Yogyakarta Dalam Cerita : Saksi Bisu Kejayaan Mataram

Oleh: Norma Ayu S – Universitas Sebelas Maret.

Semua hal yang terpampang nyata dalam Yogyakarta seolah ingin berbicara. Menelusuri kampung halaman yang memberikan banyak cerita. Berbicara tentang kampung halaman memang tak akan ada habisnya.

Banyak orang yang datang ke Jogja ingin melihat wajah asli kota sebenarnya. Melihat kesederhanaan hidup ala orang Jogja yang diberitakan banyak media. Sekitaran Malioboro atau pusat kota tentu tak bisa memberikannya. Perlu bergeser sedikit lebih jauh untuk menemukannya. Kotagede, museum hidup sejarah kejayaan Mataram.

Kesan kesederhanaan sangat tampak jika kita mengunjugi daerah ini. Atmosfir “alon-alon waton kelakon” sangat mudah dirasakan ketika kita memasuki wilayah ini. Kompleks perkampungan, jalanan, gang sempit, masjid Kotagede, bahkan makam raja-raja terlihat sangat sederhana tetapi mencerminkan kejayaan masa lalu. Seperti diketahui bersama, Kotagede merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam.

Letak Kotagede 5 km kearah tenggara dari Keraton Yogyakarta. Luasnya sekitar 20 km persegi. Wilayah ini hanya memiliki beberapa jalan utama saja. Disamping jalan utama terdapat banyak gang dan beberapa rumah bergaya Jawa Kolonial yang umurnya seratus tahun lebih. Pusat aktivitas di wilayah ini berada di Pasar Gede, utara makam raja-raja pendiri Mataram. Legi, hari dalam penanggalan Jawa, merupakan hari pasaran di Sargede. Maksudnya ramainya pasar ini.

Para wanita biasanya menjual dagangannya di pasar ini, sedangkan kaum bapak biasanya membeli ayam atau hanya sekedar mendengar kicauan burung atau melihat-lihat batu akik. Kemacetan yang terjadi biasanya malah digunakan para pengunjung pasar untuk bertukar cerita, sendau gurau, atau saling memberikan informasi. Ini dikarenakan para pengunjung sudah saling mengenal satu sama lain. Bila mereka bertemu orang baru (contohnya : penulis) mereka akan langsung dengan ramah menyapa. Interaksi yang sudah jarang terjadi dibeberapa pasar.

Melangkahkan kaki 100 meter dari pasar ke selatan, kita akan memasuki sisa-sisa peninggalan Mataram. Bangunan keraton memang sudah tidak ada namun terdapat makam para pendiri kerajaan Mataram dan keluarganya yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura yang berada pada makam juga masih kental akan arsitektur Hindu. Disebelah timur, terdapat sebuah Masjid dengan gaya arsitektur Jawa yang memiliki halaman yang luas. Sebelah selatan makam terdapat sendang yang ketika kemarau melanda tak pernah surut.

Ke arah Barat, bangunan rumah-rumah bergaya arsitektur Eropa dan kebudayaan lainnya juga menjulang tinggi. Kata penduduk setempat, dahulunya ini milik kaum Kalang, pendatang yang menikmati kerja keras dari usahanya di Kotagede. Kerah utara pasar menyusuri jalan Kemasan. Mayoritas Masyarakat Kotagede berprofesi sebagai pengrajin dan pedagang cinderamata perak.

Berjalan sedikit lagi ke selatan. Kita bisa melihat 3 pohon beringin berada tepat di tengah jalan. Ditengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan “watu gilang” sebuah batu yang berbentuk bujur sangkar dan permukaannya bertuliskan sesuatu yang penulis juga kurang paham maksudnya. Dalam bangunan itu juga terdapat “watu cantheng”, tiga batu yang terbuat dari kuning-kuningan. Ada pula, benteng lengkap dengan parit pertahanan keraton yang dibangun oleh Panembahan Senopati.

Sejujurnya masih banyak pula, beberapa kejayaan masa lalu yang berkembang di Nusantara. Sedikit wawasan sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam di Pulau Jawa. Selain itu, kita bisa juga menikmati keramahan masyarakat yang ratusan silam berada di dalam benteng yang kokoh. Kejayaan itu dapat dijadikan motivasi bagi generasi muda dan kesalahan masa lalu bisa dijadikan pembelajaran untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik dimasa depan.

“Elingo sabdane Sri Sultan Hamengkubuwono kaping songo

Sak duwur-duwure sinau dewe tetep dadi wong jawa

Diumpamakne kacang kang ora ninggal lanjaran

Marang bumi sing nglahirake dewe tansah kelingan” – lirik lagu Jogja Istimewa dari Jogja Hiphop Foundation

 

Maksud dari lirik tersebut mengatakan, bahwa setinggi-tinggi kita menuntut ilmu, kita tetap orang Jawa. Tapi penulis lebih sepakat kalau “setinggi-tinggi kita menuntut ilmu, kita tetap orang Indonesia”. Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke hanya sebagai jalan. Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana ataupun dari suku mana.Tapi kita bisa memilih bisa berbuat apa untuk Indonesia?

Beginilah kegiatan yang penulis lakukan ketika liburan. Melakukan beberapa perjalanan di Yogyakarta untuk menambah wawasan sejarah pada museum hidup di Yogyakarta.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *