kebaikan yang bisa kita perbuat dengan gadget-gadget kita, dan masih banyak kreasi serta inovasi yang bisa kita ciptakan melalui gadget-gadget kita. Semoga tulisan ini bisa memberikan paradigma baru bahwa kita bisa menciptakan dunia kita sendiri melalui gadget kita. The world is in your hands!

 

Kampus Kota Hujan, 08 Desember 2015

 

Ryan Frizky

Founder Kita Gerak

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *