Transformasi Lee Kuan Yew

Oleh: Dr. Zaim Uchrowi, MDM.
Guru Karakter & Transformasi.

“Jika kalian merasa sulit berpikir kalau tidak mengunyahnya, coba saja ganti dengan pisang.”
–Lee Kuan Yew

Itu kutipan tentang permen karet. Siapa lagi yang mengatakannya kalau bukan ‘Bapak Singapura’ yang wafat 23 Maret 2015 lalu. Ia mengatakannya pada radio BBC tahun 2000 silam. Saat itu wartawan BBC menanyakan pandangannya mengapa Singapura begitu keras menindak orang yang membuang kunyahan permen karet seenaknya.

Permen karet. Itu salah satu hal yang paling dikenal dunia tentang Singapura. Bukan karena enaknya rasa permen karet mereka. Namun karena besarnya denda yang dijatuhkan terkait permen karet. Tidak ada negara di dunia yang khusus mengurus permen karet selain Singapura. Itukah yang menjadikan Singapura tumbuh menjadi salah satu negara termakmur di dunia?

Tentu saja bukan permen karet yang membuat Singapura makmur. Namun urusan permen karet berkontribusi dalam kemakmuran negeri pulau itu. Hingga pertengahan periode 1960-an, Singapura ‘bukan apa-apa’.  Bekas wilayah Kesultanan Riau Pulau Penyengat ini saat itu hanyalah pulau berawa-rawa dengan perkampungan kumuh di sana sini. Sangat jauh untuk dapat menjadi model peradaban dunia.

Lee Kuan Yew bertekad untuk mengubahnya. Ia punya bekal untuk mengtransformasi Singapura. Dari sebuah kampung pulau di khatulistiwa menjadi sebuah hub –‘pelabuhan penghubung’—perekonomian global. Ia seorang pengacara lulusan Cambridge di zamannya. Pengenalannya tentang Eropa membuatnya tahu bagaimana wajah semestinya dari sebuah peradaban. Ia tahu pula bagaimana membangun peradaban itu.

1965. Singapura merdeka dari Malaysia. Gagasan transformasi diusung tinggi buat Singapura. Apalagi yang dapat menyelamatkan –bahkan memajukan– Singapura kalau bukan transformasi.  Lee melihat peluang itu. Singapura tak punya sumberdaya apa-apa. Namun kawasan sekitarnya, kepulauan Nusantara ini, adalah kawasan yang sangat kaya di dunia. Singapura bisa menjadi pusat pengendali ekonomi kawasan ini.

Kunci transformasi itu adalah mindset. Pola pikir. Yakni transformasi pola pikir warga kampung pulau menjadi pola pikir warga hub ekonomi dunia. Transformasi pola pikir itu dilakukan dengan mentransformasi struktur. Baik struktur fisik maupun struktur sosial. Struktur fisik dilakukan dengan membongkar kampung-kampung yang ada, menggantikannya dengan perumahan bertingkat.

Housing Development Board (HDB) menjadi titik awal transformasi oleh Lee Kuan Yew. Bekas perkampungan dihijaukan menjadi kota. Penduduk ditampung di perumahan-perumahan perkotaan. Dengan perubahan fisik seperti itu, perubahan sosial pun dilakukan. Yakni mengubah “masyarakat tradisional” menjadi “masyarakat industri”.

Ketertiban menjadi pondasi dasarnya. Hal itu menyangkut kedisiplinan dan sekaligus kebersihan. Membuang sampah sembarangan didenda. Begitu pula meludah di tempat umum, dan juga membuang sisa permen karet seperti tersebut di atas. Seloroh “Singapore is a fine city” memang mengemuka. Fine yang berarti denda, dapat pula berarti bagus. Dalam konteks Singapura, denda itu terbukti membuatnya menjadi kota yang bagus.

Ketika masyarakatnya tumbuh menjadi masyarakat industri, mudah bagi Lee Kuan Yew menjadikan Singapura hub ekonomi global. Investor asing diundang dan disambut baik. Infrastuktur dibangun habis-habisan. Ia ciptakan fasilitas terbaik untuk investasi maupun untuk layanan sebagai hub dunia. Dalam infrastruktur, pelabuhan Singapura salah satu yang terbaik di dunia. Begitu pula pelayanannya. Itulah yang membuat banyak negara bergantung pada Singapura, termasuk Indonesia.

Hasilnya, Singapura tumbuh menjadi negara yang sangat makmur. Tingkat pendapatan perkapita Singapura mencapai lebih dari 15 kali lipat pendapatan perkapita Indonesia. Peringkat kesejahteraan masyarakatnya adalah 9 sementara Indonesia di peringkat 107 dunia. Pencapaian dalam bidang  kesehatan, pendidikan, dan teknologi pun melesat. Begitu pula dalam berbagai bidang jasa yang ditekuninya.

Meskipun begitu, Singapura belum puas dengan pencapaiannya. Bagi mereka tak cukup dengan hanya menjadi pusat keuangan dan ekonomi di kawasan Asia Pasifik Barat.  Negara itu juga menjelma menjadi pusat kegiatan budaya terpenting di kawasan ini. Karya-karya maestro asal Indonesia seperti La Galigo dan Matah Ati menjadi besar setelah dipentaskan di Singapura. Drama Broadway New York pun rutin tampil di Singapura. Itu semua merupakan bagian dari hasil transformasi yang diinisiasi Lee Kuan Yew.

James MacGregor Burns (1978) memulai kajian transformasi dengan mengenalkan istilah “kepemimpinan transformasional”. Dalam pandangannya, kepemimpinan tersebut merupakan suatu proses di mana pemimpin dan pengikut saling membantu meningkatkan diri menuju “jenjang moral dan motivasi yang lebih tinggi”.

Sejak itu kajian kepemimpinan transformasi terus berlanjut. Termasuk yang dilakukan ‘bapak ensiklopedi kepemimpinan’ Bernard M. Bass (1985). Menurut Bass, seorang pemimpin transformasi adalah seorang pemimpin yang memiliki kualitas. Dengan kualitasnya, para pengikut menjadi “percaya, kagum, loyal, dan hormat” bahkan “siap bekerja lebih keras dari semestinya”.

Lee Kuan Yew memiliki kualitas seperti yang disebutkan oleh Bass. Ia tidak tiba-tiba mentransformasi Singapura. Ia membangun modal kepemimpinan yang kuat lebih dulu yang membuatnya mampu mentransformasi masyarakat kampung rawa-rawa itu. Modalnya bukan sekadar modal kekuasaan politik, melainkan hal lain yang lebih kuat yang membuat sebagian besar masyarakatnya percaya, kagum, loyal, dan hormat, serta siap bekerja lebih keras dari semestinya.

Modal berharga sekaligus pondasi utama transformasi Singapura oleh Lee Kuan Yew adalah integritas. Aspek ini menyangkut ketulusannya bahwa transformasi didorongnya memang benar untuk kemajuan dan kesejahteraan seluruh bangsa Singapura. Bukan untuk kelompoknya. Apalagi demi keluarga dan dirinya sendiri.

leekuan
Semua tahu bahwa Lee Kuan Yew seorang jujur dan dapat dipercaya. Itu modal utamanya. Apalagi ia juga seorang yang sangat kompeten. Kepemimpinannya bukan hasil dari ‘menyihir publik’, melobi, atau ‘merebut kursi’. Kepemimpinannya merupakan buah dari kapasitas atau kompetensinya. Ketulusan, kejujuran, plus kompetensi itulah yang mengantarkannya ke level tinggi dalam integritas. Level yang secara umum masih sulit diraih dalam kepemimpinan pemerintah maupun korporasi milik negara di Indonesia.

Bukan hanya integritas yang menopang transformasi Singapura. Visi yang jelas juga menjadi kunci transformasi yang dilakukan Lee Kuan Yew. Merasa terjepit oleh negara-negara yang dominan beretnis Melayu, Singapura mengambil strategi Israel yang kuat di tengah kawasan Arab yang keras. Visi Singapura bahkan terbukti lebih efektif dibanding Israel, terbukti dari pencapaiannya sekarang.

Transformasi itu juga ditopang dengan determinasi yang luar biasa. Singapura memiliki pinsip Kiasu –bekerja ekstra keras karena tak ingin gagal. Prinsip Kiasu itu dijalankan oleh seluruh elemen Singapura, mulai dari negara hingga masyarakat bawah.  Belakangan timbul kritik terhadap prinsip itu karena dipandang membuat bangsa Singapura “kurang manusiawi”. Tetapi Kiasu itu telah menjadi kunci determinasi kuat bagi transformasi Singapura.

Penopang lain transformasi Singapura adalah sinergi. Berbeda dengan para pemimpin Israel yang memilih konflik, Lee Kuan Yew memilih bersinergi dengan negara-negara tetangganya. Untuk itu pada tahun 1973 Lee Kuan Yew rela menabur bunga di pusara Usman dan Harun –pahlawan Indonesia yang digantung Singapura dalam Konflik Malaya pada 1960-an. Hasilnya: Indonesia dalam banyak hal termasuk enerji menjadi sangat tergantung pada Singapura.

Lee Kuan Yew menunjukkan bagaimana sebuah transformasi besar dapat berjalan secara benar-benar efektif. Integritas, visi, determinasi, hingga daya sinergi Lee Kuan Yew telah mengantarkan Singapura menjadi seperti sekarang.  Soal permen karet hanyalah pernak-pernik yang ikut mewarnai transformasi besar itu.*

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *