Yakin, Masih Mau Membenarkan LGBT?

Oleh: Redza

Alangkah lebih afdhal-nya, jika di awal saya memohon maaf bahwa tulisan ini bukanlah bermaksud menggunjingkan aib orang lain, akan tetapi anggaplah sebagai sebuah refleksi atas fenomena yang terjadi. Saya akan memulainya dengan sebuah cerita.

Beberapa waktu yang lalu saat saya dan beberapa kawan saya makan siang di sebuah warung makan, saya menjumpai pemandangan yang mengherankan. Saat itu ada dua orang wanita yang kebetulan sedang makan di meja sebelah saya. Satu orang berpenampilan ‘layaknya’ seorang wanita pada umumnya – anggun, menawan, dan terlihat feminim. Satunya lagi berpenampilan seperti pria – berpakain simpel ala kadarnya, rambut pendek ala pria umumnya, plus ditutupi dengan topi gaul ala rapper-yang sama sekali tak menunjukkan sisi feminimnya seorang wanita. Pemandangan ini mungkin saja biasa ditemui oleh kawan-kawan di tempat yang lain. Tetapi, yang membuat saya, beberapa teman saya, pengunjung, bahkan pegawai warung makan keheranan adalah perilaku yang ditunjukkan kedua wanita itu..

Saat memulai makan, kami memperhatikan mereka berdua saling berfoto ‘mesra’ layaknya pasangan kekasih. Foto sana-foto sini. Baiklah, barangkali aktivitas itu juga adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para kaum hawa. Oleh karenanya, tak usah terlalu kita besarkan perkaranya. Sambil melanjutkan makan, sengaja saja kami memperhatikan aktivitas mereka kembali. Lama-kelamaan mereka semakin ‘menjadi-jadi’. Santai sekali mereka saling berpegangan tangan mesra layaknya seorang kekasih, dan yang menjadi bagian tak lumrahnya adalah mereka saling pandang-memandang mata satu sama lain. Begitu romantisnya-seperti kisah-kisah romantisme sinetron percintaan Indonesia. Tetapi sayang bukan kepayang, ini bukan sinetron fiktif, ini fakta. Sayang seribu sayang, ini juga bukan drama percintaan para aktor dan aktris ala sinetron, ini fakta.

Dari belakang, saya mendengar desas-desus para pegawai warung makan, juga pengunjung lain yang membicarakan perilaku kedua wanita itu. Semua desas-desusnya jelas sekali mengarah ke pembicaraan yang negatif dan sinisme. Dan itu hal yang lumrah sekali.

Mendengar desas-desus mereka, saya mencoba untuk diam terlebih dahulu, tak berkomentar apapun. Alasannya ada pada dua hal, yaitu: Pertama, saya tidak bisa dengan begitu mudahnya memutuskan apakah aktivitas kedua wanita itu termasuk dalam salah ciri perilaku LGBT-yang saat ini ramai dibicarakan publik ataukah itu hanya aktivitas lumrah-yang biasa dilakukan bagi para kaum hawa (maaf, kami hanya berbeda gender, harap maklum jika kami tak begitu memahami). Kedua, jika saya salah menduga, runyam sekali dampaknya. Saat saya salah menfasirkan dan kemudian saya menceritakan realita ini kepada orang lain, jelas sekali itu hanya akan menyebarkan fitnah.

Baiklah. Sebenarnya saya tak akan membahas panjang lebar aktivitas dua orang yang saya ceritakan tadi, yang menarik perhatian adalah dampak dari para pelaku LGBT dan juga dampak desas-desus orang-orang yang langsung membicarakannya akibat melihat aktivitas sosial yang ‘tak wajar’ itu. Dan itu adalah hal yang wajar.

LGBT yang Bete

Menyoal LGBT, saya jadi teringat penjelasan dari salah seorang Senior Specialist dan Neuroscientist dari Universitas California, Amerika Serikat, Dr. Taruna Ikrar, M.D. M. Pharm., Ph.D. yang beberapa waktu lalu artikelnya sempat dimuat di laman republika.co.id (20/02). Beliau menjelaskan bahwa orientasi seksual seseorang bisa saja dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang teradap lawan jenisnya. “Cara berpikir dan orientasi seksual seseorang, sangat dipengaruhi oleh pola pikirnya – yang tentu saja akan menentukan hubungan antara sel-sel saraf otak (sinaps) seseorang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Taruna menjelaskan bahwa artinya, apabila pola pikir seseorang dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman seseorang terhadap jenis tertentu, ataupun akibat trauma tertentu, maka secara neuroplastisitas akan terstruktur hubungan tertentu di otak. Neuroplastisitas sendiri adalah kapasitas sistem saraf untuk mengubah struktur dan fungsinya sebagai reaksi terhadap keragaman lingkungan. Pada akhirnya akan menyebabkan seseorang suka pada jenis orientasi seksual tertentu – yang boleh jadi kesukaannya bertentangan dengan pemahaman manusia normal secara umum yang lazim (disorientasi seksual).

Hubungannya dengan cerita saya di awal tadi adalah tentang bahayanya, Bahayanya bukan hanya pada si pelaku, tapi juga bahaya sosial yang bisa saja menimpa orang-orang yang yang telah terlanjur melihat ‘keganjilan sosial’ yang nyata, baik itu melalui penglihatan langsung, media televisi, media cetak, ataupun media online. Bahaya itu bisa saja menjadi stigma negatif yang akan meracuni otak-otak masyarakat kita. Saking seringnya masyarakat kita disuguhkan dengan berbagai macam fenomena langsung yang ada ataupun siaran-siaran tentang LGBT dan segala tetek bengeknya, masyarakat justru semakin marasa bete dan dikhawatirkan LGBT bisa menjadi sesuatu yang dibenarkan oleh masyarakat itu sendiri, dan Pembenaran itu semacam menjadi neurotransmitter yang dalam sistem syaraf berperan sebagai perantara impuls listrik dan kimiawi yang menghubungkan antar sinaps. Padahal, jika terjadi gangguan pada neurotransmitter, bisa saja menyebabkan reaksi abnormal pada seseorang, termasuk disorientasi seksual.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis, paling tidak kita bisa mengantisipasinya melalui dua hal, yaitu: Pertama, bagi masyarakat kita pada umumnya, sebaiknya kita bisa bersikap se-selektif dan se-protektif mungkin terhadap fenomena-fenomena macam LGBT. Kedua, bagi semua media, tetaplah patuhi UU yang berlaku, seperti UU penyiaran Pasal 5 nomor 23 tahun 2002, juga tetaplah patuhi P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran). Karena bagaimanapun, media adalah sebagai society of social control yang seharusnya bertanggungjawab untuk menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai positif masyarakat serta jati diri bangsa. Jangan sampai masyarakat menjadi bete hanya karena media. Jika masyarakat bete, urusan bisa tambah berabe.

Bete tambah kere
Dari sudut pandang manapun, LGBT tetaplah tidak bisa dibenarkan. Bagi sebagian orang yang memperjuangkan kebenaran LGBT, mereka berdalih bahwa pelarangan terhadap LGBT adalah pelanggaran HAM, pengekangan terhadap kebebasan. Sungguh inilah suatu pembelaan yang kere, miskin. Miskin pengetahuan, miskin pandangan, dan terlebih miskin moral.

Mereka mungkin lupa kalau kebebasan tidaklah hanya sebatas kebebasan berkeinginan (free will), kebebasan memilih (free choice), dan juga kebebasan beraksi (free act). Kebebasan bertanggungjawab pun seharusnya tetap diproritaskan. Kebebasan bertanggungjawab dipilih tentu berkaitan dengan pilihan hierarki nilai tertinggi yang diputuskan oleh seseorang, dan nilai tertinggi berkaitan dengan pilihan-pilihan moral yang dipertanggunjawabkan, baik itu secara norma hukum, agama, sosial, akal sehat. Tetapi sayangnya, LGBT sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan. Sungguh parah.

Kere mental tape

Ibarat tape, LGBT bisa diibaratkan demikian. Tape adalah makanan yang lembek, mudah hancur. Begitu pula LGBT. Perilaku LGBT adalah mental tape, lembek, tak punya landasan yang tak bisa dibenarkan dari segi manapun, maka, wajar saja jika pada akhirnya mudah sekali hancurnya.

Juga bagi sebagian orang, tape adalah makanan yang enak. Akan tetapi lama-kelamaan, jika dibiarkan saja, tape bisa menjadi makanan yang mematikan dan memabukkan. Jika sudah begitu, semua orang pasti akan menjauhinya. Begitu juga dengan LGBT, bagi sebagian orang yang pro-LGBT, awalnya mereka merasa menikmatinya, tetapi lama-kelamaan mereka akan semakin dijauhi orang lain, jauh dari kebenaran religius dan nilai-nilai moral. Lambat laun, para pelaku LGBT akan terhakimi atas kesalahannya, dan tentu saja akan dilaknat seperti para Kaum Nabi Luth di Kota Sodom dahulu kala – yang telah diceritakan dalam Al-Qur’an.

Jadi, masih mau membenarkan LGBT? Masih mau memiliki mental lembek? Masih mau jauh dari nilai-nilai kebenaran? Masih pengen kere pandangan, kere moral, kere pengetahuan?. Pikirkan! Itu saja.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *